Jejaring Intelektual Spiritual
Kita hari ini adalah bagian dari jejaring dengan
orang-orang sebelum kita. Para pendahulu, sadar atau tidak, telah mewariskan
banyak hal kepada generasi seterusnya. Tanpa para pendahulu, tidak akan ada kita
hari ini.
Aspek ini penting diketahui dan disadari. Diketahui
karena memang ada silsilah—intelektual dan spiritual—yang semestinya diketahui
dari generasi ke generasi. Ini tidak boleh dilupakan. Disadari agar pengetahuan
menjadi basis untuk transformasi diri.
Merupakan sebuah kenaifan manakala generasi penerus
tidak tahu siapa pendahulunya. Tentu di sini diperlukan upaya-upaya agar ada
ketersambungan. Ziarah bersama merupakan hal yang bisa menjembatani gap antar
generasi.
Antropolog Cliffort Geertz pernah menulis tentang
apa yang disebutnya sebagai web of significance atau jejaring
signifikansi. Konteks pendapat Geertz adalah budaya merupakan jaringan makna
yang kompleks dan saling terkait dari makna-makna yang dirangkai manusia.
Meski mungkin bisa diperdebatkan, tradisi ziarah
sebagaimana yang dilakukan alumni PMII pada 12 April 2026 lalu bisa diposisikan
sebagai jejaring signifikansi. Ziarah ke makam muassis dan juga doa rutin yang
dilakukan setiap malam jumat merupakan tradisi yang terbangun melalui mekanisme
yang tidak sederhana. Ada dialektika, proses, dan konstruksi dinamis dari waktu
ke waktu.
Bertemu untuk kemudian melakukan ziarah ke makam
beberapa tokoh memiliki makna yang sangat penting. Ini bukan sekadar perjalanan
biasa. Ini perjalanan spiritual yang menyambungkan antar generasi sekaligus
penanda bahwa relasi antar generasi terus terawatt meski fisik telah terpisah.
Ratusan peserta pukul 07.00 WIB telah berkumpul di
pintu gerbang UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Mereka adalah alumni
lintas generasi. Juga aktivis PMII yang sedang menempa diri sebagai mahasiswa.
Di bawah komando Ketua IKA PMII Tulungagung, H.
Khoirudin, peserta berangkat mengendarai sepeda motor andalan masing-masing.
Fajar Hidayat dengan sepeda motor hitamnya menjadi Voorijder (VO).
Tujuan pertama adalah Wisata Gurami Seduri Wonodadi.
Owner tempat ini, Imam Nawawi, adalah Ketua Cabang PMII Tulungagung periode
awal 1990-an. Di tempat ini kami berkumpul untuk mengisi amunisi: sarapan pagi.
Sarapan dan berbincang di tengah sinar mentari yang
mulai beranjak naik sungguh nikmat tak terkira. Ini merupakan momentum mahal. Momentum
di mana kami yang pernah berproses di PMII dalam generasi berbeda berkumpul
dalam spirit yang sama.
Belum tentu setahun sekali terulang. Diceritakan
atau ditulis tidak akan bisa menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Meski,
tentu saja, tulisan dan gambar akan menjalankan fungsi informatif. Namun
keterlibatan emosional tidak akan dirasakan karena tidak ikut dalam kegiatan.
Waktu beranjak siang. Kami pamit untuk melanjutkan
perjalanan. Tujuan berikutnya adalah makam Prof. Dr. KH. Achmad Patoni, M.Ag.
Lokasi makam beliau ada di Desa Kandangan Kecamatan Srengat Blitar. Lokasinya
persis di selatan balai desa.
Kami duduk di beberapa tempat. Acara dibuka oleh
Ketua IKA PMII Tulungagung, H. Koirudin. Selanjutnya pembacaan tahlil dipimpin
oleh Yudi Sunarko, alumni yang berasal dari Panggul Trenggalek. Sementara saya
kebagian memimpin doa.
Tahlil dan doa berlangsung dengan khusyuk. Tetiba
ingatan melayang ke Almarhum Prof. Patoni. Orangnya sangat bijaksana. Banyak
teladan dan nasihat yang beliau berikan.
Kini, beliau telah berpulang. Di atas pusaranya kami
berdoa. Ini, bagi saya, adalah sarana untuk evaluasi diri. Silaturrahmi,
sepanjang mungkin, harus dilakukan karena ketika kita berpulang, kita tidak
bisa melakukannya lagi. Kita juga tidak lagi memiliki kemampuan untuk
dikunjungi. Pasif. Sunyi. Tergantung takdir.
Doa usai. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke
tujuan kedua, yaitu makam KH. Moh. Fadlol. Jarak antara Desa Kandangan menuju
Desa Wates Sumbergempol yang menjadi tempat tujuan kedua ini cukup jauh.
Berdasarkan informasi google map, jaraknya 28 kilometer.
Makam KH. Moh. Fadol ada satu area dengan makam
Habib Ahmad bin Salim al-Muhdor. Tepatnya di samping masjid Pondok Pesantren
Al-Khoiriyah. Saat saya datang, putra-putra Almarhum KH. Moh. Fadol sudah di
sana. Mereka menyambut kedatangan kami.
Satu demi satu kawan-kawan berdatangan. Setelah
dirasa cukup dilakukan pembacaan tahlil. Kali ini dipimpin oleh H. Muhammad
Abdul Fatah Masrun. Kami larut dalam doa bersama.
KH. Moh. Fadol adalah Ketua PMII Cabang Tulungagung
di awal 1980-an. Tidak banyak—atau bahkan tidak ada—dari peserta yang ikut
kegiatan ini yang menyaksikan beliau menjadi ketua cabang. Namun kami terhubung
oleh organisasi yang sama. Keterhubungan yang harus terus dirawat dengan doa
sebagai bentuk menyambungkan jejaring spiritual.
Tujuan berikutnya adalah ke Makam Sentono Serut
Kauman. Di makam ini ada beberapa tokoh, antara lain Mbah Wali Sayuti, KH.
Arief Mustaqim, dan KH. Muhadi Latief. Secara spesifik, KH. Muhadi Latief
adalah tokoh yang mewakafkan tanahnya untuk kantor PC PMII Tulungagung.
Masih ingat betul bagaimana beliau ngopeni kami
para pengurus PMII Cabang Tulungagung. Setiap ramadan, jatah buka bersama
diminta mengambil di ndalem beliau. Bayangkan, sudah diberi tempat
gratis. Diberi konsumsi lagi.
Semasa hidup, KH. Muhadi Latief memiliki perhatian
yang besar terhadap PMII dan para aktivitasnya. Perhatian tersebut mencakup
banyak hal, mulai dari hal remeh-temeh, persoalan keseharian, kuliah, hingga
perjodohan. Ini menunjukkan bagaimana totalitas beliau terhadap PMII dan para
aktivitasnya.
Kami datang di lokasi ini bertepatan dengan waktu shalat
dhuhur. Jadi kami shalat berjamaah terlebih dulu baru kemudian melantunkan
tahlil. Usai berdoa, kami istirahat. Ada banyak camilan yang tersedia. Dominan real
food seperti ketela rebus, pisang, dan sejenisnya. Menu tepat untuk usia
yang mulai menua dan waktu tepat karena cacing di perut mulai demonstrasi
melakukan gerakan tak terkendali.
Cukup lama kami beristirahat santai dan berbincang. Satu
demi satu jajanan mulai tandas. Minuman juga terlihat habis. Kami pun segera
bergerak menuju tujuan selanjutnya.
Tujuan keempat adalah makam Prof. Dr. Akhyak, M.Ag
yang ada di Pondok Modern Darul Akhwan Desa Kendal Kecamatan Gondang. Sebagai tujuan
akhir ternyata ada tambahan peserta. Secara kasar bisa disebut jika jumlah
peserta mencapai kisaran 200 orang.
Begitu datang kami langsung ke makam untuk membaca
tahlil. Panasnya matahari tidak mengurangi semangat berdoa.
Usai berdoa kami makan siang bersama yang telah
disediakan oleh Prof. Dr. Sokip dan Dr. Soim. Keakraban sangat terasa. Jarak antar
generasi terjembatani melalui diskusi dan komunikasi.
Usai makan, Dr. Soim berkisah tentang apa, mengapa,
dan bagaimana relasi Prof. Dr. Akhyak dengan PMII. Sungguh sebuah jamuan yang
lengkap antara konsumsi, komunikasi, dan jejaring spiritual.
Tulungagung,
21-4-2026

Tidak ada komentar: