Jejaring Intelektual Spiritual

April 21, 2026


Ngainun Naim

 

Kita hari ini adalah bagian dari jejaring dengan orang-orang sebelum kita. Para pendahulu, sadar atau tidak, telah mewariskan banyak hal kepada generasi seterusnya. Tanpa para pendahulu, tidak akan ada kita hari ini.

Aspek ini penting diketahui dan disadari. Diketahui karena memang ada silsilah—intelektual dan spiritual—yang semestinya diketahui dari generasi ke generasi. Ini tidak boleh dilupakan. Disadari agar pengetahuan menjadi basis untuk transformasi diri.

Merupakan sebuah kenaifan manakala generasi penerus tidak tahu siapa pendahulunya. Tentu di sini diperlukan upaya-upaya agar ada ketersambungan. Ziarah bersama merupakan hal yang bisa menjembatani gap antar generasi.

Antropolog Cliffort Geertz pernah menulis tentang apa yang disebutnya sebagai web of significance atau jejaring signifikansi. Konteks pendapat Geertz adalah budaya merupakan jaringan makna yang kompleks dan saling terkait dari makna-makna yang dirangkai manusia.

Meski mungkin bisa diperdebatkan, tradisi ziarah sebagaimana yang dilakukan alumni PMII pada 12 April 2026 lalu bisa diposisikan sebagai jejaring signifikansi. Ziarah ke makam muassis dan juga doa rutin yang dilakukan setiap malam jumat merupakan tradisi yang terbangun melalui mekanisme yang tidak sederhana. Ada dialektika, proses, dan konstruksi dinamis dari waktu ke waktu.

Bertemu untuk kemudian melakukan ziarah ke makam beberapa tokoh memiliki makna yang sangat penting. Ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ini perjalanan spiritual yang menyambungkan antar generasi sekaligus penanda bahwa relasi antar generasi terus terawatt meski fisik telah terpisah.

Ratusan peserta pukul 07.00 WIB telah berkumpul di pintu gerbang UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Mereka adalah alumni lintas generasi. Juga aktivis PMII yang sedang menempa diri sebagai mahasiswa.

Di bawah komando Ketua IKA PMII Tulungagung, H. Khoirudin, peserta berangkat mengendarai sepeda motor andalan masing-masing. Fajar Hidayat dengan sepeda motor hitamnya menjadi Voorijder (VO).

Tujuan pertama adalah Wisata Gurami Seduri Wonodadi. Owner tempat ini, Imam Nawawi, adalah Ketua Cabang PMII Tulungagung periode awal 1990-an. Di tempat ini kami berkumpul untuk mengisi amunisi: sarapan pagi.

Sarapan dan berbincang di tengah sinar mentari yang mulai beranjak naik sungguh nikmat tak terkira. Ini merupakan momentum mahal. Momentum di mana kami yang pernah berproses di PMII dalam generasi berbeda berkumpul dalam spirit yang sama.

Belum tentu setahun sekali terulang. Diceritakan atau ditulis tidak akan bisa menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Meski, tentu saja, tulisan dan gambar akan menjalankan fungsi informatif. Namun keterlibatan emosional tidak akan dirasakan karena tidak ikut dalam kegiatan.

Waktu beranjak siang. Kami pamit untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah makam Prof. Dr. KH. Achmad Patoni, M.Ag. Lokasi makam beliau ada di Desa Kandangan Kecamatan Srengat Blitar. Lokasinya persis di selatan balai desa.

Kami duduk di beberapa tempat. Acara dibuka oleh Ketua IKA PMII Tulungagung, H. Koirudin. Selanjutnya pembacaan tahlil dipimpin oleh Yudi Sunarko, alumni yang berasal dari Panggul Trenggalek. Sementara saya kebagian memimpin doa.

Tahlil dan doa berlangsung dengan khusyuk. Tetiba ingatan melayang ke Almarhum Prof. Patoni. Orangnya sangat bijaksana. Banyak teladan dan nasihat yang beliau berikan.

Kini, beliau telah berpulang. Di atas pusaranya kami berdoa. Ini, bagi saya, adalah sarana untuk evaluasi diri. Silaturrahmi, sepanjang mungkin, harus dilakukan karena ketika kita berpulang, kita tidak bisa melakukannya lagi. Kita juga tidak lagi memiliki kemampuan untuk dikunjungi. Pasif. Sunyi. Tergantung takdir.

Doa usai. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke tujuan kedua, yaitu makam KH. Moh. Fadlol. Jarak antara Desa Kandangan menuju Desa Wates Sumbergempol yang menjadi tempat tujuan kedua ini cukup jauh. Berdasarkan informasi google map, jaraknya 28 kilometer.

Makam KH. Moh. Fadol ada satu area dengan makam Habib Ahmad bin Salim al-Muhdor. Tepatnya di samping masjid Pondok Pesantren Al-Khoiriyah. Saat saya datang, putra-putra Almarhum KH. Moh. Fadol sudah di sana. Mereka menyambut kedatangan kami.

Satu demi satu kawan-kawan berdatangan. Setelah dirasa cukup dilakukan pembacaan tahlil. Kali ini dipimpin oleh H. Muhammad Abdul Fatah Masrun. Kami larut dalam doa bersama.

KH. Moh. Fadol adalah Ketua PMII Cabang Tulungagung di awal 1980-an. Tidak banyak—atau bahkan tidak ada—dari peserta yang ikut kegiatan ini yang menyaksikan beliau menjadi ketua cabang. Namun kami terhubung oleh organisasi yang sama. Keterhubungan yang harus terus dirawat dengan doa sebagai bentuk menyambungkan jejaring spiritual.

Tujuan berikutnya adalah ke Makam Sentono Serut Kauman. Di makam ini ada beberapa tokoh, antara lain Mbah Wali Sayuti, KH. Arief Mustaqim, dan KH. Muhadi Latief. Secara spesifik, KH. Muhadi Latief adalah tokoh yang mewakafkan tanahnya untuk kantor PC PMII Tulungagung.

Masih ingat betul bagaimana beliau ngopeni kami para pengurus PMII Cabang Tulungagung. Setiap ramadan, jatah buka bersama diminta mengambil di ndalem beliau. Bayangkan, sudah diberi tempat gratis. Diberi konsumsi lagi.

Semasa hidup, KH. Muhadi Latief memiliki perhatian yang besar terhadap PMII dan para aktivitasnya. Perhatian tersebut mencakup banyak hal, mulai dari hal remeh-temeh, persoalan keseharian, kuliah, hingga perjodohan. Ini menunjukkan bagaimana totalitas beliau terhadap PMII dan para aktivitasnya.

Kami datang di lokasi ini bertepatan dengan waktu shalat dhuhur. Jadi kami shalat berjamaah terlebih dulu baru kemudian melantunkan tahlil. Usai berdoa, kami istirahat. Ada banyak camilan yang tersedia. Dominan real food seperti ketela rebus, pisang, dan sejenisnya. Menu tepat untuk usia yang mulai menua dan waktu tepat karena cacing di perut mulai demonstrasi melakukan gerakan tak terkendali.

Cukup lama kami beristirahat santai dan berbincang. Satu demi satu jajanan mulai tandas. Minuman juga terlihat habis. Kami pun segera bergerak menuju tujuan selanjutnya.

Tujuan keempat adalah makam Prof. Dr. Akhyak, M.Ag yang ada di Pondok Modern Darul Akhwan Desa Kendal Kecamatan Gondang. Sebagai tujuan akhir ternyata ada tambahan peserta. Secara kasar bisa disebut jika jumlah peserta mencapai kisaran 200 orang.

Begitu datang kami langsung ke makam untuk membaca tahlil. Panasnya matahari tidak mengurangi semangat berdoa.

Usai berdoa kami makan siang bersama yang telah disediakan oleh Prof. Dr. Sokip dan Dr. Soim. Keakraban sangat terasa. Jarak antar generasi terjembatani melalui diskusi dan komunikasi.

Usai makan, Dr. Soim berkisah tentang apa, mengapa, dan bagaimana relasi Prof. Dr. Akhyak dengan PMII. Sungguh sebuah jamuan yang lengkap antara konsumsi, komunikasi, dan jejaring spiritual.

 

Tulungagung, 21-4-2026


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.