Menulis, Imajinasi, dan Kreativitas

April 13, 2026


Ngainun Naim

 

Menulislah. Bahwa tulisan pertama jelek, alurnya jungkir balik, tata bahasanya babak belur, nggak apa-apa. Semua penulis profesional juga sama seperti itu. Tak ada yang abracadabra sekali nulis langsung jadi (Kang Maman: 2020, 10).

 

Kutipan pendapat aktivis literasi Indonesia, Kang Maman, dalam pembuka tulisan ini terasa penting untuk menjadi bahan renungan bersama dalam rangka membangun budaya menulis. Tidak ada orang yang pertama kali menulis langsung baik. Menulis itu dunia proses. Pada awalnya tulisan yang dihasilkan mungkinn kurang baik. Namun seiring waktu, asal terus berlatih, tulisan yang dihasilkan akan semakin baik.

Keberanian menjadi kunci penting untuk menulis. Banyak orang yang ingin menulis tetapi takut memulai, takut dicaci, takut tulisannya jelek, dan berbagai bentuk takut lainnya. Padahal menulis itu merupakan aktualisasi dari keberanian.

Persoalannya, keberanian yang dimiliki oleh setiap orang itu tidak sama. Ada yang keberaniannya tinggi, sedang, rendah, dan bahkan tidak berani sama sekali. Pada titik inilah penciptaan kondisi yang mendorong pada tumbuh dan berkembangnya keberanian menulis sangat penting.

Di antara pencipta kondisi yang potensial adalah lembaga pendidikan. Hal ini disebabkan karena ada banyak faktor yang memungkinkan bagi tumbuh suburnya budaya membaca dan menulis. Ada kebijakan, guru, siswa, sarana prasarana, dan berbagai faktor lainnya.

Persoalannya, sebagaimana analisis Hernowo (2004: 101), proses pembelajaran di sekolah kebanyakan lebih menitikberatkan pada penyampaian materi (what) dibandingkan memberikan cara (how). Para pengajar sibuk dengan kegiatan yang bersifat penjejalan dibandingkan dengan pemberdayaan. Akibatnya, para pembelajar sulit untuk mendapatkan waktu untuk merenungkan materi-materi yang telah dijejalkan kepada mereka. Untuk mengubah keadaan yang tidak menguntungkan bagi siswa atau guru ini, perlu disadari bersama bahwa ilmu tidak dapat ditransfer. Ilmu hanya dapat berpindah dari kepemilikan seseorang kepada kepemilikan orang lain jika dikonstruksi atau dibangun sendiri oleh si pencari ilmu. Di sini terlihat bahwa cara (how) untuk membangun ilmu itu sangat penting. Salah satu cara yang efektif untuk menjawab tentang cara itu adalah menulis.

Dunia membaca dan menulis sesungguhnya cukup potensial untuk ditumbuhkembangkan di sekolah. Semakin awal dikondisikan semakin bagus.

Menulis memang bukan yang hal mudah untuk dibudayakan. Pengalaman personal saya menunjukkan bahwa keterampilan menulis yang saya miliki tidak berbasis pada pendidikan formal. Bisa dikatakan saya belajar menulis secara otodidak. Saya mencoba, gagal, mencoba, gagal, dan terus mencoba. Aktivitas ini mungkin dilakukan karena saya memiliki ide untuk ditulis dan ditopang oleh aktivitas membaca. Sebagaimana dinyatakan oleh Alfian (2016: 12), penulis adalah mereka yang membaca sesuatu dan terpicu untuk menuliskannya.

Ini berarti menulis harus ditopang oleh tradisi membaca. Kecil kemungkinannya orang bisa menulis yang baik jika tidak pernah membaca. Membaca tidak hanya berkaitan dengan teks. Membaca itu bisa juga berkaitan dengan fenomena. Membaca fenomena bukan sebatas memberikan ilmu tetapi juga memperkaya jiwa (Arifin: 2013).

Akumulasi dari bacaan akan memperkaya inspirasi. Inspirasi dapat membawa orang dari kegelapan menuju alam terang, dari kemandegan berpikir menuju kecerahan untuk mencipta. Inspirasi dapat membawa manusia menuju masa depan yang lebih baik dalam kehidupannya. Tidak jarang kita menjumpai kebuntuan sehingga tidak tahu apa yang akan kita lakukan untuk mengisi hidup ini. Inspirasi seolah membawa kita kepada keadaan baru, alam baru, dengan kreativitas baru. Seseorang yang kaya imajinasi, kaya inspirasi, tidak akan sempat menjadi pemalas dan penganggur (Pranoto: 2011, 9-10).

Ini mengingatkan saya pada apa yang pernah ditulis Gong (2006: 64) yang menegaskan signifikansi inspirasi dalam mengolah kata. Dengan kata, kita bisa menggenggam dunia; sekaligus dengan isinya. Gong menulis bahwa ia pernah sekarat oleh kekuatan kata. Akibatnya, mak dan bapaknya dibuat repot pula oleh kata. Kata membuat anaknya luka. Bahkan, karena kekuatan kata pulalah, rumah yang kini ia tempati bersama istri dan ketiga anaknya bisa berdiri megah.

 

Tulungagung, 13 April 2026

Daftar Bacaan

Antoni Ludfi Arifin. (2013). Be A Reader. Jakarta: Gramedia.

Hernowo. (2004). Self Digesting, “Alat” Menjelajahi dan Mengurai Diri. Bandung: MLC.

Kang Maman. (2020). Aku Menulis Maka Aku Ada. Yogyakarta: IRCiSoD.

M. Alfan Alfian. (2016). Bagaimana Saya Menulis. Bekasi: Penjuru Ilmu Sejati.

Naning Pranoto. (2011). 24 Jam Memahami Creative Writing. Yogyakarta: Kanisius. 


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.