Menulis, Imajinasi, dan Kreativitas
Menulislah. Bahwa
tulisan pertama jelek, alurnya jungkir balik, tata bahasanya babak belur, nggak
apa-apa. Semua penulis profesional juga sama seperti itu. Tak ada yang
abracadabra sekali nulis langsung jadi (Kang Maman: 2020, 10).
Kutipan pendapat aktivis literasi Indonesia, Kang Maman, dalam
pembuka tulisan ini terasa penting untuk menjadi bahan renungan bersama dalam
rangka membangun budaya menulis. Tidak ada orang yang pertama kali menulis
langsung baik. Menulis itu dunia proses. Pada awalnya tulisan yang dihasilkan mungkinn
kurang baik. Namun seiring waktu, asal terus berlatih, tulisan yang dihasilkan
akan semakin baik.
Keberanian menjadi kunci penting untuk menulis. Banyak
orang yang ingin menulis tetapi takut memulai, takut dicaci, takut tulisannya
jelek, dan berbagai bentuk takut lainnya. Padahal menulis itu merupakan
aktualisasi dari keberanian.
Persoalannya, keberanian yang dimiliki oleh setiap orang
itu tidak sama. Ada yang keberaniannya tinggi, sedang, rendah, dan bahkan tidak
berani sama sekali. Pada titik inilah penciptaan kondisi yang mendorong pada
tumbuh dan berkembangnya keberanian menulis sangat penting.
Di antara pencipta kondisi yang potensial adalah lembaga
pendidikan. Hal ini disebabkan karena ada banyak faktor yang memungkinkan bagi
tumbuh suburnya budaya membaca dan menulis. Ada kebijakan, guru, siswa, sarana
prasarana, dan berbagai faktor lainnya.
Persoalannya, sebagaimana analisis Hernowo (2004: 101), proses
pembelajaran di sekolah kebanyakan lebih menitikberatkan pada penyampaian
materi (what) dibandingkan memberikan cara (how). Para pengajar
sibuk dengan kegiatan yang bersifat penjejalan dibandingkan dengan
pemberdayaan. Akibatnya, para pembelajar sulit untuk mendapatkan waktu untuk
merenungkan materi-materi yang telah dijejalkan kepada mereka. Untuk mengubah
keadaan yang tidak menguntungkan bagi siswa atau guru ini, perlu disadari
bersama bahwa ilmu tidak dapat ditransfer. Ilmu hanya dapat berpindah dari
kepemilikan seseorang kepada kepemilikan orang lain jika dikonstruksi atau
dibangun sendiri oleh si pencari ilmu. Di sini terlihat bahwa cara (how)
untuk membangun ilmu itu sangat penting. Salah satu cara yang efektif untuk
menjawab tentang cara itu adalah menulis.
Dunia membaca dan menulis sesungguhnya cukup potensial
untuk ditumbuhkembangkan di sekolah. Semakin awal dikondisikan semakin bagus.
Menulis memang bukan yang hal mudah untuk dibudayakan.
Pengalaman personal saya menunjukkan bahwa keterampilan menulis yang saya
miliki tidak berbasis pada pendidikan formal. Bisa dikatakan saya belajar
menulis secara otodidak. Saya mencoba, gagal, mencoba, gagal, dan terus
mencoba. Aktivitas ini mungkin dilakukan karena saya memiliki ide untuk ditulis
dan ditopang oleh aktivitas membaca. Sebagaimana dinyatakan oleh Alfian (2016:
12), penulis adalah mereka yang membaca sesuatu dan terpicu untuk
menuliskannya.
Ini berarti menulis harus ditopang oleh tradisi membaca.
Kecil kemungkinannya orang bisa menulis yang baik jika tidak pernah membaca. Membaca tidak hanya berkaitan dengan teks. Membaca itu
bisa juga berkaitan dengan fenomena. Membaca fenomena bukan sebatas memberikan
ilmu tetapi juga memperkaya jiwa (Arifin: 2013).
Akumulasi
dari bacaan akan memperkaya inspirasi. Inspirasi dapat membawa orang dari
kegelapan menuju alam terang, dari kemandegan berpikir menuju kecerahan untuk
mencipta. Inspirasi dapat membawa manusia menuju masa depan yang lebih baik
dalam kehidupannya. Tidak jarang kita menjumpai kebuntuan sehingga tidak tahu
apa yang akan kita lakukan untuk mengisi hidup ini. Inspirasi seolah membawa
kita kepada keadaan baru, alam baru, dengan kreativitas baru. Seseorang yang
kaya imajinasi, kaya inspirasi, tidak akan sempat menjadi pemalas dan
penganggur (Pranoto: 2011, 9-10).
Ini mengingatkan saya pada apa yang pernah ditulis Gong
(2006: 64) yang menegaskan signifikansi inspirasi dalam mengolah kata. Dengan
kata, kita bisa menggenggam dunia; sekaligus dengan isinya. Gong menulis bahwa
ia pernah sekarat oleh kekuatan kata. Akibatnya, mak dan bapaknya dibuat repot
pula oleh kata. Kata membuat anaknya luka. Bahkan, karena kekuatan kata
pulalah, rumah yang kini ia tempati bersama istri dan ketiga anaknya bisa
berdiri megah.
Tulungagung, 13 April 2026
Daftar Bacaan
Antoni Ludfi Arifin. (2013). Be A Reader. Jakarta:
Gramedia.
Hernowo. (2004). Self
Digesting, “Alat” Menjelajahi dan Mengurai Diri. Bandung: MLC.
Kang Maman. (2020). Aku
Menulis Maka Aku Ada. Yogyakarta: IRCiSoD.
M. Alfan Alfian.
(2016). Bagaimana Saya Menulis. Bekasi: Penjuru Ilmu Sejati.
Naning Pranoto.
(2011). 24 Jam Memahami Creative Writing. Yogyakarta: Kanisius.

Tidak ada komentar: