Sumur Bersejarah
Ngainun Naim
Sumber gambar: https://ihram.republika.co.id/berita/p1uyle385/sumur-ha-sumur-rasullah-di-dalam-masjid-nabawi-madinah
Saya beruntung
memiliki teman sesama jamaah haji yang masih muda, yaitu Mas Ibnu Rusadi. Beliau
memiliki kelebihan—antara lain—dalam hal akses informasi.
Mas Ibnu cukup sering
mengakses media sosial. Implikasinya, ia tahu banyak informasi, termasuk
informasi yang tidak banyak diketahui oleh kebanyakan orang.
Salah satu informasi
yang kemudian kami telusuri adalah Sumur Bairuha—sumber lain menyebut
dengan Sumur Ha’—yang ada di dalam Masjid Nabawi. Jika tidak diberitahu
adanya sumur bersejarah tersebut, mungkin sampai kami pulang tidak mengetahui
keberadaannya.
Saya pun menelusuri
informasi terkait sumur ini. Sumber-sumber yang saya temukan menyebut bahwa
awalnya sumur ini merupakan milik Sahabat Abu Thalhah Al-Ansari. Sahabat yang
dikenal sebagai paling kaya dari kalangan Anshar ini memiliki ribuan ternak dan
kebun kurma yang sangat luas.
Kekayaan lainnya
berupa sumur. Dalam konteks sosiologis Masyarakat Arab, sumur merupakan harta
kekayaan yang sangat berharga.
Abu Thalhah memiliki
sumur yang sangat dicintai, yaitu Sumur Ha’. Sumur ini diwakafkan untuk
kepentingan umat Islam.
Seiring perkembangan
zaman, sumur ini tidak bisa lagi dilihat secara langsung. Namun ada penandanya
bagi yang ingin mengetahui, yaitu berada di antara Gerbang Raja Fahd 21 dan 22.
Posisi sumur ditutup karpet. Jadi tidak terlihat dari atas.
Jika ingin mengetahui
kondisinya memang harus menyingkap karpet. Ada tiga lingkaran penandanya.
Bersama beberapa
jamaah haji, kami menelusuri keberadaan sumur itu. Penelusuran kami lakukan
pada 6 Mei 2026.
Usai sarapan pagi
memang belum ada aktivitas ibadah. Kami memanfaatkannya menelusuri jejak sejarah
yang penting.
Bahagia sekali
ternyata kami menemukannya. Sungguh sebuah bukti sejarah yang sangat berarti.
Trenggalek, 18 Juni 2026

Tidak ada komentar: