Hurgronje, Islam, dan Mekah
Selalu ada sisi
tersembunyi yang berpotensi untuk ditelusuti dari sebuah diskusi. Sesuatu yang
kadang tidak kita duga sebelumnya namun dalam dinamika dan perkembangannya
menjadi pemicu yang mendorong untuk menelusuri secara lebih intensif terkait
informasi yang diperoleh dari diskusi.
Salah satu tema yang
perlu ditelusuri lebih jauh adalah tentang apa, mengapa, dan bagaimana
orientalis C. Snouck Hurgronje dan haji.
Titik pijak topik ini
adalah pertanyaan dari Pak Yusuf Setiawan Suardi, teman satu kamar di Hotel
Transit Makah saat menunaikan ibadah haji pada tahun 2026.
Diskusi dengan beliau
cukup asyik. Ada banyak dimensi historis yang memaksa diri untuk menelusuri
secara lebih mendalam. Meskipun, tentu saja, penelusuran literatur baru bisa
saya lakukan setelah kembali ke tanah air.
Pertanyaan spontan
Pak Yusuf yang kritis menjadi petunjuk bahwa beliau adalah seorang pembaca buku
yang kuat. Asumsi ini menemukan pembenarannya ketika beliau menunjukkan buku
bercover hitam putih yang legendaris. Judulnya Haji anggitan Dr. Ali
Syariati, cendekiawan terkemuka Iran.
Pencarian jawaban
atas pancingan Pak Yusuf membawa saya menemukan buku karya Augustus Ralli, Orang
Kristen Naik Haji [Jakarta: Serambi, 2011].
Judul buku ini terasa
provokatif. Ada aneka pertanyaan yang mungkin untuk diajukan. Misalnya,
bagaimana orang Kristen bisa haji? Apakah haji mereka di Mekah atau di mana?
Jika ke Mekah, bagaimana mungkin? Jika bukan di Mekah, kenapa disebut haji?
Deretan pertanyaan
bisa lebih panjang lagi.
Potensi munculnya
pertanyaan demi pertanyaan memang terbuka.
Saya telusuri
ternyata buku ini adalah buku terjemahan. Judul aslinya Cristian at Mecca. Jika
melihat judul asli ini maka bisa jadi pemberian judul terhadap edisi terjemahan
ini sifatnya kontekstual. Bukan terjemahan secara apa adanya dari judul asli.
Buku ini terbit
pertama kali tahun 1909. Bayangkan, lebih seabad lalu. Isinya tidak berjarak
terlalu jauh dari sisi waktu dengan orang-orang yang dikisahkan.
Saya fokus saja pada
bab yang berkisah tentang Christian Snouck Hurgronje yang nama Islamnya Abdul
Gaffar. Sosok kontroversial ini menjadi bagian penting dalam sejarah Islam
Indonesia era kolonial.
Buku ini
mengulas—salah satunya—episode hidup Hurgronje di Mekah.
Hurgronje di Mekah?
Apakah dia Muslim?
Bagaimana bisa?
“Tidak
diketahui apakah dirinya tidak dicurigai sebagai orang Eropa, diterima
sebagai Mualaf atau calon Mualaf yang sengaja berkunjung ke Mekah untuk
mempelajari Islam” [h. 292].
Penting untuk
diketahui bahwa Hurgronje, meskipun orang Belanda, tetapi ahli Islam.
Disertasinya membahas tentang haji yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Ia
berkedudukan sebagai Guru Besar Lembaga-Lembaga Keislaman di Leiden.
Hurgronje merupakan
seorang pembelajar yang serius, khususnya terkait dengan ilmu-ilmu keislaman.
Ia menguasai bahasa Arab secara baik.
Tahun 1884-1885, ia
mendapatkan izin untuk melakukan perjalanan ke Jazirah Arab. Dia tinggal selama
6 bulan di Mekah. Namun sebelum menuju Mekah, ia memperdalam bahasa Arab di
Jeddah selama sekitar 5 bulan.
Sebagai peneliti yang
serius, ia menjelajahi berbagai sudut Mekah secara intensif. Wajar jika
Augustus Ralli menyebut Hurgronje sebagai salah seorang penjelajah Mekah
terbuka.
Ada banyak temuan
Hurgronje. Salah satunya adalah pendapatnya tentang signifikansi pendidikan. Ia
meyakini bahwa pendidikan merupakan sarana efektif untuk pemberdayaan potensi
perempuan [300].
Pikiran Hurgronje ini
kontroversial di masanya. Kultur Mekah ketika itu belum memberikan peluang bagi
perempuan untuk mengakses dimensi publik, termasuk pendidikan.
Aspek lain yang
penting adalah pengakuannya terhadap peranan John Ludwig Burchardt yang
dinilainya menjadi titik pijak bagi buku-buku yang ditulisnya selama di Mekah.
Secara jujur Hurgronje mengakui bahwa tanpa buku-buku yang ditulis oleh
Burchardt, ia tidak bisa berkarya.
Pengakuan semacam ini
secara intelektual cukup penting. Selain menunjukkan kejujuran secara akademik,
pengakuan ini juga menunjukkan posisi Hurgronje dalam konteks topik Mekah di
era itu.
Trenggalek, 11 Juni 2026

Tidak ada komentar: