Hurgronje, Islam, dan Mekah

Juni 11, 2026



Selalu ada sisi tersembunyi yang berpotensi untuk ditelusuti dari sebuah diskusi. Sesuatu yang kadang tidak kita duga sebelumnya namun dalam dinamika dan perkembangannya menjadi pemicu yang mendorong untuk menelusuri secara lebih intensif terkait informasi yang diperoleh dari diskusi.

Salah satu tema yang perlu ditelusuri lebih jauh adalah tentang apa, mengapa, dan bagaimana orientalis C. Snouck Hurgronje dan haji.

Titik pijak topik ini adalah pertanyaan dari Pak Yusuf Setiawan Suardi, teman satu kamar di Hotel Transit Makah saat menunaikan ibadah haji pada tahun 2026.

Diskusi dengan beliau cukup asyik. Ada banyak dimensi historis yang memaksa diri untuk menelusuri secara lebih mendalam. Meskipun, tentu saja, penelusuran literatur baru bisa saya lakukan setelah kembali ke tanah air.

Pertanyaan spontan Pak Yusuf yang kritis menjadi petunjuk bahwa beliau adalah seorang pembaca buku yang kuat. Asumsi ini menemukan pembenarannya ketika beliau menunjukkan buku bercover hitam putih yang legendaris. Judulnya Haji anggitan Dr. Ali Syariati, cendekiawan terkemuka Iran.

Pencarian jawaban atas pancingan Pak Yusuf membawa saya menemukan buku karya Augustus Ralli, Orang Kristen Naik Haji [Jakarta: Serambi, 2011].

Judul buku ini terasa provokatif. Ada aneka pertanyaan yang mungkin untuk diajukan. Misalnya, bagaimana orang Kristen bisa haji? Apakah haji mereka di Mekah atau di mana? Jika ke Mekah, bagaimana mungkin? Jika bukan di Mekah, kenapa disebut haji?

Deretan pertanyaan bisa lebih panjang lagi.

Potensi munculnya pertanyaan demi pertanyaan memang terbuka.

Saya telusuri ternyata buku ini adalah buku terjemahan. Judul aslinya Cristian at Mecca. Jika melihat judul asli ini maka bisa jadi pemberian judul terhadap edisi terjemahan ini sifatnya kontekstual. Bukan terjemahan secara apa adanya dari judul asli.

Buku ini terbit pertama kali tahun 1909. Bayangkan, lebih seabad lalu. Isinya tidak berjarak terlalu jauh dari sisi waktu dengan orang-orang yang dikisahkan.

Saya fokus saja pada bab yang berkisah tentang Christian Snouck Hurgronje yang nama Islamnya Abdul Gaffar. Sosok kontroversial ini menjadi bagian penting dalam sejarah Islam Indonesia era kolonial.

Buku ini mengulas—salah satunya—episode hidup Hurgronje di Mekah.

Hurgronje di Mekah?

Apakah dia Muslim?

Bagaimana bisa?

Tidak diketahui apakah dirinya tidak dicurigai sebagai orang Eropa, diterima sebagai Mualaf atau calon Mualaf yang sengaja berkunjung ke Mekah untuk mempelajari Islam” [h. 292].

 

Penting untuk diketahui bahwa Hurgronje, meskipun orang Belanda, tetapi ahli Islam. Disertasinya membahas tentang haji yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Ia berkedudukan sebagai Guru Besar Lembaga-Lembaga Keislaman di Leiden.

Hurgronje merupakan seorang pembelajar yang serius, khususnya terkait dengan ilmu-ilmu keislaman. Ia menguasai bahasa Arab secara baik.

Tahun 1884-1885, ia mendapatkan izin untuk melakukan perjalanan ke Jazirah Arab. Dia tinggal selama 6 bulan di Mekah. Namun sebelum menuju Mekah, ia memperdalam bahasa Arab di Jeddah selama sekitar 5 bulan.

Sebagai peneliti yang serius, ia menjelajahi berbagai sudut Mekah secara intensif. Wajar jika Augustus Ralli menyebut Hurgronje sebagai salah seorang penjelajah Mekah terbuka.

Ada banyak temuan Hurgronje. Salah satunya adalah pendapatnya tentang signifikansi pendidikan. Ia meyakini bahwa pendidikan merupakan sarana efektif untuk pemberdayaan potensi perempuan [300].

Pikiran Hurgronje ini kontroversial di masanya. Kultur Mekah ketika itu belum memberikan peluang bagi perempuan untuk mengakses dimensi publik, termasuk pendidikan.

Aspek lain yang penting adalah pengakuannya terhadap peranan John Ludwig Burchardt yang dinilainya menjadi titik pijak bagi buku-buku yang ditulisnya selama di Mekah. Secara jujur Hurgronje mengakui bahwa tanpa buku-buku yang ditulis oleh Burchardt, ia tidak bisa berkarya.

Pengakuan semacam ini secara intelektual cukup penting. Selain menunjukkan kejujuran secara akademik, pengakuan ini juga menunjukkan posisi Hurgronje dalam konteks topik Mekah di era itu.

 

Trenggalek, 11 Juni 2026

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.