Haji, Simbol, dan Hati

Juli 16, 2026

Dr. Abdul Wahid Haddade


Haji berkaitan erat dengan simbol. Simbol terbanyak adalah batu. Mari kita identifikasi beberapa di antaranya: Kakbah, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, Safa, Marwah, Jabal Rahmah, Jabal Tsur, dan Jumroh.

Pertanyaannya, mengapa batu? Menurut Ustadz Dr. Abdul Wahid Haddade dalam ceramah setelah shalat magrib pada 27 Mei 2026 di Hotel Transit, ada dasar dalam konteks ini yaitu QS Al-Baqarah: 47.

Batu bukan semata sebagai benda yang keras dan sulit dipecahkan. Batu itu sesungguhnya adalah simbol hati kita.

Hati manusia itu bisa keras, bahkan bisa jadi lebih keras lagi. Simbol-simbol yang ada dalam ibadah haji itu memiliki tujuan—antara lain—untuk melembutkan hati kita.


Salaman


Ada 7 batu yang dilemparkan saat melempar jumroh. Secara intrinsik ini menunjukkan adanya 7 penyakit hati yang harus dilenyapkan.

Pertama,  sombong. Ada banyak definisi sombong. Salah satu karakternya adalah merasa lebih dibandingkan dengan orang lain.

Kesombongan termanifestasi dalam beraneka bentuk. Ada kesombongan intelektual, kesombongan material, kesombongan struktural, kesombongan feodal, kesombongan ritual, dan kesombongan digital.

Kedua, iri, dengki, dan hasud. Ketiganya merupakan penyakit yang berbahaya dalam kehidupan. Pembunuhan pertama di dunia karena hasud. Penyakit hati jenis ini tidak menerima terhadap anugerah yang diterima oleh orang lain.

Ketiga, rakus. Ini karakter orang yang tidak suka bersedekah. Inginnya mendapatkan banyak dengan cara apa pun. Agar hidup barakah maja ambil sesuai hak kita. Jangan berlebihan.

Keempat, amarah. Amarah itu manusiawi. Namun demikian bukan berarti amarah bisa dilampiaskan secara bebas tanpa kendali.


Khusyuk berdoa


Amarah seharusnya dikelola. Dikontrol. Dengan demikian amarah menemukan ruang aktualisasi konstruktif.

Kelima, hubuddunya. Jangan berlebihan mencintainya. Dunia itu penting namun jangan diperbudak. Gunakan harta benda untuk beribadah.

Selama hidup kita selalu butuh uang. Ada kata bijak yang menyatakan bahwa selama kantong menghadap ke atas, kita tetap butuh uang. Namun kebutuhan pun bukanlah secara berlebihan.

Keenam, putus asa. Orang optimis melihat peluang dalam kesempitan. Orang pesimis melihat kesempitan dalam peluang.

Ketujuh, riya’, narsis. Merasa sebagai orang penting. Ini perlu dilawan dengan kita ini bukan siapa-siapa. Kita tidak haus validasi.

 

Mina, 29 Mei 2026


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.