Haji, Simbol, dan Hati
Haji berkaitan erat
dengan simbol. Simbol terbanyak adalah batu. Mari kita identifikasi beberapa di
antaranya: Kakbah, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, Safa, Marwah, Jabal Rahmah,
Jabal Tsur, dan Jumroh.
Pertanyaannya,
mengapa batu? Menurut Ustadz Dr. Abdul Wahid Haddade dalam ceramah setelah
shalat magrib pada 27 Mei 2026 di Hotel Transit, ada dasar dalam konteks ini
yaitu QS Al-Baqarah: 47.
Batu bukan semata
sebagai benda yang keras dan sulit dipecahkan. Batu itu sesungguhnya adalah
simbol hati kita.
Hati manusia itu
bisa keras, bahkan bisa jadi lebih keras lagi. Simbol-simbol yang ada dalam
ibadah haji itu memiliki tujuan—antara lain—untuk melembutkan hati kita.
Salaman
Ada 7 batu yang
dilemparkan saat melempar jumroh. Secara intrinsik ini menunjukkan adanya 7
penyakit hati yang harus dilenyapkan.
Pertama, sombong. Ada
banyak definisi sombong. Salah satu karakternya adalah merasa lebih
dibandingkan dengan orang lain.
Kesombongan
termanifestasi dalam beraneka bentuk. Ada kesombongan intelektual, kesombongan
material, kesombongan struktural, kesombongan feodal, kesombongan ritual, dan
kesombongan digital.
Kedua, iri, dengki, dan hasud. Ketiganya merupakan penyakit
yang berbahaya dalam kehidupan. Pembunuhan pertama di dunia karena hasud.
Penyakit hati jenis ini tidak menerima terhadap anugerah yang diterima oleh
orang lain.
Ketiga, rakus. Ini karakter orang yang tidak suka bersedekah.
Inginnya mendapatkan banyak dengan cara apa pun. Agar hidup barakah maja ambil
sesuai hak kita. Jangan berlebihan.
Keempat, amarah. Amarah itu manusiawi. Namun demikian bukan
berarti amarah bisa dilampiaskan secara bebas tanpa kendali.
Khusyuk berdoa
Amarah seharusnya
dikelola. Dikontrol. Dengan demikian amarah menemukan ruang aktualisasi
konstruktif.
Kelima, hubuddunya. Jangan berlebihan mencintainya. Dunia
itu penting namun jangan diperbudak. Gunakan harta benda untuk beribadah.
Selama hidup kita
selalu butuh uang. Ada kata bijak yang menyatakan bahwa selama kantong
menghadap ke atas, kita tetap butuh uang. Namun kebutuhan pun bukanlah secara
berlebihan.
Keenam, putus asa. Orang optimis melihat peluang dalam
kesempitan. Orang pesimis melihat kesempitan dalam peluang.
Ketujuh, riya’, narsis. Merasa sebagai orang penting. Ini perlu
dilawan dengan kita ini bukan siapa-siapa. Kita tidak haus validasi.
Mina, 29 Mei 2026



Tidak ada komentar: