Ngangeni

Juni 20, 2026



Ngainun Naim

 

Saya cari arti kata ngangeni. Ada beberapa jawaban. Salah satunya berarti sifat atau keadaan yang membuat seseorang rindu.

Rindu itu soal rasa. Ia bisa dirasakan tetapi sulit untuk diceritakan.

Bisa saja sesungguhnya rindu itu diceritakan tetapi penceritaan itu tetap tidak akan mampu mewakili rasa yang sesungguhnya.

Apa saja yang membuat kangen atau ngangeni?

Banyak. Bisa tempat, orang, pengalaman, dan aneka hal lain. Termasuk di antara yang ngangeni adalah ibadah haji.

Ya, ibadah haji itu ngangeni. Meskipun haji itu mengurasi waktu, energi, biaya, dan banyak hal lain tetapi bisa dipastikan sebagian besar umat Islam yang pernah menjalankan haji akan merasa kangen.

Hajinya sudah berlalu tetapi kenangannya tidak mau berlalu.

Baru beberapa hari pulang ke rumah, rasanya sudah ingin kembali ke Makah Madinah.

Untuk kembali?

Ingin kembali merasakan kelezatan spiritual yang tiada duanya.

Ingin kembali merasakan bagaimana menariknya berjuang untuk sekadar mendapatkan tempat shalat di Masjidil Haram.

Ingin kembali merasakan betapa emosi jiwa luluh lantak di Raudhoh.

Ingin kembali merasakan betapa damainya jiwa saat shalat di Masjid Nabawi.

Dan banyak hal yang ingin terulang kembali.

Saya tetiba teringat apa yang pernah disampaikan oleh salah seorang sastrawan bahwa hal yang paling menyedihkan sekalipun akan menjadi humor di masa depan.



Saya setuju dengan pendapat ini.

Ada banyak sekali tingkah kita semua yang bikin emosi, tegang, dan sejenisnya bagi kawan kita. Mungkin teman-teman kita menahan diri dan kita tidak menyadari jika membikin jengkel.

Namun saat ini jika diingat kok semuanya jadi lucu.

Ingat betapa berdebat tanpa ujung di antara sesama itu adalah kenangan yang sangat indah.

Ingat bahwa semangat membawa belanjaan yang melebihi batas dan bikin bahu sakit itu sangat indah.

Ingat bagaimana berjuang antri makan usai shalat itu sangat indah.

Ingat bagaimana kawan-kawan ada yang hilang dan bikin pusing mencarinya ternyata indah untuk dikenang dan tidak indah untuk diulang.

Ingat bagaimana ada seorang kawan jamaah yang mabuk berat. Semua jamaah tegang. Tim dokter juga tegang.

Kini, ketika semua berlalu, justru menjadi kisah yang menyegarkan dan humor yang menyenangkan.

Satu hal yang pasti bahwa kami berharap mendapatkan kesempatan untuk kembali ke Tanah Suci. Bukan untuk mengulang memori yang sudah berlalu tetapi membangun kembali spirit ibadah dalam waktu dan suasana berbeda.

Ini yang menjadi doa kami sewaktu Tawaf Wadak. Doa agar kami bisa kembali ke Tanah Suci. Tidak hanya bagi kami tetapi juga bagi anak cucu dan keturunan kami. Semoga.

 

Trenggalek, 20 Juni 2026


1 komentar:

  1. Catatan yang sangat inspiratif. Semoga saya dan keluarga bisa kembali ke makah madinah.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.