Buku Lawas, Relevansi, dan Kontekstualisasi

Agustus 23, 2026



Ngainun Naim

 

Sebagai pembuka tulisan ini, saya ingin mengutip tulisan Anwar Holid di Harian Kompas, edisi 21 Agustus 2004. Di tulisan yang berjudul “Pengembaraan Para Pembaca Buku”, Anwar Holid menyatakan bahwa membaca bukanlah semata-mata mengeja, melainkan menafsir, mencari makna, mendapatkan hikmah, mencari yang tersembunyi di balik teks, berusaha menuju ke dalam belantara wacana dan pemahaman.

Kutipan pendapat Anwar Holid di atas rasanya relevan untuk memahami mengapa saya membaca (kembali) buku yang pernah terbit 45 tahun lalu. Buku yang saya maksud judulnya Kecil Itu Indah karya E.F. Schumacher (Jakarta: LP3ES, 1981).

Saya menyebut buku ini sebagai buku lawas. Warnanya sudah menguning. Beberapa bagian sudah mulai rusak. Namun demikian buku masih bisa dibaca dan saya beri anotasi di pinggiran beberapa halaman yang menurut saya memang penting.

Saya termasuk pembaca lambat. Buku dengan ketebalan kisaran 280 halaman ini saya selesaikan nyaris 10 hari. Agar bisa khatam, buku ini saya bawa ke mana-mana. Meskipun lambat, akhirnya buku ini bisa saya tuntaskan.

 

Relevansi

Buku ini sesungguhnya bicara tentang ekonomi. Tentu, saya tidak memahami seluruh isinya karena memang bidang ilmu saya bukan ekonomi. Namun demikian ada beberapa aspek yang saya kira penting untuk digarisbawahi karena—menurut saya—relevan untuk kehidupan sekarang.

Pertama, posisi manusia dan alam. Topik ini tetap relevan di era sekarang. Menurut Schumacher, paradigma Barat memposisikan manusia bukan sebagai bagian dari alam tetapi kekuatan eksternal yang bertujuan menguasai dan menakhlukkan alam (hal. 14). Posisi ini membuat manusia tidak memiliki tanggung jawab moral atas apa pun yang dilakukan terhadap alam. Kerusakan alam yang semakin hari semakin parah tidak bisa dilepaskan dari paradigma ini.

Kedua, hilangnya kearifan hidup. Paradigma Barat hanya mengejar capaian-capaian material. Implikasinya, kearifan hidup banyak yang hilang dalam kehidupan kontemporer. Dari sudut ilmu ekonomi, kearifan adalah kelestarian [31]. Hilangnya kearifan hidup menimbulkan banyak persoalan di tengah kemajuan secara fisik material di berbagai bidang kehidupan.

Ketiga, pepohonan. Pandangan Schumacher terkait pepohonan cukup menarik. Pandangan ini sejalan dengan ekoteologi yang belakangan ini marak. Menurut Schumacher, ketika sebuah negara mengabaikan pentingnya pepohonan maka kemerosotan ekonomi yang akan dirasakan. Hal ini disebabkan karena kehidupan manusia itu bukan hanya terkait dengan manusia saja tetapi berkaitan dengan ekosistem secara keseluruhan, termasuk berkaitan dengan pepohonan [58]. Pada masa Schumacher hidup, ekonomi Islam belum berkembang secara pesat seperti sekarang ini. Jika Schumacher masih hidup, kita tidak tahu apakah beliau akan menggunakannya sebagai perspektif dalam membaca realitas ekonomi.

Keempat, peranan penting pendidikan. Pendidikan merupakan sumberdaya terpenting dari semua sumber daya [75]. Ketika sebuah negara memberikan prioritas pendidikan maka potensi kemajuan akan diraih.

Pendidikan dapat menolong kita hanya jika pendidikan menghasilkan “manusia yang utuh”. Orang terpelajar yang sesungguhnya bukan orang yang tahu serba sedikit tentang semua hal, bukan pula orang yang mengetahui semua hal yang sekecil-kecilnya dari segala ilmu. “Manusia yang utuh” itu mungkin hanya memiliki  pengetahuan yang sedikit saja tentang fakta dan teori namun dia tidak ragu-ragu mengenai keyakinanya, mengenai pandangannya tentang arti dan tujuan hidupnya [90].

 

Kontekstualisasi

E.F. Schumacher sudah wafat pada tahun 1977 dalam usia 66 tahun. Namun demikian warisan intelektualnya—seperti buku yang kita bahas ini—masih bisa kita kaji. Masih banyak relevansi pemikirannya dalam konteks kekinian.

Gagasannya tentang alam dan manusia tetap relevan. Justru relevansinya semakin kuat di tengah posisi alam yang semakin banyak persoalan.

Gagasannya tentang kearifan hidup juga masih relevan. Kehidupan tanpa kearifan akan gersang. Kearifan tidak lahir dari ruang kosong tetapi dari—antara lain—pendidikan yang mengajarkan nilai.

Tentu tidak semua gagasan Schumacher relevan. Ini wajar karena konteks sosial dan zaman yang berbeda. Namun demikian hal-hal yang sekiranya relevan masih memiliki potensi untuk kita kontekstualisasikan demi kebajikan kehidupan.

 

Trenggalek, 22 Agustus 2026

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.