Sabtu Pagi, Buku Klasik, dan Gethuk
Ngainun Naim
Sabtu pagi kerap
menghadirkan sensasi. Bukan hal mewah. Hanya sederhana. Ada waktu luang
meskipun sejenak, camilan sederhana tersaji, dan buku yang siap dibaca.
Momentum semacam
ini sungguh istimewa. Mungkin terlihat sederhana bagi orang lain. Bagi saya,
ini istimewa.
Setelah berkegiatan,
sekitar pukul 08.30 saya menuju meja kerja. Saya bersiap untuk menikmati
momentum istimewa ini. Momentum yang sulit dirasakan jika tidak libur atau
akhir pekan.
Di meja saya
persiapkan kopi minim gula, buku yang siap dibaca meski hanya beberapa lembar,
dan makanan tradisional gethuk yang dibeli Ibuk dari penjual sayur
keliling.
Kecil Itu Indah
Sabtu ini (15
Agustus 2026), saya menikmati buku klasik karya E.F. Schumacher. Judulnya Kecil
Itu Indah (Jakarta: YOI dan LP3ES, 1981). Nama Schumacher ini bukan
pembalap yang terkenal itu. Penulis buku ini seorang ekonom dunia yang karyanya
luar biasa.
Pikiran-pikiran
Schumacher memang bagus. Namun MT Zen, Guru Besar ITB yang memberikan kata
pengantar mengingatkan agar kita jangan mudah terpukau oleh hal baru. Kita
secara budaya mudah mengagumi hal-hal yang sekilas menarik dan mengagumkan.
Tentu, kagum itu
boleh. Namun jangan lupa untuk menggunakan kacamata kritis. Ini penting
agar perspektif yang kita usung lebih utuh. Ketika kekaguman itu berbalik arah,
kita tidak terlalu kecewa.
Sejalan dengan
perspektif kritis, kecil itu indah tidak berlaku universal. Konteksnya harus
tepat. Tidak bisa digeneralisasi. Ketika konteksnya tepat, konsep tersebut
akan relevan dan bermanfaat.
Relevan
Buku ini terbit
pertama kali pada tahun 1973. Edisi terjemahan ke dalam bahasa Indonesia terbit
pertama tahun 1979. Nyaris 50 tahun lalu.
Namun demikian
ada banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dalam konteks kehidupan
kontemporer. Pertama, Schumacher menyatakan bahwa kehidupan bersama merupakan
salah satu titik benderang dalam menjalani kehidupan. Tentu bukan sebatas
kehidupan bersama, tetapi kehidupan bersama yang positif-fungsional. Di antara anggota
masyarakat saling dukung, saling bantu, dan saling menguatkan.
Individualisme sekarang
ini semakin menguat. Demikian juga dengan egoisme. Lebih jauh, kita menyaksikan
bagaimana kehidupan sosial semakin banyak persoalan. Kehidupan bersama dalam
maknanya yang substantif semakin hilang.
Kedua, Schumacher merupakan pengagum Mahatma Ghandi. Ia menekankan
pada hidup sederhana, hemat, dan perubahan yang berangsur-angsur. Gaya hidup
flexing, boros, dan perubahan sosial secara masif berakibat pada tergerusnya
moral masyarakat.
Industrialisasi acapkali
dilakukan dengan mengabaikan kepentingan mendasar masyarakat. Ekses sosial,
politik, dan budaya tidak menjadi pertimbangan utama. Aspek yang diutamakan
adalah ekonomi dalam skala besar. Pada era industrialisasi, sebagian masyarakat
mengalami berbagai persoalan sosial, moral, dan budaya. Di sisi lain, secara
ekonomi juga tidak mengalami kemajuan yang signifikan.
Trenggalek, 15 Agustus 2026

Sekarang banyak yang menerapkan slow living, frugal living, dan simple living. Kesederhanaan diterapkan. Orang kota mulai ingin hifup di desa dengan hubungan sosial yang baik dengan tetangga.
BalasHapusBetul Bu. Terima kasih atas kunjungannya.
Hapus