Sabtu Pagi, Buku Klasik, dan Gethuk

Agustus 15, 2026



Ngainun Naim

 

Sabtu pagi kerap menghadirkan sensasi. Bukan hal mewah. Hanya sederhana. Ada waktu luang meskipun sejenak, camilan sederhana tersaji, dan buku yang siap dibaca.

Momentum semacam ini sungguh istimewa. Mungkin terlihat sederhana bagi orang lain. Bagi saya, ini istimewa.

Setelah berkegiatan, sekitar pukul 08.30 saya menuju meja kerja. Saya bersiap untuk menikmati momentum istimewa ini. Momentum yang sulit dirasakan jika tidak libur atau akhir pekan.

Di meja saya persiapkan kopi minim gula, buku yang siap dibaca meski hanya beberapa lembar, dan makanan tradisional gethuk yang dibeli Ibuk dari penjual sayur keliling.

 

Kecil Itu Indah

Sabtu ini (15 Agustus 2026), saya menikmati buku klasik karya E.F. Schumacher. Judulnya Kecil Itu Indah (Jakarta: YOI dan LP3ES, 1981). Nama Schumacher ini bukan pembalap yang terkenal itu. Penulis buku ini seorang ekonom dunia yang karyanya luar biasa.

Pikiran-pikiran Schumacher memang bagus. Namun MT Zen, Guru Besar ITB yang memberikan kata pengantar mengingatkan agar kita jangan mudah terpukau oleh hal baru. Kita secara budaya mudah mengagumi hal-hal yang sekilas menarik dan mengagumkan.

Tentu, kagum itu boleh. Namun jangan lupa untuk menggunakan kacamata kritis. Ini penting agar perspektif yang kita usung lebih utuh. Ketika kekaguman itu berbalik arah, kita tidak terlalu kecewa.

Sejalan dengan perspektif kritis, kecil itu indah tidak berlaku universal. Konteksnya harus tepat. Tidak bisa digeneralisasi. Ketika konteksnya tepat, konsep tersebut akan relevan dan bermanfaat.

 

Relevan

Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1973. Edisi terjemahan ke dalam bahasa Indonesia terbit pertama tahun 1979. Nyaris 50 tahun lalu.

Namun demikian ada banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dalam konteks kehidupan kontemporer. Pertama, Schumacher menyatakan bahwa kehidupan bersama merupakan salah satu titik benderang dalam menjalani kehidupan. Tentu bukan sebatas kehidupan bersama, tetapi kehidupan bersama yang positif-fungsional. Di antara anggota masyarakat saling dukung, saling bantu, dan saling menguatkan.

Individualisme sekarang ini semakin menguat. Demikian juga dengan egoisme. Lebih jauh, kita menyaksikan bagaimana kehidupan sosial semakin banyak persoalan. Kehidupan bersama dalam maknanya yang substantif semakin hilang.

Kedua, Schumacher merupakan pengagum Mahatma Ghandi. Ia menekankan pada hidup sederhana, hemat, dan perubahan yang berangsur-angsur. Gaya hidup flexing, boros, dan perubahan sosial secara masif berakibat pada tergerusnya moral masyarakat.

Industrialisasi acapkali dilakukan dengan mengabaikan kepentingan mendasar masyarakat. Ekses sosial, politik, dan budaya tidak menjadi pertimbangan utama. Aspek yang diutamakan adalah ekonomi dalam skala besar. Pada era industrialisasi, sebagian masyarakat mengalami berbagai persoalan sosial, moral, dan budaya. Di sisi lain, secara ekonomi juga tidak mengalami kemajuan yang signifikan.

 

Trenggalek, 15 Agustus 2026

2 komentar:

  1. Sekarang banyak yang menerapkan slow living, frugal living, dan simple living. Kesederhanaan diterapkan. Orang kota mulai ingin hifup di desa dengan hubungan sosial yang baik dengan tetangga.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.