Disertasi, Doktor, dan Terus Belajar
Ngainun Naim
Beberapa waktu terakhir ini saya
menjadi penguji beberapa disertasi. Bagi saya ini merupakan pengalaman penting
dan menarik. Pengalaman penting karena menjadi penguji disertasi merupakan
kesempatan yang sangat berharga. Tidak semua dosen mendapatkannya.
Pengalaman menarik karena dengan
menjadi penguji mengharuskan saya belajar. Lembar demi lembar naskah disertasi harus
saya baca secara cermat. Pada posisi ini sering kali saya mendapatkan
pengetahuan, wawasan, dan insight.
Membaca disertasi membuat saya harus
berpikir kritis. Tidak sekadar membaca halaman
demi halaman tetapi juga mempertanyakan. Apakah teroi yang digunakan? Apakah
teori tersebut relevan? Bagaimana dengan metodologi penelitian yang digunakan?
Mengapa jenis penelitian itu yang dipilih? Apakah metodenya teoretis atau sudah
operasional? Bagaimana data digali? Bagaimana analisis data dilakukan?
Bagaimana data dipaparkan? Bagaimana analisis data? Hal baru apa yang
ditawarkan?
Pertanyaan demi pertanyaan masih
terbuka untuk terus diajukan. Jika semua terkonfirmasi, tentu itu yang diharapkan.
Jika ada hal yang salah maka perlu dibenarkah.
Aspek yang lebih substantif dalam
disertasi adalah kebaruan atau novelty. Adanya kebaruan menunjukkan
keseriusan dalam proses riset, mengolah, dan menyajikan data. Memang tidak
mudah namun di situ tantangannya.
Tidak Mudah
Menulis disertasi itu tidak mudah.
Tidak sedikit orang yang gagal menjadi doktor karena gagal menyelesaikan
disertasi. Mereka yang sukses menjadi doktor lazimnya melakukan perjuangan yang
luar biasa.
Keberhasilan menulis disertasi sampai
ujian akhir—lazimnya disebut dengan Ujian Disertasi Terbuka Promoso Doktor—menunjukkan
penulisnya memiliki kecerdasan intelektual. Tanpa kecerdasan intelektual,
rasanya mustahil selesai dalam mengerjakan disertasi. Karena menulis disertasi
membutuhkan pengetahuan yang luas, imajinasi kreatif, dan kemampuan mengolah
data menjadi laporan yang menarik.
Disertasi itu bukan sekadar soal
kecerdasan intelektual tetapi juga tentang kecerdasan emosional. Sabar, tekun
berproses, tidak mudah putus asa, dan gigih menjadi aspek lain yang menentukan
suksesnya seorang kandidat doktor.
Seorang kandidat doktor juga perlu
memiliki spiritualitas yang mendalam. Ini penting sebagai basik agar kondisi
psikologisnya tetap stabil di tengah berbagai hambatan dan tantangan menjadi
doktor dan menjadi ahli.
Ciri Doktor
Umumnya orang berpendapat bahwa
menjadi doktor itu suatu keistimewaan. Hal ini disebabkan karena hanya sangat
sedikit orang yang bisa meraihnya. Bahkan bisa dinyatakan bahwa menjadi doktor
itu merupakan mimpi banyak orang.
Abdul Malik Fadjar (2025) menyatakan
bahwa pendidikan merupakan penentu warna hidup. jenjang pendidikan yang
ditempuh menambah pengetahuan, memperkaya pengalaman, dan mewarnai kehidupan
yang dijalani.
Menurut Nur Syam (2023), ada empat ciri
yang seharusnya dimiliki oleh seorang doktor. Pertama, menjadi rujukan
dalam ilmu yang ditekuni. Kedua, menguasai secara mendalam terhadap ilmu
yang menjadi keahliannya. Ketiga, memiliki kemampuan riset. Keempat,
memiliki kemampuan riset yang baik.
Empat ciri ini cukup penting untuk
dicermati, khususnya bagi yang sudah menyandang gelar doktor. Menjadi doktor
bukan sebatas mendapatkan gelar semata tetapi juga bagaimana memantaskan diri
menjadi seorang intelektual. Dirinya menjadi referensi keilmuan. Seorang doktor
adalah seorang ahli.
Keahlian tidak datang secara
tiba-tiba. Ia butuh proses panjang dan berkelanjutan. Hal ini bermakna, gelar
doktor itu bukan puncak aktivitas belajar tetapi titik pijak untuk terus
belajar dan mengembangkan keilmuannya sehingga menjadi seorang ahli. Tidak mudah
tetapi penting untuk diperjuangkan agar gelar dan kompetensi sejalan.
Tulungagung, 20 Agustus 2026

alhamdulillah, luarbiasa....sangat setuju Prof, mohon pencerahannya agar saya bisa terus konsisten dengan keilmuan ini, dan terus produktif menjaga serta berjuang agar gelar -kompetensi tetap sejalan..maturnuwun motivasinya Prof....sehat selalu
BalasHapus