Disertasi, Doktor, dan Terus Belajar

Agustus 20, 2026



Ngainun Naim

 

Beberapa waktu terakhir ini saya menjadi penguji beberapa disertasi. Bagi saya ini merupakan pengalaman penting dan menarik. Pengalaman penting karena menjadi penguji disertasi merupakan kesempatan yang sangat berharga. Tidak semua dosen mendapatkannya.

Pengalaman menarik karena dengan menjadi penguji mengharuskan saya belajar. Lembar demi lembar naskah disertasi harus saya baca secara cermat. Pada posisi ini sering kali saya mendapatkan pengetahuan, wawasan, dan insight.

Membaca disertasi membuat saya harus berpikir kritis. Tidak  sekadar membaca halaman demi halaman tetapi juga mempertanyakan. Apakah teroi yang digunakan? Apakah teori tersebut relevan? Bagaimana dengan metodologi penelitian yang digunakan? Mengapa jenis penelitian itu yang dipilih? Apakah metodenya teoretis atau sudah operasional? Bagaimana data digali? Bagaimana analisis data dilakukan? Bagaimana data dipaparkan? Bagaimana analisis data? Hal baru apa yang ditawarkan?

Pertanyaan demi pertanyaan masih terbuka untuk terus diajukan. Jika semua terkonfirmasi, tentu itu yang diharapkan. Jika ada hal yang salah maka perlu dibenarkah.

Aspek yang lebih substantif dalam disertasi adalah kebaruan atau novelty. Adanya kebaruan menunjukkan keseriusan dalam proses riset, mengolah, dan menyajikan data. Memang tidak mudah namun di situ tantangannya.

 

Tidak Mudah

Menulis disertasi itu tidak mudah. Tidak sedikit orang yang gagal menjadi doktor karena gagal menyelesaikan disertasi. Mereka yang sukses menjadi doktor lazimnya melakukan perjuangan yang luar biasa.

Keberhasilan menulis disertasi sampai ujian akhir—lazimnya disebut dengan Ujian Disertasi Terbuka Promoso Doktor—menunjukkan penulisnya memiliki kecerdasan intelektual. Tanpa kecerdasan intelektual, rasanya mustahil selesai dalam mengerjakan disertasi. Karena menulis disertasi membutuhkan pengetahuan yang luas, imajinasi kreatif, dan kemampuan mengolah data menjadi laporan yang menarik.

Disertasi itu bukan sekadar soal kecerdasan intelektual tetapi juga tentang kecerdasan emosional. Sabar, tekun berproses, tidak mudah putus asa, dan gigih menjadi aspek lain yang menentukan suksesnya seorang kandidat doktor.

Seorang kandidat doktor juga perlu memiliki spiritualitas yang mendalam. Ini penting sebagai basik agar kondisi psikologisnya tetap stabil di tengah berbagai hambatan dan tantangan menjadi doktor dan menjadi ahli.

Ciri Doktor

Umumnya orang berpendapat bahwa menjadi doktor itu suatu keistimewaan. Hal ini disebabkan karena hanya sangat sedikit orang yang bisa meraihnya. Bahkan bisa dinyatakan bahwa menjadi doktor itu merupakan mimpi banyak orang.

Abdul Malik Fadjar (2025) menyatakan bahwa pendidikan merupakan penentu warna hidup. jenjang pendidikan yang ditempuh menambah pengetahuan, memperkaya pengalaman, dan mewarnai kehidupan yang dijalani.

Menurut Nur Syam (2023), ada empat ciri yang seharusnya dimiliki oleh seorang doktor. Pertama, menjadi rujukan dalam ilmu yang ditekuni. Kedua, menguasai secara mendalam terhadap ilmu yang menjadi keahliannya. Ketiga, memiliki kemampuan riset. Keempat, memiliki kemampuan riset yang baik. 

Empat ciri ini cukup penting untuk dicermati, khususnya bagi yang sudah menyandang gelar doktor. Menjadi doktor bukan sebatas mendapatkan gelar semata tetapi juga bagaimana memantaskan diri menjadi seorang intelektual. Dirinya menjadi referensi keilmuan. Seorang doktor adalah seorang ahli.

Keahlian tidak datang secara tiba-tiba. Ia butuh proses panjang dan berkelanjutan. Hal ini bermakna, gelar doktor itu bukan puncak aktivitas belajar tetapi titik pijak untuk terus belajar dan mengembangkan keilmuannya sehingga menjadi seorang ahli. Tidak mudah tetapi penting untuk diperjuangkan agar gelar dan kompetensi sejalan.

 

Tulungagung, 20 Agustus 2026

1 komentar:

  1. alhamdulillah, luarbiasa....sangat setuju Prof, mohon pencerahannya agar saya bisa terus konsisten dengan keilmuan ini, dan terus produktif menjaga serta berjuang agar gelar -kompetensi tetap sejalan..maturnuwun motivasinya Prof....sehat selalu

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.