Menulis atau Ditulis
Ngainun Naim
Buku karya
Mulyadhi Kartanegara dengan judul Seni Mengukir Kata, Kiat-Kiat Menulis
Efektif-Kreatif (Bandung: MLC, 2005) merupakan sebuah buku penting dalam
dunia menulis, khususnya bagi akademisi. Buku ini mengulas banyak hal terkait
proses kreatif, strategi menulis, dan pengalaman penulisnya dalam menghasilkan
berbagai karya.
Ada satu
bagian yang menurut saya cukup menarik, yaitu terkait motivasi dalam menulis. Menurut
Mulyadhi, isi motivasi harus berkualitas kalau ingin tulisan yang dihasilkan
juga berkualitas.
Bagaimana
motivasi yang berkualitas itu? Tentu jawabannya tidak tunggal. Setiap penulis
akan merumuskan motivasi masing-masing. Namun motivasi yang ditulis oleh
Mulyadhi penting untuk dipertimbangkan sebagai bahan renungan.
Bagi
Mulyadhi, motivasinya dalam menulis bersifat transenden. Hal ini bisa dicermati
dari pernyataannya bahwa ia menulis karena ingin mengabadikan hidup. Ia ingin
meniru sifat kehidupan Tuhan yang abadi.
Menulis
merupakan salah satu cara yang baik untuk mengabadikan hidup. Motivasi
transenden ini muncul karena ia melakukan perenungan tentang kehidupan dan
maknanya bagi dunia. Ia berkisah bagaimana tetangganya meninggal dan ketika
keluarga yang ditinggalkan telah melupakan, tidak ada lagi yang tersisa dari
hidupnya. Ia seolah pergi tanpa meninggalkan sesuatu yang bisa dikenang selain
kisah hidup yang pelan tapi pasti lenyap bersama perjalanan waktu.
Perspektif
Mulyadhi Kartanegara ini secara intrinsik menegaskan tentang pentingnya
menulis. Ini adalah salah satu cara yang efektif untuk mengabadikan hidup. Tulisan
yang kita hasilkan akan lebih awet meskipun kita sudah meninggalkan dunia ini.
Spirit yang
diusung Mulyadhi Kartanegara ini penting untuk disosialisasikan, dijadikan
gerakan, dan dibudayakan. Menulis tentang apa pun—sepanjang positif—dan dalam
bentuk apa pun sekarang ini menghadapi tantangan yang hebat. Dunia digital
telah menggerus kesabaran manusia untuk menorehkan kata demi kata menjadi
kalimat. Manusia sekarang cenderung menyukai hal-hal yang praktis dan tidak
memerlukan banyak energi.
Persoalannya,
tidak semua orang bisa menulis. Hanya sebagian kecil saja yang bisa
melakukannya. Kalangan terpelajar yang lazimnya dipahami dekat dengan dunia
menulis juga banyak yang tidak menulis. Justru di sinilah tantangannya.
Saya
teringat sebuah pendapat yang menyatakan bahwa orang akan bisa abadi jika
menulis atau ditulis. Pendapat ini relevan dalam konteks mengenang perjalanan
hidup manusia, termasuk yang sudah berpulang.
Prof. Dr.
Akhyak, M.Ag., Direktur Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
berpulang pada 1 Syawal 1447 H lalu. Tentu ada banyak kesan, kenangan, dan
hal-hal yang telah beliau tinggalkan. Setiap orang yang pernah berinteraksi
dengan beliau memiliki pengalaman personal yang unik.
Dalam
konteks ini, penting untuk menulis tentang beliau. Tulisan demi tulisan dari
berbagai perspektif adalah bentuk dokumentasi yang sangat berarti.
Tidak ada
orang yang ke-diri-annya diketahui banyak orang. Pengetahuan tentang seseorang
itu sifatnya parsial. Justru karena itulah menulis tentang seseorang yang telah
berpulang bisa memperkaya khazanah pengetahuan bersama.
Menulis
tentang orang yang telah berpulang dikenal dengan sebutan obituari. Menurut
Vanya Karunia Mulia Putri dalam tulisannya yang berjudul “Apa Itu Obituari? (www.kompas.com edisi 16 Februari 2024), obituari adalah berita kematian
seorang tokoh ilmuwan, yang turut disertai dengan biografi singkat tokoh
tersebut.
Tujuan
penulisannya adalah untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sang tokoh
atas jasa-jasanya. Selain itu juga menjadi sumber inspirasi bagi pembaca secara
luas.
Saya telah
mengoordinasi beberapa buku untuk mengenang kepergian beberapa orang kolega di
UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, di antaranya Prof. Dr. Achmad Patoni,
Dr. Muhtarom, M.Ag., Prof. Dr. M. Jazeri, Tadjudin, M.Pd.I., dan Prof. Dr.
Muwahid Shulhan, M.Ag. Dalam kerangka mengenang kebajikan dan jasa-jasa Prof.
Dr. Akhyak, M.Ag maka menulis tentang beliau untuk dibukukan juga penting
dilakukan.
Menulis
atau ditulis adalah cara mengabadikan seseorang. Meskipun yang menulis atau
yang ditulis sudah wafat tetapi pesannya akan abadi.
Tulungagung, 25 Maret 2026

Tidak ada komentar: