Menulis atau Ditulis

Maret 28, 2026



Ngainun Naim

 

Buku karya Mulyadhi Kartanegara dengan judul Seni Mengukir Kata, Kiat-Kiat Menulis Efektif-Kreatif (Bandung: MLC, 2005) merupakan sebuah buku penting dalam dunia menulis, khususnya bagi akademisi. Buku ini mengulas banyak hal terkait proses kreatif, strategi menulis, dan pengalaman penulisnya dalam menghasilkan berbagai karya.

Ada satu bagian yang menurut saya cukup menarik, yaitu terkait motivasi dalam menulis. Menurut Mulyadhi, isi motivasi harus berkualitas kalau ingin tulisan yang dihasilkan juga berkualitas.

Bagaimana motivasi yang berkualitas itu? Tentu jawabannya tidak tunggal. Setiap penulis akan merumuskan motivasi masing-masing. Namun motivasi yang ditulis oleh Mulyadhi penting untuk dipertimbangkan sebagai bahan renungan.

Bagi Mulyadhi, motivasinya dalam menulis bersifat transenden. Hal ini bisa dicermati dari pernyataannya bahwa ia menulis karena ingin mengabadikan hidup. Ia ingin meniru sifat kehidupan Tuhan yang abadi.

Menulis merupakan salah satu cara yang baik untuk mengabadikan hidup. Motivasi transenden ini muncul karena ia melakukan perenungan tentang kehidupan dan maknanya bagi dunia. Ia berkisah bagaimana tetangganya meninggal dan ketika keluarga yang ditinggalkan telah melupakan, tidak ada lagi yang tersisa dari hidupnya. Ia seolah pergi tanpa meninggalkan sesuatu yang bisa dikenang selain kisah hidup yang pelan tapi pasti lenyap bersama perjalanan waktu.

Perspektif Mulyadhi Kartanegara ini secara intrinsik menegaskan tentang pentingnya menulis. Ini adalah salah satu cara yang efektif untuk mengabadikan hidup. Tulisan yang kita hasilkan akan lebih awet meskipun kita sudah meninggalkan dunia ini.

Spirit yang diusung Mulyadhi Kartanegara ini penting untuk disosialisasikan, dijadikan gerakan, dan dibudayakan. Menulis tentang apa pun—sepanjang positif—dan dalam bentuk apa pun sekarang ini menghadapi tantangan yang hebat. Dunia digital telah menggerus kesabaran manusia untuk menorehkan kata demi kata menjadi kalimat. Manusia sekarang cenderung menyukai hal-hal yang praktis dan tidak memerlukan banyak energi.

Persoalannya, tidak semua orang bisa menulis. Hanya sebagian kecil saja yang bisa melakukannya. Kalangan terpelajar yang lazimnya dipahami dekat dengan dunia menulis juga banyak yang tidak menulis. Justru di sinilah tantangannya.

Saya teringat sebuah pendapat yang menyatakan bahwa orang akan bisa abadi jika menulis atau ditulis. Pendapat ini relevan dalam konteks mengenang perjalanan hidup manusia, termasuk yang sudah berpulang.

Prof. Dr. Akhyak, M.Ag., Direktur Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung berpulang pada 1 Syawal 1447 H lalu. Tentu ada banyak kesan, kenangan, dan hal-hal yang telah beliau tinggalkan. Setiap orang yang pernah berinteraksi dengan beliau memiliki pengalaman personal yang unik.

Dalam konteks ini, penting untuk menulis tentang beliau. Tulisan demi tulisan dari berbagai perspektif adalah bentuk dokumentasi yang sangat berarti.

Tidak ada orang yang ke-diri-annya diketahui banyak orang. Pengetahuan tentang seseorang itu sifatnya parsial. Justru karena itulah menulis tentang seseorang yang telah berpulang bisa memperkaya khazanah pengetahuan bersama.

Menulis tentang orang yang telah berpulang dikenal dengan sebutan obituari. Menurut Vanya Karunia Mulia Putri dalam tulisannya yang berjudul “Apa Itu Obituari? (www.kompas.com edisi 16 Februari 2024), obituari adalah berita kematian seorang tokoh ilmuwan, yang turut disertai dengan biografi singkat tokoh tersebut.

Tujuan penulisannya adalah untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sang tokoh atas jasa-jasanya. Selain itu juga menjadi sumber inspirasi bagi pembaca secara luas.

Saya telah mengoordinasi beberapa buku untuk mengenang kepergian beberapa orang kolega di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, di antaranya Prof. Dr. Achmad Patoni, Dr. Muhtarom, M.Ag., Prof. Dr. M. Jazeri, Tadjudin, M.Pd.I., dan Prof. Dr. Muwahid Shulhan, M.Ag. Dalam kerangka mengenang kebajikan dan jasa-jasa Prof. Dr. Akhyak, M.Ag maka menulis tentang beliau untuk dibukukan juga penting dilakukan.

Menulis atau ditulis adalah cara mengabadikan seseorang. Meskipun yang menulis atau yang ditulis sudah wafat tetapi pesannya akan abadi.

 

Tulungagung, 25 Maret 2026

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.