Berangkat Dari Masalah, Bukan Keinginan
Ngainun Naim
Proposal pengabdian kepada masyarakat itu seharusnya berangkat dari
masalah, bukan dari keinginan pengabdi. Masalah yang teridentifikasi dipahami,
dianalisis, dan dilakukan langkah-langkah pemberdayaan. Adanya perubahan menuju
kondisi yang lebih baik menjadi substansi dari pengabdian.
Pokok-pokok pikiran di atas—antara lain—yang saya sampaikan dalam berbagai
kesempatan saat berdiskusi dengan kawan-kawan dosen dalam seminar pengabdian
kepada masyarakat. Argumennya sederhana. Ada proposal yang berangkat dari
idealitas. Pengusul sendiri belum memiliki data faktual dari lokasi pengabdian
yang diusulkan. Juga belum menemukan secara pasti persoalan yang akan
didampingi.
Jika ini yang terjadi maka pengabdian belum tentu sejalan dengan kebutuhan.
Sangat mungkin lokasi yang dipilih dalam proposal sebenarnya tidak ada masalah
yang memerlukan pendampingan.
Jika ini yang terjadi maka ada beberapa kemungkinan. Pertama, jika
lolos seleksi, pengabdian akan tetap dilakukan namun substansinya tidak
maksimal karena memang tidak ada masalah sebagaimana yang diusulkan.
Kedua, pindah lokasi pengabdian. Jadinya pengusul harus mencari lokasi lain yang
memenuhi kriteria sebagaimana tema yang diusung. Jika menemukan lokasi yang
sesuai, itu bagus. Namun jika tidak menemukan, kemungkinan yang lain adalah
memaksakan lokasi yang sesungguhnya belum sepenuhnya memenuhi kriteria
sebagaimana topik yang diusulkan.
Jika proposal pada akhirnya didanai maka bisa mempengaruhi terhadap
pelaksanaan kegiatan pengabdian. Partisipasi masyarakat yang seharusnya
bersifat aktif dan kolaboratif (Arif Zunaidi: 2024) akan sulit terwujud. Adanya
adalah inisiatif yang tidak dibangun bersama melainkan berangkat dari subjektivitas
pengabdi.
Perubahan
Aspek yang penting ditekankan bahwa pengabdian itu substansinya adalah
adanya perubahan. Tanpa perubahan, kegiatan pengabdian sebatas sebagai
formalitas. Kegiatan dilaksanakan tetapi tidak ada dampak dari kegiatan yang
dilaksanakan.
Dunia kampus memiliki peranan yang signifikan dalam konteks transformasi
kehidupan masyarakat. Melalui inisiatif kegiatan pengabdian kepada masyarakat,
ada banyak hal yang bisa dilakukan, mulai dari pendampingan, pemberdayaan, dan
aneka kegiatan lain yang positif. Substansinya adalah kampus berpotensi untuk
mendampingi masyarakat dalam kerangka transformasi menuju kehidupan yang lebih
baik (Bayu Adi Laksono (ed.): 2024).
Namun demikian penting dicermati bahwasanya perubahan itu sesungguhnya
bukan persoalan yang mudah dan sederhana. Perubahan itu kompleks. Ada banyak
aspek yang saling berkait-kelindan. Aspek semacam ini kadang tidak masuk dalam
kerangka pikir pengabdi. Hal ini bisa dicermati pada asumsi yang dibangun
sebagaimana diuraikan dalam proposal.
Perubahan itu dimulai dari mindset. Prosesnya panjang dan rumit.
Kita bisa belajar dari para aktivis sosial yang bertahun-tahun melakukan
kegiatan pendampingan. Ada yang sukses besar, sedang, kecil, dan ada juga yang
hasilnya tidak sesuai rencana dan ekspektasi.
Aspek penting yang lain adalah merumuskan parameter atau tolok ukur perubahan.
Ketika evaluasi dilakukan akan terlihat apakah ada perubahan dalam masyarakat
sesuai dengan tolok ukur. Jika tetap, tentu perubahan masih sebatas angan-angan
pengabdi dan belum menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan masyarakat yang
didampingi.
Makna Penting Metode
Kegiatan pengabdian bisa saja dilakukan tanpa konsep. Jadinya mengalir
begitu saja. Hal semacam ini sudah dilakukan puluhan tahun oleh kalangan dosen,
khususnya di PTKIN.
Satu sisi ini merupakan hasil perjuangan yang penting untuk diapresiasi dan
dipertahankan. Namun di sisi lain perlu melakukan refleksi untuk tidak hanya menjalankan
pengabdian sebatas sebagai rutinitas. Aspek yang penting adalah bagaimana
pengabdian dilakukan dengan lebih sistematis, ada dokumen, ada laporan, ada
metode, dan ada perubahan atau dampak terhadap masyarakat.
Pada titik inilah kegiatan pengabdian kepada masyarakat akan berpotensi
lebih berhasil jika menggunakan metode yang tepat. Di sini seringkali pengusul proposal
pengabdian kepada masyarakat kurang menyusun metode secara lengkap dan
operasional. Ada juga yang proposal yang diusulkan pengabdian kepada masyarakat
namun menggunakan metode penelitian. Padahal keduanya tidak sama.
Kesalahan metode bisa berakibat pada kurang—bahkan tidak—efektifnya program.
Sebaliknya, ketepatan metode menjadi pintu pembuka bagi keberhasilan program
yang diusulkan.
Selain aspek substansi, aspek yang juga penting adalah teknis. Bagi
pengusul penting untuk membuat proposal yang minim kesalahan teknis. Salah
ketik, kalimat tidak sempurna, argumen lemah, data tidak valid, dan hal-hal
yang kurang mendukung perlu diperhatikan. Proposal yang diusulkan diupayakan
sudah maksimal dari sisi substansi dan teknis agar memiliki potensi besar untuk
lolos.
Mungkin ini terlihat sederhana tetapi sesungguhnya sangat penting. Substansi
bagus jika disajikan dengan banyak kesalahan tentu mengurangi kualitas
substansi.
Pengabdi yang juga seorang dosen harus memiliki tradisi membaca yang kuat.
Buku dan artikel-artikel pendukung topik pengabdian perlu dibaca, digali
konteksnya, dianalisis secara kritis, dan dijadikan inspirasi dalam konteks
proposal dan aktivitas pengabdian. Bacaan itu bukan hanya untuk menambah
pengetahuan tetapi juga bisa berposisi sebagai inspirasi. Juga sebagai sumber
referensi untuk menemukan solusi atas masalah yang tengah dihadapi.
Cirebon, 27 Juni 2026
Daftar Bacaan
Arif Zunaidi. Metodologi Pengabdian kepada Masyarakat. (Yogyakarta:
Yayasan Putra Adidharma, 2024).
Bayu Adi Laksono (ed.). Pemberdayaan Masyarakat: Strategi, Model, dan
Inovasi untuk Transformasi Sosial. (Madiun: Bayfa Cendekia Indonesia, 2024).

Tidak ada komentar: