Mengkaji Artikel, Menemukan Inspirasi Riset

Oktober 10, 2026


Ngainun Naim

 

Kuliah Pendekatan Kajian Islam kali ini mengkaji artikel jurnal dengan judul “Reconstruction of Humanistic Learning Theory in the Context of Islamic Education: Integrative Islamic Humanistic Learning as a New Paradigm for Islamic Education Learning”. Penulisnya Mujahid dan Muqowim. Artikel dimuat di Jurnal Pendidikan Agama Islam, Volume 23 Nomor 1, 2026. Link artikel: https://ejournal.uin-suka.ac.id/tarbiyah/jpai/article/view/v23i1.13305.

Artikel yang dikaji ini berasal dari jurnal yang terindeks Scopus Q1 dengan SJR 0,26. Ada beberapa pertimbangan mengapa memilih artikel-artikel dari jurnal terindeks Scopus yang dikaji oleh mahasiswa. Pertama, memperkenalkan mahasiswa dengan artikel-artikel di jurnal terindeks Scopus. Di tengah gempuran AI, upaya ini sangat penting agar mereka tidak sekadar merujuk ke hasil AI, tetapi benar-benar mengetahui artikel seperti apa yang bisa dimuat di jurnal terindeks Scopus.

Kedua, mahasiswa harus membaca artikel secara cermat. Ada beberapa pertanyaan yang saya ajukan. Jawaban atas pertanyaan kemudian disusun menjadi paper yang didiskusikan di kelas.

Ketiga, membaca artikel secara utuh merupakan keterampilan yang harus dilatih. Bukan sebatas membaca abstrak atau kesimpulan tetapi membaca seluruh artikel. Ini penting agar mahasiswa memahami keseluruhan bangunan artikel yang dikaji.

 

Inspirasi Riset

Meskipun kuliah dilaksanakan secara online namun ada banyak hal menarik yang saya rasakan. Pereview berhasil menyajikan pembahasan secara baik. Ia juga menemukan kesimpulan, metode, dan melakukan analisis kritis.

Salah satu poin penting yang disampaikan adalah pereview mendapatkan inspirasi untuk menindaklanjuti sebagai tema tesis. Bagi saya ini menarik. Pembacaan secara kritis terhadap artikel jurnal merupakan upaya penting untuk mendapatkan pengetahuan dan inspirasi.

Tesis sebagai penelitian titik pijaknya adalah masalah. Berkaitan dengan ini, ada beberapa aspek mendasar yang penting dipahami. Pertama, tesis sebagai penelitian ilmiah sifatnya sistematis. Tahapan-tahapannya tersusun secara logis dan saling berkaitan.

Kedua, dibangun melalui penalaran logis. Logika menghubungkan masalah penelitian, teori, metode, data, analisis, dan kesimpulan menjadi satu kesatuan argumentasi yang utuh. Kualitas sebuah penelitian ditentukan oleh kekuatan argumentasi yang menghubungkan bukti dengan kesimpulan.

Ketiga, bersifat empiris. Aspek yang menjadikan penelitian bersifat empiris bukan jenis datanya melainkan adanya dasar pembuktian yang dapat diperiksa secara ilmiah.

Keempat, penelitian menuntut sikap kritis, termasuk kritis terhadap asumsi peneliti sendiri. Semuanya perlu dipertanyakan. Tidak ada penerimaan begitu saja.

Kelima, penelitian menuntut sikap reflektif. Peneliti perlu menyadari posisi dan keterbatasannya agar penafsiran yang dihasilkan tidak berubah menjadi proyeksi pandangan pribadi.

Keenam, penelitian harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan etis. Secara ilmiah berarti seluruh proses penelitian dilakukan secara transparan sehingga bisa ditelusuri, diuji, dan dikritik oleh peneliti lain. Secara etis mengharuskan peneliti menjaga integritas akademik, menghindari manipulasi data, menghormati hak dan martabat partisipan serta memberikan pengakuan yang layak terhadap karya ilmiah orang lain melalui situasi yang benar.[1]

 

Jebakan Kecerdasan Buatan

Sekarang ini kecerdasan buatan atau AI telah menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan, termasuk di dunia pendidikan tinggi. Satu sisi ada banyak hal penting yang terbantu dengan kehadiran AI. Di sisi lain ada banyak ekses yang dialami, di antaranya aspek etika.

Bagi dosen, AI disikapi dalam tiga bentuk, yaitu menerima, menolak, dan menerima secara kritis. Menerima dilakukan dalam bentuk memanfaatkannya untuk berbagai kepentingan,seperti pendidikan [2] atau penelitian [3]. Mereka yang menolak adalah yang memang tidak menerima terhadap realitas yang telah berkembang sedemikian dinamis. Namun ada juga yang bersikap kritis, terutama terkait dengan dimensi etika [4].

Dosen dengan kewajiban tridarma harus terus melaksanakan penelitian. Di sini yang menjadi tantangan. AI, misalnya ChatGBT, memiliki manfaat dalam mempermudah pelaksanaan penelitian. Namun ChatGBT memunculkan perdebatan terkait dengan etika dan moralitas.

Persoalan semacam ini tentu akan terus tumbuh dan berkembang. Bagaimana pun dosen harus memahami terhadap hal ini. Ia juga perlu menguasai AI secara baik. Namun basis etikanya perlu diperkuat. Jangan sampai AI justru menjadi mesin penghancur etika.

Dimensi ini juga perlu disebarluaskan kepada mahasiswa. Saya percaya bahwa membaca secara baik dengan bingkai etika sangat penting artinya untuk meningkatkan kualitas diri. Shunmyo Masuno menulis bahwa banjir informasi membuat orang lalai terhadap fungsi otak untuk berpikir. Pengetahuan yang bisa diperoleh lewat AI, misalnya, membuat orang tidak selalu menjadi lebih cerdas, bahkan ada kecenderungan membuat orang tidak menjadi arif.

 

Tulungagung, 10-10-2026


[1] Noorhaidi Hasan, The Art of Scientific Inquiry: Menguasai Cara Berpikir, Meneliti, Dan Menulis Ilmiah, ed. Bernando J. Sujibto, (Yogyakarta: SUKA Press, 2026), 24-25.

[2] Salsabila Rheinata Rhamadani Putri Supriadi, Sulistiyani Usman Haedi, and Muhammad Minan Chusni, “Inovasi Pembelajaran Berbasis Teknologi Artificial Intelligence Dalam Pendidikan Di Era Industry 4.0 Dan Society 5.0,” Jurnal Penelitian Sains Dan Pendidikan (JPSP) 2, no. 2 (2022), https://doi.org/10.23971/jpsp.v2i2.4036.

[3] Jun Jie Zhu et al., “ChatGPT and Environmental Research,” Environmental Science and Technology, 2023, https://doi.org/10.1021/acs.est.3c01818.

[4] Michael Reskiantio Pabubung, “Era Kecerdasan Buatan Dan Dampak Terhadap Martabat Manusia Dalam Kajian Etis,” Jurnal Filsafat Indonesia 6, no. 1 (2023), https://doi.org/10.23887/jfi.v6i1.49293.

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.