Mengkaji Artikel, Menemukan Inspirasi Riset
Ngainun Naim
Kuliah Pendekatan Kajian
Islam kali ini mengkaji artikel jurnal dengan judul “Reconstruction of
Humanistic Learning Theory in the Context of Islamic Education: Integrative
Islamic Humanistic Learning as a New Paradigm for Islamic Education Learning”.
Penulisnya Mujahid dan Muqowim. Artikel dimuat di Jurnal Pendidikan Agama
Islam, Volume 23 Nomor 1, 2026. Link artikel: https://ejournal.uin-suka.ac.id/tarbiyah/jpai/article/view/v23i1.13305.
Artikel yang dikaji ini
berasal dari jurnal yang terindeks Scopus Q1 dengan SJR 0,26. Ada beberapa pertimbangan
mengapa memilih artikel-artikel dari jurnal terindeks Scopus yang dikaji oleh
mahasiswa. Pertama, memperkenalkan mahasiswa dengan artikel-artikel di
jurnal terindeks Scopus. Di tengah gempuran AI, upaya ini sangat penting agar
mereka tidak sekadar merujuk ke hasil AI, tetapi benar-benar mengetahui artikel
seperti apa yang bisa dimuat di jurnal terindeks Scopus.
Kedua, mahasiswa harus membaca artikel secara cermat. Ada beberapa pertanyaan yang
saya ajukan. Jawaban atas pertanyaan kemudian disusun menjadi paper yang
didiskusikan di kelas.
Ketiga, membaca artikel secara utuh merupakan keterampilan yang harus dilatih. Bukan
sebatas membaca abstrak atau kesimpulan tetapi membaca seluruh artikel. Ini penting
agar mahasiswa memahami keseluruhan bangunan artikel yang dikaji.
Inspirasi Riset
Meskipun kuliah
dilaksanakan secara online namun ada banyak hal menarik yang saya rasakan.
Pereview berhasil menyajikan pembahasan secara baik. Ia juga menemukan kesimpulan,
metode, dan melakukan analisis kritis.
Salah satu poin penting
yang disampaikan adalah pereview mendapatkan inspirasi untuk menindaklanjuti
sebagai tema tesis. Bagi saya ini menarik. Pembacaan secara kritis terhadap
artikel jurnal merupakan upaya penting untuk mendapatkan pengetahuan dan
inspirasi.
Tesis sebagai penelitian
titik pijaknya adalah masalah. Berkaitan dengan ini, ada beberapa aspek
mendasar yang penting dipahami. Pertama, tesis sebagai penelitian ilmiah
sifatnya sistematis. Tahapan-tahapannya tersusun secara logis dan saling
berkaitan.
Kedua, dibangun melalui penalaran logis. Logika menghubungkan masalah penelitian,
teori, metode, data, analisis, dan kesimpulan menjadi satu kesatuan argumentasi
yang utuh. Kualitas sebuah penelitian ditentukan oleh kekuatan argumentasi yang
menghubungkan bukti dengan kesimpulan.
Ketiga, bersifat empiris. Aspek yang menjadikan penelitian bersifat empiris bukan
jenis datanya melainkan adanya dasar pembuktian yang dapat diperiksa secara
ilmiah.
Keempat, penelitian menuntut sikap kritis, termasuk kritis terhadap asumsi peneliti
sendiri. Semuanya perlu dipertanyakan. Tidak ada penerimaan begitu saja.
Kelima, penelitian menuntut sikap reflektif. Peneliti perlu menyadari posisi dan
keterbatasannya agar penafsiran yang dihasilkan tidak berubah menjadi proyeksi
pandangan pribadi.
Keenam, penelitian harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan etis. Secara
ilmiah berarti seluruh proses penelitian dilakukan secara transparan sehingga
bisa ditelusuri, diuji, dan dikritik oleh peneliti lain. Secara etis
mengharuskan peneliti menjaga integritas akademik, menghindari manipulasi data,
menghormati hak dan martabat partisipan serta memberikan pengakuan yang layak
terhadap karya ilmiah orang lain melalui situasi yang benar.[1]
Jebakan Kecerdasan Buatan
Sekarang ini kecerdasan
buatan atau AI telah menjadi bagian tidak terpisah dari kehidupan, termasuk di
dunia pendidikan tinggi. Satu sisi ada banyak hal penting yang terbantu dengan
kehadiran AI. Di sisi lain ada banyak ekses yang dialami, di antaranya
aspek etika.
Bagi dosen, AI disikapi
dalam tiga bentuk, yaitu menerima, menolak, dan menerima secara kritis.
Menerima dilakukan dalam bentuk memanfaatkannya untuk berbagai
kepentingan,seperti pendidikan [2]
atau penelitian [3]. Mereka
yang menolak adalah yang memang tidak menerima terhadap realitas yang telah
berkembang sedemikian dinamis. Namun ada juga yang bersikap kritis, terutama
terkait dengan dimensi etika [4].
Dosen dengan kewajiban
tridarma harus terus melaksanakan penelitian. Di sini yang menjadi tantangan.
AI, misalnya ChatGBT, memiliki manfaat dalam mempermudah pelaksanaan
penelitian. Namun ChatGBT memunculkan perdebatan terkait dengan etika dan
moralitas.
Persoalan semacam ini
tentu akan terus tumbuh dan berkembang. Bagaimana pun dosen harus memahami
terhadap hal ini. Ia juga perlu menguasai AI secara baik. Namun basis etikanya
perlu diperkuat. Jangan sampai AI justru menjadi mesin penghancur etika.
Dimensi ini juga perlu
disebarluaskan kepada mahasiswa. Saya percaya bahwa membaca secara baik dengan
bingkai etika sangat penting artinya untuk meningkatkan kualitas diri. Shunmyo
Masuno menulis bahwa banjir informasi membuat orang lalai terhadap fungsi
otak untuk berpikir. Pengetahuan yang bisa diperoleh lewat AI, misalnya, membuat orang tidak
selalu menjadi lebih cerdas, bahkan ada kecenderungan membuat orang tidak
menjadi arif.
Tulungagung, 10-10-2026
[1] Noorhaidi Hasan, The Art of
Scientific Inquiry: Menguasai Cara Berpikir, Meneliti, Dan Menulis Ilmiah,
ed. Bernando J. Sujibto, (Yogyakarta: SUKA Press, 2026), 24-25.
[2] Salsabila Rheinata Rhamadani Putri Supriadi, Sulistiyani Usman Haedi, and
Muhammad Minan Chusni, “Inovasi Pembelajaran Berbasis Teknologi Artificial
Intelligence Dalam Pendidikan Di Era Industry 4.0 Dan Society 5.0,” Jurnal Penelitian Sains Dan Pendidikan
(JPSP) 2, no. 2 (2022), https://doi.org/10.23971/jpsp.v2i2.4036.
[3] Jun Jie Zhu et al., “ChatGPT and Environmental Research,” Environmental Science and Technology,
2023, https://doi.org/10.1021/acs.est.3c01818.
[4] Michael Reskiantio Pabubung, “Era Kecerdasan Buatan Dan Dampak Terhadap
Martabat Manusia Dalam Kajian Etis,” Jurnal
Filsafat Indonesia 6, no. 1 (2023),
https://doi.org/10.23887/jfi.v6i1.49293.

Inspiratif
BalasHapusTerima kasih.
Hapus