Inspirasi Riset dari Jepang
Ngainun Naim
Aspek yang penting dari riset bukan hanya proposal,
pelaksanaan riset, dan publikasi hasil riset. Ada aspek lain yang jauh lebih
penting yaitu ekosistem. Ketika ekosistem riset sudah terbangun dengan
mapan maka riset-riset yang dihasilkan akan berkualitas dan berdampak.
Pokok-pokok pikiran di atas yang—antara lain—disampaikan
oleh Muhammad Bisri Musthafa, Ph.D., Project Assistant Profesor, Center for
Social Data Structuring Research for Organization of Information and System
(ROIS) Tokyo.
Dalam Global Research Talk#1 yang dilaksanakan via Zoom
pada Senin 14 September 2026 diuraikan banyak hal yang menarik dan penting.
Jepang memiliki relasi yang panjang dengan Indonesia.
Dalam konteks sekarang, sebagaimana disampaikan oleh Nakamura, Jepang merupakan
sahabat dekat Indonesia. Selain itu, Indonesia di mata Jepang merupakan salah satu
lahan investasi terbesar, mitra dagang penting dan penerima bantuan terbesar (Nakamura, 2025, p. 622).
Peneliti Jepang, dalam penjelasan Musthafa, biasanya
tidak hanya memiliki afiliasi pada satu kampus tetapi juga memiliki afiliasi di
perusahaan-perusahaan. Hal ini dimungkinkan karena dunia riset dan perusahaan
memiliki relasi yang erat. Hasil-hasil riset diperlukan oleh perusahaan. Kampus
juga terdorong untuk terus menghasilkan riset yang sejalan dengan kebutuhan
dunia industri.
Aspek lain yang juga menarik adalah kultur Jepang. Di
negeri tersebut, privasi itu diutamakan dan dilindungi. Orang tidak bisa asal memotret, apalagi kemudian mengunggahnya di media sosial. Informasi semacam ini
penting sebagai pengetahuan. Juga sebagai dasar pertimbangan tindakan ketika,
misalnya, kita berkunjung ke Jepang.
Kultur lain yang juga menarik adalah model komunikasi. Di
Indonesia, komunikasi dominan dilakukan melalui WA. Di Jepang, komunikasi
dilakukan melalui e-mail.
Paparan tentang global research mindset juga
penting untuk dicermati. Musthafa menulis empat poin terkait hal ini. Pertama,
think globally. Dalam konteks riset, perlu dipikirkan untuk mengangkat tema
yang sifatnya tidak hanya lokal. Pada langkah awal bisa saja tema yang diangkat
lokal. Selanjutnya perlu mengangkat tema nasional, lalu tema global. Aspek ini penting
dipertimbangkan karena bisa menarik ilmuwan global untuk memperbincangkan dan
mengutip poin-poin penting dari riset yang dihasilkan.
Kedua, research collaboratively. Tantangan riset sekarang ini bukan hanya riset
monodisipliner. Karena itu penting melakukan riset lintas bidang ilmu yang
lebih sejalan dengan dinamika perkembangan yang ada.
Ketiga, publish internationally. Hal ini memungkinkan sebuah artikel hasil penelitian
untuk dibaca oleh para peneliti lintas negara. Jadi tidak hanya dibaca oleh
para peneliti lokal.
Keempat, create impact. Hasil penelitian seharusnya tidak hanya berhenti di
meja kerja dan terbit di jurnal tetapi juga bisa diterapkan secara praktis.
Inilah yang belakangan disebut sebagai berdampak.
Empat hal terkait global research mindset ini
penting karena iklim yang selama ini berkembang—khususnya di UIN Sayyid Ali
Rahmatullah Tulungagung—belum sampai ke taraf tersebut.
Penjelasan lain yang juga menarik terkait objek riset. Ada
banyak bidang ilmu yang bisa dijadikan topik riset di Jepang, antara lain,
Studi Islam, minoritas Muslim, pendidikan Islam, ekonomi halal, moderasi
beragama, dan pembangunan masyarakat Muslim. Bidang-bidang ini potensial untuk
ditelusuri, diteliti, dan kemudian dijadikan sebagai bahan untuk memperkaya
khazanah keilmuan dan pendidikan di Indonesia.
Publikasi, bagi dosen, menjadi penentu dalam banyak hal. Kenaikan
pangkat, misalnya, ditentukan oleh publikasi artikel jurnal. Pertanyaannya, apakah
publikasi merupakan tujuan akhir?
Dalam kaitan ini, menarik menyimak penuturan peneliti
asli Tulungagung ini. Menurut beliau, publikasi itu bukan tujuan final. Publikasi
yang berkualitas memiliki banyak dampak, seperti seperti academic visibility.
Publikasi bisa meningkatkan pengakuan di dalam komunitas akademik.
Publikasi juga bisa membuka peluang bagi lahirnya
kolaborasi riset. Tidak hanya dengan periset lokal, tetapi juga periset dari
berbagai negara di dunia.
Pendanaan riset dalam skala global juga terbuka. Memang tidak
mudah namun perlu diperjuangkan. Sepanjang proposal bagus dan tim penelitinya
memiliki kompetensi, peluang itu selalu terbuka.
Ada banyak lagi dampak yang bisa diperoleh. Substansinya adalah
bagaimana melakukan penelitian secara baik dan mempublikasikannya di jurnal
bereputasi. Melalui cara-cara semacam inilah rekognisi dan manfaat akan
diperoleh. Dari Jepang kita bisa belajar banyak hal.
Tulungagung, 17 September 2026

Tidak ada komentar: