Inspirasi Riset dari Jepang

September 17, 2026

Ngainun Naim

 

Aspek yang penting dari riset bukan hanya proposal, pelaksanaan riset, dan publikasi hasil riset. Ada aspek lain yang jauh lebih penting yaitu ekosistem. Ketika ekosistem riset sudah terbangun dengan mapan maka riset-riset yang dihasilkan akan berkualitas dan berdampak.

Pokok-pokok pikiran di atas yang—antara lain—disampaikan oleh Muhammad Bisri Musthafa, Ph.D., Project Assistant Profesor, Center for Social Data Structuring Research for Organization of Information and System (ROIS) Tokyo.

Dalam Global Research Talk#1 yang dilaksanakan via Zoom pada Senin 14 September 2026 diuraikan banyak hal yang menarik dan penting.

Jepang memiliki relasi yang panjang dengan Indonesia. Dalam konteks sekarang, sebagaimana disampaikan oleh Nakamura, Jepang merupakan sahabat dekat Indonesia. Selain itu, Indonesia di mata Jepang merupakan salah satu lahan investasi terbesar, mitra dagang penting dan penerima bantuan terbesar (Nakamura, 2025, p. 622).

Peneliti Jepang, dalam penjelasan Musthafa, biasanya tidak hanya memiliki afiliasi pada satu kampus tetapi juga memiliki afiliasi di perusahaan-perusahaan. Hal ini dimungkinkan karena dunia riset dan perusahaan memiliki relasi yang erat. Hasil-hasil riset diperlukan oleh perusahaan. Kampus juga terdorong untuk terus menghasilkan riset yang sejalan dengan kebutuhan dunia industri.

Aspek lain yang juga menarik adalah kultur Jepang. Di negeri tersebut, privasi itu diutamakan dan dilindungi. Orang tidak bisa asal memotret, apalagi kemudian mengunggahnya di media sosial. Informasi semacam ini penting sebagai pengetahuan. Juga sebagai dasar pertimbangan tindakan ketika, misalnya, kita berkunjung ke Jepang.

Kultur lain yang juga menarik adalah model komunikasi. Di Indonesia, komunikasi dominan dilakukan melalui WA. Di Jepang, komunikasi dilakukan melalui e-mail.

Paparan tentang global research mindset juga penting untuk dicermati. Musthafa menulis empat poin terkait hal ini. Pertama, think globally. Dalam konteks riset, perlu dipikirkan untuk mengangkat tema yang sifatnya tidak hanya lokal. Pada langkah awal bisa saja tema yang diangkat lokal. Selanjutnya perlu mengangkat tema nasional, lalu tema global. Aspek ini penting dipertimbangkan karena bisa menarik ilmuwan global untuk memperbincangkan dan mengutip poin-poin penting dari riset yang dihasilkan.

Kedua, research collaboratively. Tantangan riset sekarang ini bukan hanya riset monodisipliner. Karena itu penting melakukan riset lintas bidang ilmu yang lebih sejalan dengan dinamika perkembangan yang ada.

Ketiga, publish internationally. Hal ini memungkinkan sebuah artikel hasil penelitian untuk dibaca oleh para peneliti lintas negara. Jadi tidak hanya dibaca oleh para peneliti lokal.

Keempat, create impact. Hasil penelitian seharusnya tidak hanya berhenti di meja kerja dan terbit di jurnal tetapi juga bisa diterapkan secara praktis. Inilah yang belakangan disebut sebagai berdampak.

Empat hal terkait global research mindset ini penting karena iklim yang selama ini berkembang—khususnya di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung—belum sampai ke taraf tersebut.

Penjelasan lain yang juga menarik terkait objek riset. Ada banyak bidang ilmu yang bisa dijadikan topik riset di Jepang, antara lain, Studi Islam, minoritas Muslim, pendidikan Islam, ekonomi halal, moderasi beragama, dan pembangunan masyarakat Muslim. Bidang-bidang ini potensial untuk ditelusuri, diteliti, dan kemudian dijadikan sebagai bahan untuk memperkaya khazanah keilmuan dan pendidikan di Indonesia.

Publikasi, bagi dosen, menjadi penentu dalam banyak hal. Kenaikan pangkat, misalnya, ditentukan oleh publikasi artikel jurnal. Pertanyaannya, apakah publikasi merupakan tujuan akhir?

Dalam kaitan ini, menarik menyimak penuturan peneliti asli Tulungagung ini. Menurut beliau, publikasi itu bukan tujuan final. Publikasi yang berkualitas memiliki banyak dampak, seperti seperti academic visibility. Publikasi bisa meningkatkan pengakuan di dalam komunitas akademik.

Publikasi juga bisa membuka peluang bagi lahirnya kolaborasi riset. Tidak hanya dengan periset lokal, tetapi juga periset dari berbagai negara di dunia.

Pendanaan riset dalam skala global juga terbuka. Memang tidak mudah namun perlu diperjuangkan. Sepanjang proposal bagus dan tim penelitinya memiliki kompetensi, peluang itu selalu terbuka.

Ada banyak lagi dampak yang bisa diperoleh. Substansinya adalah bagaimana melakukan penelitian secara baik dan mempublikasikannya di jurnal bereputasi. Melalui cara-cara semacam inilah rekognisi dan manfaat akan diperoleh. Dari Jepang kita bisa belajar banyak hal.

 

Tulungagung, 17 September 2026

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.