Prof. Tudjimah

Februari 21, 2026


Buku terjemahan Prof. Tudjimah. Koleksi Pribadi.

Ngainun Naim

 

Martin van Bruinessen merupakan seorang intelektual asal Belanda yang cukup berpengaruh. Karya-karyanya dalam bahasa Indonesia atau tentang Islam Indonesia sudah banyak yang terbit, baik dalam bentuk buku maupun artikel. Produktivitas dan kualitas karyanya sudah diakui publik secara luas.

Saya sendiri memiliki beberapa buku yang ditulis oleh Martin. Salah satunya adalah buku dengan judul Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia (Bandung: Mizan, 1992). Buku ini sangat kaya, bahkan disebut sebagai sebagai buku pertama yang mengkaji secara umum sebuah tarekat di Indonesia.

Dulu, di awal tahun 1990-an, saya pernah membaca buku ini. Tentu saat itu tidak memiliki sendiri. Saya meminjam di perpustakaan. Sebagian besar isinya sudah lupa. Beberapa informasi masih melekat dalam ingatan.

Seiring waktu saya akhirnya memiliki buku sangat penting tersebut. Sayangnya saya belum sempat membaca tuntas. Ada cukup banyak alasan untuk menjadi pembenarnya.

Salah satu persoalan yang saya hadapi adalah kesempatan memiliki buku yang tidak sebanding dengan kesempatan membaca. Belakangan saya mulai merubah strategi. Saya membatasi betul kepemilikan buku. Jika memang tidak sangat penting, saya tidak membeli buku. Saya lebih mengoptimalkan membaca buku koleksi yang saya miliki.

Apakah usaha ini selalu berhasil? Tidak juga. Kadang—karena kondisi tertentu—membeli juga banyak buku. Namun setidaknya saya memiliki kontrol yang lebih ketat dalam membeli buku dibandingkan sebelumnya.

Buku karya Martin van Bruinessen. Koleksi pribadi.


Tahun 2026 ini tetiba saya [kembali] menemukan buku karya Martin, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia di rak buku. Saya seperti diajak kembali ke masa lalu. Buku saya ambil dan baca. Membaca buku terbitan tahun 1992 di tahun 2026 ternyata memberikan banyak hal yang menarik.

Salah satu yang menarik adalah nama seorang guru besar Universitas Indonesia yang menulis buku berisi daftar karya Syaikh Yusuf Al-Makassari. Martin menyebut nama ini dua kali, yaitu di halaman 36 dan 38. Lebih jauh ia menulis bahwa Profesor Tudjimah (1987) menyebut 21 teks pendek yang dikaitkan dengan nama Syaikh Yusuf. Beberapa dari teks tampaknya lebih merupakan karya pengarang-pengarang lain yang kebetulan disalin bersama-sama dengan risalah-nya Syaikh Yusuf. Beberapa tulisan Syaikh Yusuf yang lain hanya ditemukan dalam manuskrip belum masuk dalam daftar Prof. Tudjimah.

Informasi tentang nama ini sungguh menarik. Dulu saya yakin sudah pernah membaca nama ini namun mungkin karena kurang perhatian, nama ini tidak masuk dalam ingatan. Baru kali ini nama ini muncul dan mendorong saya untuk menelusuri siapa beliau.

Bagi pengkaji sejarah, nama ini jelas tidak asing. Bagi saya, nama ini merupakan nama yang baru.

Saya pun mengetik nama Prof. Tudjimah di Google Scholar. Ada 124 hasil. Nama beliau menjadi rujukan primer berbagai tulisan yang membahas tentang Syaikh Yusuf. Memang informasinya sekilas dan tidak mendalam. Paling tidak ini menjadi indikasi posisi penting beliau.

Saya kemudian masuk ke google dan mengetik nama beliau. Tidak banyak hasil yang saya dapatkan. Salah satu hasil yang penting adalah tulisan Mutimmatun Nadhifah: https://alif.id/perempuan/mengenal-tudjimah-ulama-perempuan-indonesia. Pada tulisan ini Nadhifah menyebut Tudjimah sebagai ulama perempuan Indonesia. Selain itu, Tudjimah juga termasuk ilmuwan perempuan Indonesia masa awal.

Lahir di Yogyakarta pada tahun 1922, putri dari H. Zaini dan Ny. Aminah Uzair ini menyelesaikan pendidikan dasar, menengah, dan kuliahnya di Yogyakarta. Minat utamanya adalah bahasa Arab yang ditekuninya sejak kecil. Beliau juga meminati bahasa Belanda dan bahasa Inggris.

Saat kuliah di Fakultas Sastra Timur UGM Yogyakarta, beliau mulai menderita rabun malam. Penglihatannya menjadi terbatas. Namun demikian semangatnya dalam belajar, membaca, meneliti, dan menulis tidak padam. Berkat kerja kerasnya, pada tahun 1965 Tudjimah mendapatkan gelar guru besar dari Universitas Indonesia.

Sakit mata yang dideritanya semakin hari semakin parah. Tahun 1981, matanya nyaris tidak berfungsi lagi. Namun ia tidak berhenti. Ia—dengan dibantu staf dan mahasiswa—terus bekerja. Karya demi karya terus dihasilkan. Ia seolah mematahkan keterbatasannya dengan terus berkarya.

Uniknya, ternyata saya juga menemukan salah satu buku yang merupakan terjemahan Tudjimah. Buku yang saya maksud merupakan karya G. F. Pijper dengan judul Fragmenta Islamica, Beberapa Studi Mengenai Sejarah Islam di Indonesia Awal Abad XX (Jakarta: UI Press, 1987). Jelas saya belum membaca buku ini. Setelah menamatkan [kembali] buku karya Martin van Bruinessen, saya ingin membaca buku terjemahan Prof. Tudjimah.

Buku ini saya yakin sangat penting. Pada bagian kata pengantar disampaikan bahwa buku yang awalnya berbahasa Belanda ini termasuk karya yang langka. Terbit pertama kali tahun 1934 dan edisi terjemahan dalam Bahasa Indonesia terbit tahun 1987.

Tentu disayangkan jika buku penting semacam ini terabaikan karena tidak mendapatkan kesempatan dibaca. Kini, saya mencanangkan buku ini sebagai prioritas untuk dibaca dan menelusuri aneka mutiaran ilmu di dalamnya.

 

Trenggalek, 21 Februari 2026


5 komentar:

  1. Tadarus Tulisan Pak Naim di Bulan Ramadan

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah sangat menginspirasi Prof. Naim

    BalasHapus
  3. Selamat membaca buku karya G. F. Pijper dengan judul Fragmenta Islamica, Beberapa Studi Mengenai Sejarah Islam di Indonesia Awal Abad XX (Jakarta: UI Press, 1987). Semoga Oleh Allah swt diberi pemahaman yang kompre untuk kemudian bisa berbagi via spiritliterasi.com. Matur suwun.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.