Prof. Tudjimah
Ngainun
Naim
Martin van
Bruinessen merupakan seorang intelektual asal Belanda yang cukup berpengaruh.
Karya-karyanya dalam bahasa Indonesia atau tentang Islam Indonesia sudah banyak
yang terbit, baik dalam bentuk buku maupun artikel. Produktivitas dan kualitas
karyanya sudah diakui publik secara luas.
Saya
sendiri memiliki beberapa buku yang ditulis oleh Martin. Salah satunya adalah
buku dengan judul Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia (Bandung: Mizan,
1992). Buku ini sangat kaya, bahkan disebut sebagai sebagai buku pertama yang
mengkaji secara umum sebuah tarekat di Indonesia.
Dulu, di
awal tahun 1990-an, saya pernah membaca buku ini. Tentu saat itu tidak memiliki
sendiri. Saya meminjam di perpustakaan. Sebagian besar isinya sudah lupa.
Beberapa informasi masih melekat dalam ingatan.
Seiring waktu
saya akhirnya memiliki buku sangat penting tersebut. Sayangnya saya belum
sempat membaca tuntas. Ada cukup banyak alasan untuk menjadi pembenarnya.
Salah satu
persoalan yang saya hadapi adalah kesempatan memiliki buku yang tidak sebanding
dengan kesempatan membaca. Belakangan saya mulai merubah strategi. Saya membatasi
betul kepemilikan buku. Jika memang tidak sangat penting, saya tidak membeli
buku. Saya lebih mengoptimalkan membaca buku koleksi yang saya miliki.
Apakah usaha
ini selalu berhasil? Tidak juga. Kadang—karena kondisi tertentu—membeli juga
banyak buku. Namun setidaknya saya memiliki kontrol yang lebih ketat dalam
membeli buku dibandingkan sebelumnya.
Tahun 2026
ini tetiba saya [kembali] menemukan buku karya Martin, Tarekat
Naqsyabandiyah di Indonesia di rak buku. Saya seperti diajak kembali
ke masa lalu. Buku saya ambil dan baca. Membaca buku terbitan tahun 1992 di
tahun 2026 ternyata memberikan banyak hal yang menarik.
Salah satu
yang menarik adalah nama seorang guru besar Universitas Indonesia yang menulis
buku berisi daftar karya Syaikh Yusuf Al-Makassari. Martin menyebut nama ini
dua kali, yaitu di halaman 36 dan 38. Lebih jauh ia menulis bahwa Profesor
Tudjimah (1987) menyebut 21 teks pendek yang dikaitkan dengan nama Syaikh
Yusuf. Beberapa dari teks tampaknya lebih merupakan karya pengarang-pengarang lain
yang kebetulan disalin bersama-sama dengan risalah-nya Syaikh Yusuf.
Beberapa tulisan Syaikh Yusuf yang lain hanya ditemukan dalam manuskrip belum
masuk dalam daftar Prof. Tudjimah.
Informasi
tentang nama ini sungguh menarik. Dulu saya yakin sudah pernah membaca nama ini
namun mungkin karena kurang perhatian, nama ini tidak masuk dalam ingatan. Baru
kali ini nama ini muncul dan mendorong saya untuk menelusuri siapa beliau.
Bagi pengkaji
sejarah, nama ini jelas tidak asing. Bagi saya, nama ini merupakan nama yang
baru.
Saya pun
mengetik nama Prof. Tudjimah di Google Scholar. Ada 124 hasil. Nama beliau
menjadi rujukan primer berbagai tulisan yang membahas tentang Syaikh Yusuf. Memang
informasinya sekilas dan tidak mendalam. Paling tidak ini menjadi indikasi
posisi penting beliau.
Saya kemudian
masuk ke google dan mengetik nama beliau. Tidak banyak hasil yang saya
dapatkan. Salah satu hasil yang penting adalah tulisan Mutimmatun Nadhifah: https://alif.id/perempuan/mengenal-tudjimah-ulama-perempuan-indonesia.
Pada tulisan ini Nadhifah menyebut Tudjimah sebagai ulama perempuan Indonesia. Selain
itu, Tudjimah juga termasuk ilmuwan perempuan Indonesia masa awal.
Lahir di
Yogyakarta pada tahun 1922, putri dari H. Zaini dan Ny. Aminah Uzair ini menyelesaikan
pendidikan dasar, menengah, dan kuliahnya di Yogyakarta. Minat utamanya adalah
bahasa Arab yang ditekuninya sejak kecil. Beliau juga meminati bahasa Belanda
dan bahasa Inggris.
Saat kuliah
di Fakultas Sastra Timur UGM Yogyakarta, beliau mulai menderita rabun malam. Penglihatannya
menjadi terbatas. Namun demikian semangatnya dalam belajar, membaca, meneliti,
dan menulis tidak padam. Berkat kerja kerasnya, pada tahun 1965 Tudjimah
mendapatkan gelar guru besar dari Universitas Indonesia.
Sakit mata
yang dideritanya semakin hari semakin parah. Tahun 1981, matanya nyaris tidak
berfungsi lagi. Namun ia tidak berhenti. Ia—dengan dibantu staf dan mahasiswa—terus
bekerja. Karya demi karya terus dihasilkan. Ia seolah mematahkan
keterbatasannya dengan terus berkarya.
Uniknya,
ternyata saya juga menemukan salah satu buku yang merupakan terjemahan
Tudjimah. Buku yang saya maksud merupakan karya G. F. Pijper dengan judul Fragmenta
Islamica, Beberapa Studi Mengenai Sejarah Islam di Indonesia Awal Abad XX (Jakarta:
UI Press, 1987). Jelas saya belum membaca buku ini. Setelah menamatkan [kembali]
buku karya Martin van Bruinessen, saya ingin membaca buku terjemahan Prof.
Tudjimah.
Buku ini
saya yakin sangat penting. Pada bagian kata pengantar disampaikan bahwa buku
yang awalnya berbahasa Belanda ini termasuk karya yang langka. Terbit pertama
kali tahun 1934 dan edisi terjemahan dalam Bahasa Indonesia terbit tahun 1987.
Tentu
disayangkan jika buku penting semacam ini terabaikan karena tidak mendapatkan
kesempatan dibaca. Kini, saya mencanangkan buku ini sebagai prioritas untuk
dibaca dan menelusuri aneka mutiaran ilmu di dalamnya.
Trenggalek, 21 Februari 2026


Tadarus Tulisan Pak Naim di Bulan Ramadan
BalasHapusTerima kasih
HapusAlhamdulillah sangat menginspirasi Prof. Naim
BalasHapusAlhamdulillah
HapusSelamat membaca buku karya G. F. Pijper dengan judul Fragmenta Islamica, Beberapa Studi Mengenai Sejarah Islam di Indonesia Awal Abad XX (Jakarta: UI Press, 1987). Semoga Oleh Allah swt diberi pemahaman yang kompre untuk kemudian bisa berbagi via spiritliterasi.com. Matur suwun.
BalasHapus