Memantaskan Diri dan Mengabdi Lewat Karya
Ngainun Naim
Hari Senin
tanggal 7 September 2026 saya mengisi acara secara Online di UIN Syahada
Padangsidimpuan. Acara ini menarik dan menantang. Saya mencatat banyak hal dari
kegiatan ini, khususnya kontribusi pemikiran Rektor UIN Syahada yang menunggui
sepanjang acara.
Dosen dan
penelitian itu dua hal yang saling berkaitan. Salah satu dharma yang harus
dijalankan oleh dosen adalah penelitian. Tanpa melakukan penelitian, dharma
dosen tidak lengkap. Implikasinya luas, mulai dari keterpenuhan Beban Kerja
Dosen (BKD), akreditasi lembaga, sampai persoalan karir.
Meskipun
memiliki relasi erat dan menentukan banyak aspek—personal dan
institusional—namun belum semua dosen melaksanakan penelitian secara maksimal.
Tentu tidak mudah mengurai akar penyebabnya. Sama seperti tidak mudahnya
mencari solusi atas persoalan yang ada.
Ketika seseorang
memilih dosen sebagai profesi dalam hidup maka idealnya menjalani karir secara
baik. Jika ada yang kurang maka—meminjam istilah Prof. Dr. Sumper Mulia
Harahap, M.Ag, Rektor UIN Syahada Padangsidimpuan—berusaha bagaimana
memantaskan diri. Berbagai upaya perlu dilakukan agar profesi yang dijalani
berjalan optimal. Memang untuk itu perlu pengorbanan, perjuangan, dan modal. Jika
semua hambatan mampu diatasi maka penelitian—dalam kerangka yang luas—bisa
dimaknai sebagai ikhtiar dosen melakukan pengabdian. Ya, mengabdi lewat karya.
Pada bagian lain
Prof. Dr. Sumper Mulia Harahap menegaskan pentingnya mencintai profesi sebagai
dosen. Jangan mendua. Bentuk kecintaan terhadap profesi sebagai dosen
diwujudkan—antara lain—dengan menghasilkan karya-karya akademik yang bermutu.
Kerja-kerja
akademik memang tidak selalu mudah. Namun demikian sepanjang memiliki komitmen
diri yang kuat, usaha yang serius, dan dilakukan secara konsisten maka tidak
ada yang tidak mungkin. Para dosen yang sukses dalam karir akademik adalah
mereka yang mampu merawat spirit akademik secara berkelanjutan.
Seorang dosen,
agar hidupnya berkah, perlu memiliki empat jenis kesucian. Pertama, kesucian
finansial. Hal ini ditandai dengan menjaga diri dari mencari rezeki dari jalur
yang tidak baik. Kedua, kesucian biologis. Hal ini dilakukan dengan
merawat fisik secara baik. Ketiga, kesucian ideologis. Ini berkaitan
dengan bagaimana selalu berusaha menjalankan ajaran agama secara baik. Keempat,
kesucian intelektual. Aspek ini harus dirawat, diberdayakan, dan
dimaksimalkan sehingga selalu bisa memunculkan kebaruan dari karya-karya
akademik yang dihasilkan.
Strategi Menulis Proposal
Pada kesempatan
presentasi saya menyampaikan beberapa hal. Aspek mendasar yang pertama
berkaitan dengan proposal adalah aspek teknis dan aspek substantif. Aspek
teknis berkaitan dengan ketentuan administratif. Jika seseorang mengajukan
proposal penelitian maka acuan administratifnya adalah juklak dan juknis.
Hal-hal yang ada di dalam juklak dan juknis harus dibaca secara cermat dan
diikuti. Jangan sampai dilanggar dan diabaikan karena bisa berimplikasi pada
gugur secara administratif.
Sungguh
disayangkan jika membuat sebuah proposal yang penuh perjuangan harus gugur
karena faktor teknis administratif. Meski tidak sama persis, ini mirip template
pada jurnal. Sebagus apa pun sebuah artikel dibuat jika tidak sesuai template,
besar kemungkinan akan ditolak.
Aspek yang kedua
adalah substansi. Di sini diperlukan keseriusan membuatnya. Sangat jarang
proposal bagus selesai dengan sekali jadi. Perlu diskusi, perjuangan, dan
berbagai perbaikan sampai sebuah proposal layak untuk disubmit dan akhirnya
didanai.
Pembuat proposal
perlu memiliki setidaknya empat modal dasar, yaitu metodologi penelitian,
filsafat ilmu, bacaan, dan bahasa. Metodologi penelitian menjadi modal wajib
karena akan melaksanakan penelitian. Filsafat ilmu bermanfaat untuk mengetahui
dimensi-dimensi filosofis dari topik yang dibahas. Bacaan untuk membantu
menyambungkan ide dan gagasan yang menarik diangkat. Bahasa untuk memperluas
horizon sumber referensi yang digunakan.
Proses membuat
proposal setidaknya melewati lima tahap, yaitu mencari dan menemukan tema,
memantapkan tema yang sudah dipilih, mengumpulkan referensi-referensi
pendukung, membuat draf proposal, dan menyusun proposal. Kelima tahap ini tidak
menjadi tahapan kaku. Bisa saja tahapnya maju mundur atau melompat. Prinsipnya
bagaimana proposal bisa dibuat sampai selesai. Prosesnya pun sangat terbuka
untuk perbaikan demi perbaikan.
Tidak Selalu Mudah
Membuat proposal
tidak mudah. Dalam taraf tertentu bahkan sulit. Siapa pun orangnya, ahli
sekalipun, pernah mengalami sulitnya membuat proposal penelitian.
Realitas ini
bukan untuk melemahkan semangat tetapi justru untuk menumbuhkan semangat. Jika
ditelusuri, sulitnya membuat proposal itu ada berbagai kemungkinan. Pertama,
ada kemungkinan tema yang dipilih memang bukan tema yang mudah ditulis.
Lebih-lebih lagi apabila tema tersebut memerlukan penjelasan akurat lewat
angka-angka yang harus disajikan dalam bentuk tabel atau grafik. Kedua, penulis
tidak menguasai sepenuhnya materi dari tema yang ditulis. Ketiga, penulis
belum terlatih mengungkapkan pikiran dalam bahasa tulis. Keempat, kurang
banyak membaca. Kelima, penulis proposal tidak pernah menulis karena
bergantung kepada “ghost writer”. Keenam, ditulis menjelang tenggat.
Jika ditelusuri,
sangat mungkin masih banyak faktor yang menjadi penyebab. Ditemukannya faktor
ini menjadi modal untuk menemukan solusi. Bukan justru semakin memperumit
persoalan.
Saya beberapa
kali berdiskusi dengan kawan-kawan dosen muda terkait topik ini. Salah satu
hasilnya adalah identifikasi persoalan yang sifatnya psikologis. Hasil
identifikasi yang saya catat adalah: inspirasi yang tidak kunjung datang, sulitnya
memulai, ragu-ragu, tidak percaya diri, kandas di tengah jalan, dan muaranya
adalah MALAS.
Lima Kunci
Ada lima kunci
yang penting dipertimbangkan agar proposal penelitian lancar ditulis. Pertama,
membaca. Mustahil ada proposal penelitian yang baik jika penelitinya tidak
memiliki tradisi membaca yang kuat. Tradisi membaca merupakan modal penting untuk
menghasilkan proposal penelitian yang baik. Jika kurang membaca, kalaupun jadi
maka hasilnya juga kurang baik.
Kedua, berjejaring. Peneliti harus memiliki jaringan pertemanan
yang luas. Memiliki komunikasi intensif dengan sesama peneliti memungkinkan
terjaganya stamina dalam melakukan penelitian. Informasi, pengetahuan, dan
wawasan bisa meningkat dengan mengambil sisi positif berbagai jejaring sosial
(FB, twitter, blog, buku, email, dan sebagainya). Peneliti yang baik akan
mendapatkan banyak manfaat dari berjejaring.
Ketiga, rajin mencatat. Jika ingin membuat proposal penelitian
yang baik maka mencatat menjadi kebutuhan. Menemukan ide dari mana pun—buku,
koran, internet, perbincangan, atau sumber lainnya—harus segera dicatat. Manfaatkan
HP, bloknote, dan miliki folder khusus yang merangkum data-data penting untuk
menulis proposal dan laporan penelitian.
Keempat, memanfaatkan waktu. Proposal penelitian bisa selesai
bukan karena sibuk atau tidak, namun karena semangat dan kemampuan memanfaatkan
jeda atau sela waktu yang ada. Ada waktu 5 atau 10 menit dipakai untuk menulis.
Jangan menunggu waktu kosong atau liburan karena hampir pasti tidak akan mampu
menyelesaikan penelitian.
Kelima, motivasi yang memiliki fungsi sebagaimana lokomotif bagi
gerbong-gerbong kereta atau BBM bagi kendaraan. Betapa pun indah
gerbong-gerbong (diibaratkan ide-ide) kereta, tanpa lokomotif maka tidak akan
jalan. Karena itu, dalam menulis proposal, motivasi menentukan; (1) cara kerja;
(2) proses; (3) rutinitas; (4) kelanggengan; dan (5) kesinambungan proses
kepenulisan.
Tulungagung, 8 September 2026

Tidak ada komentar: