Memantaskan Diri dan Mengabdi Lewat Karya

September 08, 2026



Ngainun Naim

 

Hari Senin tanggal 7 September 2026 saya mengisi acara secara Online di UIN Syahada Padangsidimpuan. Acara ini menarik dan menantang. Saya mencatat banyak hal dari kegiatan ini, khususnya kontribusi pemikiran Rektor UIN Syahada yang menunggui sepanjang acara.

Dosen dan penelitian itu dua hal yang saling berkaitan. Salah satu dharma yang harus dijalankan oleh dosen adalah penelitian. Tanpa melakukan penelitian, dharma dosen tidak lengkap. Implikasinya luas, mulai dari keterpenuhan Beban Kerja Dosen (BKD), akreditasi lembaga, sampai persoalan karir.

Meskipun memiliki relasi erat dan menentukan banyak aspek—personal dan institusional—namun belum semua dosen melaksanakan penelitian secara maksimal. Tentu tidak mudah mengurai akar penyebabnya. Sama seperti tidak mudahnya mencari solusi atas persoalan yang ada.

Ketika seseorang memilih dosen sebagai profesi dalam hidup maka idealnya menjalani karir secara baik. Jika ada yang kurang maka—meminjam istilah Prof. Dr. Sumper Mulia Harahap, M.Ag, Rektor UIN Syahada Padangsidimpuan—berusaha bagaimana memantaskan diri. Berbagai upaya perlu dilakukan agar profesi yang dijalani berjalan optimal. Memang untuk itu perlu pengorbanan, perjuangan, dan modal. Jika semua hambatan mampu diatasi maka penelitian—dalam kerangka yang luas—bisa dimaknai sebagai ikhtiar dosen melakukan pengabdian. Ya, mengabdi lewat karya.

Pada bagian lain Prof. Dr. Sumper Mulia Harahap menegaskan pentingnya mencintai profesi sebagai dosen. Jangan mendua. Bentuk kecintaan terhadap profesi sebagai dosen diwujudkan—antara lain—dengan menghasilkan karya-karya akademik yang bermutu.

Kerja-kerja akademik memang tidak selalu mudah. Namun demikian sepanjang memiliki komitmen diri yang kuat, usaha yang serius, dan dilakukan secara konsisten maka tidak ada yang tidak mungkin. Para dosen yang sukses dalam karir akademik adalah mereka yang mampu merawat spirit akademik secara berkelanjutan.

Seorang dosen, agar hidupnya berkah, perlu memiliki empat jenis kesucian. Pertama, kesucian finansial. Hal ini ditandai dengan menjaga diri dari mencari rezeki dari jalur yang tidak baik. Kedua, kesucian biologis. Hal ini dilakukan dengan merawat fisik secara baik. Ketiga, kesucian ideologis. Ini berkaitan dengan bagaimana selalu berusaha menjalankan ajaran agama secara baik. Keempat, kesucian intelektual. Aspek ini harus dirawat, diberdayakan, dan dimaksimalkan sehingga selalu bisa memunculkan kebaruan dari karya-karya akademik yang dihasilkan.

 

Strategi Menulis Proposal

Pada kesempatan presentasi saya menyampaikan beberapa hal. Aspek mendasar yang pertama berkaitan dengan proposal adalah aspek teknis dan aspek substantif. Aspek teknis berkaitan dengan ketentuan administratif. Jika seseorang mengajukan proposal penelitian maka acuan administratifnya adalah juklak dan juknis. Hal-hal yang ada di dalam juklak dan juknis harus dibaca secara cermat dan diikuti. Jangan sampai dilanggar dan diabaikan karena bisa berimplikasi pada gugur secara administratif.

Sungguh disayangkan jika membuat sebuah proposal yang penuh perjuangan harus gugur karena faktor teknis administratif. Meski tidak sama persis, ini mirip template pada jurnal. Sebagus apa pun sebuah artikel dibuat jika tidak sesuai template, besar kemungkinan akan ditolak.

Aspek yang kedua adalah substansi. Di sini diperlukan keseriusan membuatnya. Sangat jarang proposal bagus selesai dengan sekali jadi. Perlu diskusi, perjuangan, dan berbagai perbaikan sampai sebuah proposal layak untuk disubmit dan akhirnya didanai.

Pembuat proposal perlu memiliki setidaknya empat modal dasar, yaitu metodologi penelitian, filsafat ilmu, bacaan, dan bahasa. Metodologi penelitian menjadi modal wajib karena akan melaksanakan penelitian. Filsafat ilmu bermanfaat untuk mengetahui dimensi-dimensi filosofis dari topik yang dibahas. Bacaan untuk membantu menyambungkan ide dan gagasan yang menarik diangkat. Bahasa untuk memperluas horizon sumber referensi yang digunakan.

Proses membuat proposal setidaknya melewati lima tahap, yaitu mencari dan menemukan tema, memantapkan tema yang sudah dipilih, mengumpulkan referensi-referensi pendukung, membuat draf proposal, dan menyusun proposal. Kelima tahap ini tidak menjadi tahapan kaku. Bisa saja tahapnya maju mundur atau melompat. Prinsipnya bagaimana proposal bisa dibuat sampai selesai. Prosesnya pun sangat terbuka untuk perbaikan demi perbaikan.

 

Tidak Selalu Mudah

Membuat proposal tidak mudah. Dalam taraf tertentu bahkan sulit. Siapa pun orangnya, ahli sekalipun, pernah mengalami sulitnya membuat proposal penelitian.

Realitas ini bukan untuk melemahkan semangat tetapi justru untuk menumbuhkan semangat. Jika ditelusuri, sulitnya membuat proposal itu ada berbagai kemungkinan. Pertama, ada kemungkinan tema yang dipilih memang bukan tema yang mudah ditulis. Lebih-lebih lagi apabila tema tersebut memerlukan penjelasan akurat lewat angka-angka yang harus disajikan dalam bentuk tabel atau grafik. Kedua, penulis tidak menguasai sepenuhnya materi dari tema yang ditulis. Ketiga, penulis belum terlatih mengungkapkan pikiran dalam bahasa tulis. Keempat, kurang banyak membaca. Kelima, penulis proposal tidak pernah menulis karena bergantung kepada “ghost writer”. Keenam, ditulis menjelang tenggat.

Jika ditelusuri, sangat mungkin masih banyak faktor yang menjadi penyebab. Ditemukannya faktor ini menjadi modal untuk menemukan solusi. Bukan justru semakin memperumit persoalan.

Saya beberapa kali berdiskusi dengan kawan-kawan dosen muda terkait topik ini. Salah satu hasilnya adalah identifikasi persoalan yang sifatnya psikologis. Hasil identifikasi yang saya catat adalah: inspirasi yang tidak kunjung datang, sulitnya memulai, ragu-ragu, tidak percaya diri, kandas di tengah jalan, dan muaranya adalah MALAS.

 

Lima Kunci

Ada lima kunci yang penting dipertimbangkan agar proposal penelitian lancar ditulis. Pertama, membaca. Mustahil ada proposal penelitian yang baik jika penelitinya tidak memiliki tradisi membaca yang kuat. Tradisi membaca merupakan modal penting untuk menghasilkan proposal penelitian yang baik. Jika kurang membaca, kalaupun jadi maka hasilnya juga kurang baik.

Kedua, berjejaring. Peneliti harus memiliki jaringan pertemanan yang luas. Memiliki komunikasi intensif dengan sesama peneliti memungkinkan terjaganya stamina dalam melakukan penelitian. Informasi, pengetahuan, dan wawasan bisa meningkat dengan mengambil sisi positif berbagai jejaring sosial (FB, twitter, blog, buku, email, dan sebagainya). Peneliti yang baik akan mendapatkan banyak manfaat dari berjejaring.

Ketiga, rajin mencatat. Jika ingin membuat proposal penelitian yang baik maka mencatat menjadi kebutuhan. Menemukan ide dari mana pun—buku, koran, internet, perbincangan, atau sumber lainnya—harus segera dicatat. Manfaatkan HP, bloknote, dan miliki folder khusus yang merangkum data-data penting untuk menulis proposal dan laporan penelitian.

Keempat, memanfaatkan waktu. Proposal penelitian bisa selesai bukan karena sibuk atau tidak, namun karena semangat dan kemampuan memanfaatkan jeda atau sela waktu yang ada. Ada waktu 5 atau 10 menit dipakai untuk menulis. Jangan menunggu waktu kosong atau liburan karena hampir pasti tidak akan mampu menyelesaikan penelitian.

Kelima, motivasi yang memiliki fungsi sebagaimana lokomotif bagi gerbong-gerbong kereta atau BBM bagi kendaraan. Betapa pun indah gerbong-gerbong (diibaratkan ide-ide) kereta, tanpa lokomotif maka tidak akan jalan. Karena itu, dalam menulis proposal, motivasi menentukan; (1) cara kerja; (2) proses; (3) rutinitas; (4) kelanggengan; dan (5) kesinambungan proses kepenulisan.

 

Tulungagung, 8 September 2026

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.