Literasi dan Riset

September 05, 2026



Seorang anak muda gagah ganteng, datang untuk mengungkapkan kebingungannya dan menangis, serta merasa buntu dan tak berarti—hanya karena dulu orangtuanya kaya sekarang melarat, sehingga dia tak bisa kuliah. Itu bukan problem. Itu keringkihan!

Emha Ainun Nadjib, Surat Kepada Kanjeng Nabi, Bandung: Mizan, 2015, 37

 

Kutipan pembuka ini—jika dicermati—menemukan relevansinya dengan kondisi Gen Z sekarang ini. Sebagian mereka tidak kokoh. Mereka tidak teruji untuk menghadapi dinamika kehidupan yang kompleks.

Mereka, meminjam istilah Emha Ainun Nadjid, ringkih. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ringkih diartikan sebagai lemah, rapuh, tidak kokoh, tidak kuat. Tampaknya itulah gambaran sebagian mentalitas generasi muda sekarang.

Tentu saya tidak bermaksud melakukan generalisasi. Masih banyak anak muda yang pejuang, petarung, tahan banting, dan kokoh menghadapi aneka tantangan kehidupan. Mereka inilah yang biasanya sukses dalam kehidupan. Kerasnya kehidupan membuat mereka menjadi manusia yang kuat dalam menapaki setiap jenjang kehidupan.



Perspektif semacam ini penting jika dikaitkan dengan literasi dan riset. Bagaimana logikanya?

Literasi itu lazimnya berkaitan dengan dunia membaca dan menulis. Aktivitas membaca dan menulis merupakan jalan utama bagi kemajuan dan sarana memberdayakan potensi diri. Standar keberhasilan pendidikan juga ditentukan oleh tradisi literasi.

Dalam konteks yang lebih luas, literasi dimaknai—antara lain—sebagai sebuah praktik sosial yang melibatkan kegiatan berbicara, menulis, membaca, menyimak dalam proses memproduksi ide dan mengkonstruksi makna yang terjadi dalam konteks budaya yang spesifik. Seorang siswa bisa disebut sudah sampai pada tahap literat ketika mampu menggunakan potensinya untuk berpartisipasi secara optimal dalam komunitas dan lingkungan sosialnya (Damayanti, 2017, p. 12).

Tradisi literasi yang telah mapan tidak mudah goyah oleh perubahan. Salah satunya dengan kehadiran Artificial Intelligence atau Kecerdasan Buatan [AI]. Sekarang ini banyak yang merasakan manfaat AI. Namun tidak sedikit yang merasakan keresahan dengan kehadiran AI. Aspek yang sesungguhnya lebih substansial bukan pada kehadiran AI itu sendiri tetapi pada bagaimana memanfaatkan AI secara bijak untuk mendukung aneka kegiatan, di antaranya riset.



Seorang spiritualis dari Jepang, Sunmyô Masuno menyatakan bahwa banjir informasi membuat orang lalai terhadap fungsi otak untuk berpikir. Pengetahuan yang bisa diperoleh lewat AI, misalnya, membuat orang tidak selalu menjadi lebih cerdas, bahkan ada kecenderungan membuat orang tidak menjadi arif.

Pada titik inilah tradisi literasi menemukan signifikansinya. Membaca dan menulis bisa menjadi penopang intelektualitas yang mapan. AI dan segala produk buatannya adalah alat yang bisa mendukung riset. Sebagai alat, ia tidak diposisikan sebagai penentu. Data-data yang diperoleh dijadikan sebagai informasi dan inspirasi. Proses riset sendiri harus dilakukan oleh manusia dengan totalitas.



Amunisi

Riset tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik jika tidak memiliki modal. Apa yang mau diteliti? Bagaimana cara meneliti? Bagaimana data digali? Bagaimana data disajikan? Bagaimana analisis data dilakukan? Dan banyak pertanyaan lain yang berkaitan.

Riset itu tidak mungkin lahir tanpa usaha. Periset berkualitas adalah yang selalu berusaha keras dalam pelaksanaan riset. Kita bisa belajar proses kreatif riset ini dari dunia menulis. Menurut Bambang Trim (2011), tiga hal yang penting dilakukan oleh penulis agar produktif, yaitu banyak membaca, banyak jalan, dan banyak silaturrahim. Membaca perlu dilakukan secara kritis. Banyak jalan dilakukan dengan membuka hati dan kesadaran untuk mengamati fenomena. Silaturrahim dilakukan sebagai wahana untuk belajar kehidupan dan menangkap pernik-pernik hikmah. Perpaduan sinergis ketiganya adalah modal untuk menghasilkan karya. Karya yang baik juga lahir dari niat yang baik. Karya yang baik akan memberikan banyak manfaat positif bagi pembacanya, bahkan bisa menjadi energi untuk transformasi diri.

Riset saya kira memiliki banyak irisan dengan apa yang disampaikan oleh Bambang Trim di atas. Jika ingin riset yang berkualitas maka harus melakukan aneka upaya secara serius dan sistematis agar memperoleh hasil yang maksimal sebagaimana yang diharapkan.

Peneliti itu pembaca yang tekun. Juga sadar proses. Tidak ada riset berkualitas yang dikerjakan secara singkat dan asal-asalan. Ada proses yang panjang dan penuh ketekunan.

 

Trenggalek, 5 September 2026

 

 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.