Literasi dan Riset
Seorang anak muda
gagah ganteng, datang untuk mengungkapkan kebingungannya dan menangis, serta
merasa buntu dan tak berarti—hanya karena dulu orangtuanya kaya sekarang
melarat, sehingga dia tak bisa kuliah. Itu bukan problem. Itu keringkihan!
Kutipan pembuka
ini—jika dicermati—menemukan relevansinya dengan kondisi Gen Z sekarang ini.
Sebagian mereka tidak kokoh. Mereka tidak teruji untuk menghadapi dinamika
kehidupan yang kompleks.
Mereka, meminjam istilah
Emha Ainun Nadjid, ringkih. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ringkih
diartikan sebagai lemah, rapuh, tidak kokoh, tidak kuat. Tampaknya itulah gambaran
sebagian mentalitas generasi muda sekarang.
Tentu saya tidak
bermaksud melakukan generalisasi. Masih banyak anak muda yang pejuang,
petarung, tahan banting, dan kokoh menghadapi aneka tantangan kehidupan. Mereka
inilah yang biasanya sukses dalam kehidupan. Kerasnya kehidupan membuat mereka
menjadi manusia yang kuat dalam menapaki setiap jenjang kehidupan.
Perspektif semacam
ini penting jika dikaitkan dengan literasi dan riset. Bagaimana logikanya?
Literasi itu
lazimnya berkaitan dengan dunia membaca dan menulis. Aktivitas membaca dan
menulis merupakan jalan utama bagi kemajuan dan sarana memberdayakan potensi
diri. Standar keberhasilan pendidikan juga ditentukan oleh tradisi literasi.
Dalam konteks yang
lebih luas, literasi dimaknai—antara lain—sebagai sebuah praktik sosial yang
melibatkan kegiatan berbicara, menulis, membaca, menyimak dalam proses
memproduksi ide dan mengkonstruksi makna yang terjadi dalam konteks budaya yang
spesifik. Seorang siswa bisa disebut sudah sampai pada tahap literat ketika
mampu menggunakan potensinya untuk berpartisipasi secara optimal dalam
komunitas dan lingkungan sosialnya (Damayanti, 2017, p. 12).
Tradisi literasi
yang telah mapan tidak mudah goyah oleh perubahan. Salah satunya dengan
kehadiran Artificial Intelligence atau Kecerdasan Buatan [AI]. Sekarang ini
banyak yang merasakan manfaat AI. Namun tidak sedikit yang merasakan keresahan
dengan kehadiran AI. Aspek yang sesungguhnya lebih substansial bukan pada kehadiran
AI itu sendiri tetapi pada bagaimana memanfaatkan AI secara bijak untuk
mendukung aneka kegiatan, di antaranya riset.
Seorang spiritualis
dari Jepang, Sunmyô Masuno menyatakan bahwa banjir informasi membuat orang lalai terhadap fungsi otak untuk berpikir. Pengetahuan
yang bisa diperoleh lewat AI, misalnya, membuat orang tidak selalu menjadi
lebih cerdas, bahkan ada kecenderungan membuat orang tidak menjadi arif.
Pada titik inilah tradisi literasi menemukan
signifikansinya. Membaca dan menulis bisa menjadi penopang intelektualitas yang
mapan. AI dan segala produk buatannya adalah alat yang bisa mendukung riset. Sebagai
alat, ia tidak diposisikan sebagai penentu. Data-data yang diperoleh dijadikan
sebagai informasi dan inspirasi. Proses riset sendiri harus dilakukan oleh
manusia dengan totalitas.
Amunisi
Riset tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik jika tidak
memiliki modal. Apa yang mau diteliti? Bagaimana cara meneliti? Bagaimana data
digali? Bagaimana data disajikan? Bagaimana analisis data dilakukan? Dan banyak
pertanyaan lain yang berkaitan.
Riset itu tidak mungkin
lahir tanpa usaha. Periset berkualitas adalah yang selalu berusaha keras dalam
pelaksanaan riset. Kita bisa belajar proses kreatif riset ini dari dunia
menulis. Menurut Bambang Trim (2011), tiga hal yang penting dilakukan oleh
penulis agar produktif, yaitu banyak membaca, banyak jalan, dan banyak
silaturrahim. Membaca perlu dilakukan secara kritis. Banyak jalan dilakukan
dengan membuka hati dan kesadaran untuk mengamati fenomena. Silaturrahim
dilakukan sebagai wahana untuk belajar kehidupan dan menangkap pernik-pernik
hikmah. Perpaduan sinergis ketiganya adalah modal untuk menghasilkan karya.
Karya yang baik juga lahir dari niat yang baik. Karya yang baik akan memberikan
banyak manfaat positif bagi pembacanya, bahkan bisa menjadi energi untuk
transformasi diri.
Riset
saya kira memiliki banyak irisan dengan apa yang disampaikan oleh Bambang Trim
di atas. Jika ingin riset yang berkualitas maka harus melakukan aneka upaya secara
serius dan sistematis agar memperoleh hasil yang maksimal sebagaimana yang
diharapkan.
Peneliti
itu pembaca yang tekun. Juga sadar proses. Tidak ada riset berkualitas yang
dikerjakan secara singkat dan asal-asalan. Ada proses yang panjang dan penuh
ketekunan.
Trenggalek,
5 September 2026




Tidak ada komentar: