Menulis NU, Menulis Islam Indonesia
Ngainun Naim
Kontribusi penting Abdurrahman Wahid adalah usahanya
untuk membuka dinamika intelektual di tubuh NU. Ia mengadopsi kebebasan
berpikir dalam merespon berbagai persoalan. Namun ia bisa berkomunikasi dengan
penuh hormat terhadap para kiai sepuh.
Kutipan di awal catatan
ini berasal dari artikel yang ditulis oleh Prof. Dr. Phil. Khoirun Niam.
Artikel yang dimaksud judulnya “Nahdlatul Ulama
and the Production of Muslim Intellectuals in the Beginning of 21st
Century Indonesia,” dan dimuat di Journal
of Indonesian Islam Volume 11 Nomor 2 tahun 2017.
Kutipan
di atas penting sebagai penegas tentang pentingnya dunia intelektual di NU.
Kontribusi Abdurrahman Wahid—khususnya dalam dunia intelektual—masih terasa
pengaruhnya sampai sekarang. Meskipun sekarang ini kondisinya tidak sesemarak
semasa beliau hidup namun tradisi intelektual itu terus hidup di tengah arus
sosial politik yang semakin dinamis.
Tradisi
intelektual ditandai—salah satunya—dengan tradisi riset dan menulis. Tradisi
ini terus eksis, meskipun tidak terlalu subur. Salah satu buktinya adalah buku
dengan judul Nahdlatul Ulama Abad Kedua (Tulungagung: Akademia Pustaka,
2026). Buku ini karya seorang Pengurus Cabang ISNU Tulungagung, Dr. M.
Kholid Thohiri, M.Pd.I.
Hari
selasa 25 Agustus 2026 buku tersebut dibedah di Pendopo ISNU Tulungagung.
Kebetulan saya menjadi salah satu pembahasnya. Pembahas lainnya adalah KH.
Muhson Hamdani, M.Sy., KH. Abdul Hakim Mustofa, Dr. KH. Bagus Ahmadi, M.Sy.,
dan Prof. Dr. Moh. Yasin, M.Pd.
IslamiKasi
Mengawali
pembahasan saya menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku karya intelektual
muda ini. Menulis buku dengan spirit idealis bukan pekerjaan mudah. Dr. M.
Kholid Thohiri telah berusaha keras mencurahkan gagasan, ide, dan harapannya
terhadap NU dalam mengarungi kehidupan kontemporer yang semakin kompleks.
Saya tidak banyak
membahas isi buku karya Dr. M. Kholid Thohiri. Secara umum buku tersebut cukup
bagus. Cakupannya komprehensif. Tidak hanya membahas secara deskriptif tetapi
juga menawarkan rancangan, road map, pilihan gerakan, dan berbagai hal
terkait dengan perjalanan NU dalam mengarungi abad kedua.
Saya mengawali paparan
dengan menampilkan teori Marshal Hodgson terkait masuknya Islam ke sebuah
Kawasan. Hodgson membaginya menjadi tiga. Pertama, Islamics, yaitu
penyebaran dogma Islam tanpa menyentuh dimensi budaya. Kedua,
Islamdom, yaitu proses penyebaran Islam melalui jalur politik kekuasaan.
Dan ketiga, Islamicate, yaitu Islam masuk melalui dialog budaya yang
intensif.
Dari tiga pembagian tersebut,
pilihan yang tampaknya relevan dengan NU adalah pilihan ketiga. Prof. Dr. M.
Amin Abdullah menerjemahkan pilihan ketiga ini dengan IslamiKasi yang
menghasilkan Islam Indonesia, bukan Islam di Indonesia.
Tahun 2015, saat Muktamar
NU di Jombang, muncul gagasan Islam Nusantara. Ketika itu KH. Said Aqiel
Siraj menjelaskan bahwa Islam Nusantara itu bukan madzhab, bukan aliran, tetapi
tipologi Islam yang santun, ramah, toleran, berakhlak, dan berperadaban.
Ada
dua dimensi Islam Nusantara. Pertama, dimensi tempat: Nusantara
merupakan tempat berpijak, tempat tinggalnya kaum Muslim Indonesia. Kedua, dimensi
gagasan. Islam Nusantara adalah seperangkat nilai dan gagasan tentang Islam
yang berinteraksi dengan konteks keindonesiaan/kenusantaraan, bukan perspektif
Barat atau Arab. Meskipun demikian otentisitasnya tetap terjaga, tetap dalam
selimut tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang berkembang di Nusantara.
Sudah sangat banyak
riset, buku, dan artikel utama tentang NU. Hal ini merupakan penjelas bahwa NU
itu bahan kajian. Kalau mengkaji, harus ditentukan secara jelas aspek yang
dikaji.
Dalam realitasnya, tidak
ada kajian yang sempurna. Selalu ada agenda dan ruang terbuka untuk dikritik,
dievaluasi, dan disempurnakan. Oleh karena itu menulis tentang NU, terlepas
dari berbagai hal yang melatarbelakangi, merupakan upaya penting dalam
membangun sejarah yang penting untuk diapresiasi.
Salah seorang ahli yang
rajin mengamati NU—dan Muhammadiyah—adalah Prof. Dr. Mitsuo Nakamura. Di buku
terbarunya ia menulis bahwa dalam perjalanannya yang panjang, NU diuji oleh
banyak hal. Dalam sejarahnya, NU tidak pernah menjadi oposisi permanen. Juga
tidak pernah menjadi pendukung permanen.
Nakamura mengingatkan
pentingnya merenungkan apa yang disampaikan oleh Almarhum KH. Abdurrahman Wahid
bahwa Islam harus dianggap sebagai mata air abadi bagi ilham moral dan
etika umat Islam yang hidup di bawah rezim-rezim mana pun. Dalam konteks NU, Orientasi
warga NU dan pengurus NU tidak selalu sama. Bagi warga NU, kehidupan
sekarang ini adalah persiapan untuk kehidupan selanjutnya. Kekuasaan,
bagi warga NU, tidak ada artinya. Kekuasaan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan
yang lebih bahagia dan mendukung tercapainya kebahagiaan pada kehidupan yang
selanjutnya [495]. Bagi pengurus NU, mungkin saja orientasinya tidak sama
dengan warga NU.
Perspektif ini setidaknya
bisa dipakai untuk membaca fenomena Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren
Bahrul Ulum Tambakberas Jombang pada 27-30 Agustus 2026 ini. Berdasarkan
pemberitaan, muncul aneka hal yang cukup meresahkan. Ada berita yang
menyebutkan uang menjadi salah satu hal yang beredar untuk mengegolkan calon
tertentu. Di sisi lain, ratusan ribu warga nahdliyin tumpah ruah di arena
Muktamar. Mereka tidak mengurusi hal praktis semacam itu. Bagi mereka, NU
adalah tempat untuk ngalap berkah.
Sebagai penutup
presentasi, saya mengutip pendapat Prof. Dr. Faisal Ismail yang menyatakan
bahwa basis kekuatan bangsa Indonesia terletak pada kekuatan spiritual dan
moral. Bukan semata-mata pada basis kekuatan politik, ekonomi, sosial, dan
budaya. Dalam konteks ini, kiai-kiai NU penting menjalankan peranan secara
maksimal da signifikan di tengah kehidupan umat dan bangsa. Bangsa ini akan
bertahan dan tidak akan ambruk karena ada benteng spiritual dan keteladanan
moral dari kiai dan pemimpinnya.
Aneka Perspektif
Acara bedah buku bukan
hanya menelusuri substansi buku tetapi juga memperluas wawasan dan mencerahkan
sudut pandang. Ketua Umum PC ISNU Tulungagung, H. Moch. Rifa’i, S.Kep. Ners.,
M.H.Kes, saat sambutan menjelaskan bahwa salah satu tradisi yang tumbuh subur di
NU Adalah mengaji. Substansi mengaji adalah bedah kitab. Meskipun tidak sama
persis, bedah buku adalah upaya intelektual yang cukup penting untuk
ditradisikan sebagai ikhtiar untuk mewariskan jejak intelektual bagi warga NU
dan Masyarakat secara luas.
Senada dengan Ketua ISNU,
Rois Syuriah PCNU Kabupaten Tulungagung, KH. Muhson Hamdani menjelaskan bahwa
NU itu basisnya knowledge. NU dan pesantren sangat erat dengan dunia
ilmu. Kajian kitab kuning yang menjadi penanda keilmuan adalah buktinya. Maka
aneka inovasi keilmuan tumbuh dengan subur di NU. Di bidang fikih, misalnya,
belakangan muncul aneka fokus, misalnya fikih lingkungan, fikih energi, dan
aneka jenis perkembangan keilmuan inovasi lainnya. Di salah satu bagian beliau
menjelaskan bahwa jika ingin dikenang sepanjang hidup maka pilihannya adalah
menjadi mubaligh. Namun jika ingin dikenang sepanjang masa maka pilihannya
menjadi penulis. Kombinasi mubaligh dan penulis tentu sangat ideal meskipun
sangat jarang orang yang mampu melakukannya.
Ketua ISNU Pusat, Prof.
Mas’ud Said, Ph.D dalam sambutannya memgapresiasi acara bedah buku yang
diselenggarakan oleh ISNU Tulungagung. Menurut Prof. Mas’ud, kegiatan semacam
ini penting untuk dijadikan sebagai tradisi di ISNU. Beliau menjelaskan
fenomena keberislaman secara global. Di beberapa negara di Barat, pusat-pusat
studi Islam tumbuh dengan subur. Ini sesungguhnya merupakan tantangan bagi kita
semua untuk menyajikan Islam Indonesia sebagai model. Lebih jauh, penting untuk
menjadikan Islam Indonesia sebagai inspirasi bagi Islam dunia.
KH. Abdul Hakim Mustofa
dalam paparannya menjelaskan bahwa mengurusi NU itu sangat tidak mudah. Apa
yang ditulis oleh Dr. M. Kholid Thohiri banyak yang sifatnya idealis. Meskipun
demikian tulisan-tulisan tentang NU sangat penting sebagai bahan untuk membuat
NU semakin maju ke depan. Dari sisi pengkaderan, misalnya, NU sangat siap.
Namun dari sisi lain, memang perlu untuk terus berbenah.
Ketua Umum PCNU Kabupaten
Tulungagung, Dr. KH. Bagus Ahmadi menyampaikan bahwa penting untuk memunculkan
pembaru-pembaru demi kemajuan NU. Kekuatan NU itu ada di level akar rumput.
Karena itu diperlukan aneka inovasi yang memungkinkan jama’ah NU semakin berkembang
dan mendapatkan kemajuan dalam kehidupannya.
Prof. Dr. M. Yasin dari
PW ISNU Jawa Timur mengapresiasi atas terbitnya buku Dr. M. Kholid Thohiri.
Beliau menjelaskan bahwa buku tersebut bisa diposisikan sebagai spirit untuk
mendorong produktivitas berkarya. Buku tersebut juga menjadi inspirasi untuk
tidak pernah takut berkarya. Kemajuan peradaban ditandai—antara lain—oleh
produktivitas karya-karya ilmiah.
Tulungagung, 29 Agustus 2026

Tidak ada komentar: