Menulis NU, Menulis Islam Indonesia

Agustus 29, 2026

Ngainun Naim

 

Kontribusi penting Abdurrahman Wahid adalah usahanya untuk membuka dinamika intelektual di tubuh NU. Ia mengadopsi kebebasan berpikir dalam merespon berbagai persoalan. Namun ia bisa berkomunikasi dengan penuh hormat terhadap para kiai sepuh.

Kutipan di awal catatan ini berasal dari artikel yang ditulis oleh Prof. Dr. Phil. Khoirun Niam. Artikel yang dimaksud judulnya “Nahdlatul Ulama and the Production of Muslim Intellectuals in the Beginning of 21st Century Indonesia,” dan dimuat di Journal of Indonesian Islam Volume 11 Nomor 2 tahun 2017.

Kutipan di atas penting sebagai penegas tentang pentingnya dunia intelektual di NU. Kontribusi Abdurrahman Wahid—khususnya dalam dunia intelektual—masih terasa pengaruhnya sampai sekarang. Meskipun sekarang ini kondisinya tidak sesemarak semasa beliau hidup namun tradisi intelektual itu terus hidup di tengah arus sosial politik yang semakin dinamis.

Tradisi intelektual ditandai—salah satunya—dengan tradisi riset dan menulis. Tradisi ini terus eksis, meskipun tidak terlalu subur. Salah satu buktinya adalah buku dengan judul Nahdlatul Ulama Abad Kedua (Tulungagung: Akademia Pustaka, 2026). Buku ini karya seorang Pengurus Cabang ISNU Tulungagung, Dr. M. Kholid Thohiri, M.Pd.I.

Hari selasa 25 Agustus 2026 buku tersebut dibedah di Pendopo ISNU Tulungagung. Kebetulan saya menjadi salah satu pembahasnya. Pembahas lainnya adalah KH. Muhson Hamdani, M.Sy., KH. Abdul Hakim Mustofa, Dr. KH. Bagus Ahmadi, M.Sy., dan Prof. Dr. Moh. Yasin, M.Pd.

 

IslamiKasi

Mengawali pembahasan saya menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku karya intelektual muda ini. Menulis buku dengan spirit idealis bukan pekerjaan mudah. Dr. M. Kholid Thohiri telah berusaha keras mencurahkan gagasan, ide, dan harapannya terhadap NU dalam mengarungi kehidupan kontemporer yang semakin kompleks.

Saya tidak banyak membahas isi buku karya Dr. M. Kholid Thohiri. Secara umum buku tersebut cukup bagus. Cakupannya komprehensif. Tidak hanya membahas secara deskriptif tetapi juga menawarkan rancangan, road map, pilihan gerakan, dan berbagai hal terkait dengan perjalanan NU dalam mengarungi abad kedua.

Saya mengawali paparan dengan menampilkan teori Marshal Hodgson terkait masuknya Islam ke sebuah Kawasan. Hodgson membaginya menjadi tiga. Pertama, Islamics, yaitu penyebaran dogma Islam tanpa menyentuh dimensi budaya. Kedua,
Islamdom, yaitu proses penyebaran Islam melalui jalur politik kekuasaan.
Dan ketiga, Islamicate, yaitu Islam masuk melalui dialog budaya yang intensif.

Dari tiga pembagian tersebut, pilihan yang tampaknya relevan dengan NU adalah pilihan ketiga. Prof. Dr. M. Amin Abdullah menerjemahkan pilihan ketiga ini dengan IslamiKasi yang menghasilkan Islam Indonesia, bukan Islam di Indonesia.

Tahun 2015, saat Muktamar NU di Jombang, muncul gagasan Islam Nusantara. Ketika itu KH. Said Aqiel Siraj menjelaskan bahwa Islam Nusantara itu bukan madzhab, bukan aliran, tetapi tipologi Islam yang santun, ramah, toleran, berakhlak, dan berperadaban.

Ada dua dimensi Islam Nusantara. Pertama, dimensi tempat: Nusantara merupakan tempat berpijak, tempat tinggalnya kaum Muslim Indonesia. Kedua, dimensi gagasan. Islam Nusantara adalah seperangkat nilai dan gagasan tentang Islam yang berinteraksi dengan konteks keindonesiaan/kenusantaraan, bukan perspektif Barat atau Arab. Meskipun demikian otentisitasnya tetap terjaga, tetap dalam selimut tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang berkembang di Nusantara.

Sudah sangat banyak riset, buku, dan artikel utama tentang NU. Hal ini merupakan penjelas bahwa NU itu bahan kajian. Kalau mengkaji, harus ditentukan secara jelas aspek yang dikaji.

Dalam realitasnya, tidak ada kajian yang sempurna. Selalu ada agenda dan ruang terbuka untuk dikritik, dievaluasi, dan disempurnakan. Oleh karena itu menulis tentang NU, terlepas dari berbagai hal yang melatarbelakangi, merupakan upaya penting dalam membangun sejarah yang penting untuk diapresiasi.

Salah seorang ahli yang rajin mengamati NU—dan Muhammadiyah—adalah Prof. Dr. Mitsuo Nakamura. Di buku terbarunya ia menulis bahwa dalam perjalanannya yang panjang, NU diuji oleh banyak hal. Dalam sejarahnya, NU tidak pernah menjadi oposisi permanen. Juga tidak pernah menjadi pendukung permanen.

Nakamura mengingatkan pentingnya merenungkan apa yang disampaikan oleh Almarhum KH. Abdurrahman Wahid bahwa Islam harus dianggap sebagai mata air abadi bagi ilham moral dan etika umat Islam yang hidup di bawah rezim-rezim mana pun. Dalam konteks NU, Orientasi warga NU dan pengurus NU tidak selalu sama. Bagi warga NU, kehidupan sekarang ini adalah persiapan untuk kehidupan selanjutnya. Kekuasaan, bagi warga NU, tidak ada artinya. Kekuasaan dapat dimanfaatkan untuk kehidupan yang lebih bahagia dan mendukung tercapainya kebahagiaan pada kehidupan yang selanjutnya [495]. Bagi pengurus NU, mungkin saja orientasinya tidak sama dengan warga NU.

Perspektif ini setidaknya bisa dipakai untuk membaca fenomena Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang pada 27-30 Agustus 2026 ini. Berdasarkan pemberitaan, muncul aneka hal yang cukup meresahkan. Ada berita yang menyebutkan uang menjadi salah satu hal yang beredar untuk mengegolkan calon tertentu. Di sisi lain, ratusan ribu warga nahdliyin tumpah ruah di arena Muktamar. Mereka tidak mengurusi hal praktis semacam itu. Bagi mereka, NU adalah tempat untuk ngalap berkah.

Sebagai penutup presentasi, saya mengutip pendapat Prof. Dr. Faisal Ismail yang menyatakan bahwa basis kekuatan bangsa Indonesia terletak pada kekuatan spiritual dan moral. Bukan semata-mata pada basis kekuatan politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Dalam konteks ini, kiai-kiai NU penting menjalankan peranan secara maksimal da signifikan di tengah kehidupan umat dan bangsa. Bangsa ini akan bertahan dan tidak akan ambruk karena ada benteng spiritual dan keteladanan moral dari kiai dan pemimpinnya.

Aneka Perspektif

Acara bedah buku bukan hanya menelusuri substansi buku tetapi juga memperluas wawasan dan mencerahkan sudut pandang. Ketua Umum PC ISNU Tulungagung, H. Moch. Rifa’i, S.Kep. Ners., M.H.Kes, saat sambutan menjelaskan bahwa salah satu tradisi yang tumbuh subur di NU Adalah mengaji. Substansi mengaji adalah bedah kitab. Meskipun tidak sama persis, bedah buku adalah upaya intelektual yang cukup penting untuk ditradisikan sebagai ikhtiar untuk mewariskan jejak intelektual bagi warga NU dan Masyarakat secara luas.

Senada dengan Ketua ISNU, Rois Syuriah PCNU Kabupaten Tulungagung, KH. Muhson Hamdani menjelaskan bahwa NU itu basisnya knowledge. NU dan pesantren sangat erat dengan dunia ilmu. Kajian kitab kuning yang menjadi penanda keilmuan adalah buktinya. Maka aneka inovasi keilmuan tumbuh dengan subur di NU. Di bidang fikih, misalnya, belakangan muncul aneka fokus, misalnya fikih lingkungan, fikih energi, dan aneka jenis perkembangan keilmuan inovasi lainnya. Di salah satu bagian beliau menjelaskan bahwa jika ingin dikenang sepanjang hidup maka pilihannya adalah menjadi mubaligh. Namun jika ingin dikenang sepanjang masa maka pilihannya menjadi penulis. Kombinasi mubaligh dan penulis tentu sangat ideal meskipun sangat jarang orang yang mampu melakukannya.

Ketua ISNU Pusat, Prof. Mas’ud Said, Ph.D dalam sambutannya memgapresiasi acara bedah buku yang diselenggarakan oleh ISNU Tulungagung. Menurut Prof. Mas’ud, kegiatan semacam ini penting untuk dijadikan sebagai tradisi di ISNU. Beliau menjelaskan fenomena keberislaman secara global. Di beberapa negara di Barat, pusat-pusat studi Islam tumbuh dengan subur. Ini sesungguhnya merupakan tantangan bagi kita semua untuk menyajikan Islam Indonesia sebagai model. Lebih jauh, penting untuk menjadikan Islam Indonesia sebagai inspirasi bagi Islam dunia.

KH. Abdul Hakim Mustofa dalam paparannya menjelaskan bahwa mengurusi NU itu sangat tidak mudah. Apa yang ditulis oleh Dr. M. Kholid Thohiri banyak yang sifatnya idealis. Meskipun demikian tulisan-tulisan tentang NU sangat penting sebagai bahan untuk membuat NU semakin maju ke depan. Dari sisi pengkaderan, misalnya, NU sangat siap. Namun dari sisi lain, memang perlu untuk terus berbenah.

Ketua Umum PCNU Kabupaten Tulungagung, Dr. KH. Bagus Ahmadi menyampaikan bahwa penting untuk memunculkan pembaru-pembaru demi kemajuan NU. Kekuatan NU itu ada di level akar rumput. Karena itu diperlukan aneka inovasi yang memungkinkan jama’ah NU semakin berkembang dan mendapatkan kemajuan dalam kehidupannya.

Prof. Dr. M. Yasin dari PW ISNU Jawa Timur mengapresiasi atas terbitnya buku Dr. M. Kholid Thohiri. Beliau menjelaskan bahwa buku tersebut bisa diposisikan sebagai spirit untuk mendorong produktivitas berkarya. Buku tersebut juga menjadi inspirasi untuk tidak pernah takut berkarya. Kemajuan peradaban ditandai—antara lain—oleh produktivitas karya-karya ilmiah.

 

Tulungagung, 29 Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.