Menulis, Proses Kreatif, dan Gaya Hidup
Banyak orang
yang memulai menulis namun tidak selesai sebagaimana diharapkan. Ada yang baru
mulai menulis namun sudah macet dan tidak tahu apa lagi yang harus ditulis. Ada
yang sudah menulis separuh jalan lalu berhenti dan buntu untuk melanjutkan. Ada
yang putus nyambung di mana kadang lancar menulisnya, kadang macet. Tulisan
pada akhirnya memang bisa selesai tetapi waktu dan prosesnya sangat panjang.
Semua
penulis, siapa pun orangnya, pasti pernah mengalami hambatan dalam menulis.
Tidak ada penulis yang sepenuhnya lancar dalam proses menghasilkan karya.
Bedanya antara satu orang penulis dengan penulis yang lain adalah bagaimana
menyikapi hambatan. Ada yang terus berjuang sehingga hambatan bisa teratasi.
Namun ada juga yang menyerah.
Setiap
orang, jika ingin lancar menulis, idealnya menulis setiap hari. Ya, setiap
hari. Aspek yang penting bukan tentang seberapa banyak yang dihasilkan
dalam menulis tetapi tentang bagaimana membangun kebiasaan. Kebiasaan inilah
yang menjadi energi sehingga selalu ada upaya untuk melakukannya.
Menulis
yang mampu dilakukan setiap hari itu bisa disebut sebagai gaya hidup. Karena
menulis telah bertransformasi menjadi gaya hidup maka setiap hari harus
dilakukan. Gaya hidup itu menjadi bagian dari penanda diri, identitas diri. Gaya
hidup sehat, misalnya, ditandai dengan olah raga setiap hari. Dalam konteks
menulis, gaya hidup menulis berarti ya setiap hari menulis.
Kesibukan
acapkali menjadi dalih untuk tidak menulis. Jika direnungkan, setiap hari kita
ini selalu saja memiliki kesibukan. Setiap harinya kita memiliki seribu alasan
lebih yang menghalangi kita untuk menulis (Arafat Nur: 2015). Alasan ini
sesungguhnya kita yang menciptakan.
Jika
dicermati, selain kesibukan, sesungguhnya setiap hari juga selalu saja ada
waktu luang. Aspek yang sesungguhnya penting bukan seberapa banyak waktu yang
tersedia melainkan bagaimana memanfaatkan waktu yang ada.
Menulis,
karena itu, jangan menunggu waktu luang. Menulis bukanlah soal memiliki
waktu luang, melainkan tentang kesediaan menyediakan waktu bagi sesuatu yang
diyakini penting (Noorhaidi Hasan: 2026, vi). Tidak ada lagi dalih untuk
tidak menulis karena waktu luang sulit didapatkan.
Aspek
yang lebih penting adalah meluangkan waktu, bukan menunggu waktu luang. Hal ini
disebabkan karena menunggu waktu luang itu sifatnya pasif. Kata menunggu menunjukkan
konteks, bukan prioritas. Jika ada hal lain yang lebih prioritas maka tidak
akan dilakukan.
Menulis
tidak perlu menunggu waktu ideal. Waktu semacam ini biasanya sulit didapatkan.
Jika pun mengikuti datangnya waktu ideal berarti proses menulis akan lambat.
Tanpa waktu ideal, proses menulis tidak akan dilakukan.
Aspek
yang lebih signifikan adalah mengondisikan waktu yang sengaja disediakan untuk
bisa menulis. Tidak harus waktunya ideal dan hasilnya ideal. Begitu ada
kesempatan, dimanfaatkan untuk menulis. Apa yang ada di kepala dituangkan dalam
tulisan. Seiring perjalanan waktu, tulisan dibenahi.
Inilah
yang disebut sebagai proses. Begitu tulisan selesai, disunting. Tidak perlu
terburu-buru. Jalani, nikmati, dan hayati setiap tahap pelaksanaannya.
Menulis
itu tidak harus langsung banyak. Mulai saja dari hal kecil. Misalnya, mulai
dari target kecil. Target itu bisa waktu, misalnya 20 menit setiap hari. Bisa
juga berupa target paragraf, misalnya 1 paragraf. Bisa juga dalam bentuk target
kata. Misalnya, 100 kata.
Ketika
sudah menentukan target maka dibangun kesadaran, diperjuangkan, dan
dijadikan rutinitas. Jika terpaksa tidak terpenuhi, target itu harus
dipenuhi di waktu berikutnya. Misalnya karena satu dan lain hal hari ini tidak
bisa menulis, padahal target hariannya 20 menit, maka besok harus menulis
selama 40 menit.
Menulis
yang baik itu, menurut saya, bukan sekali langsung banyak setelah itu berhenti.
Menulis yang baik adalah sedikit, terukur, dan konsisten. Kumpulan dari sedikit
demi sedikit itulah yang akhirnya menjadi tulisan yang sangat banyak.
Tantangan
terberat menulis adalah menyelesaikan tulisan. Banyak orang yang mulai mencoba
untuk menulis secara konsisten tetapi gagal di tengah jalan. Sesungguhnya
akarnya adalah budaya atau menjadikan gaya hidup.
Jika
belum memiliki budaya yang kokoh maka keinginan untuk konsisten biasanya tidak
selalu berhasil. Konsisten itu memerlukan perjuangan yang tidak ringan.
Artinya, konsisten itu memerlukan komitmen dari pelakunya.
Kesadaran
tentang menulis tidak muncul secara natural. Perlu upaya-upaya yang konsisten
untuk memunculkan dalam alam bawah sadar. Kesadaran itu berkaitan dengan bukan
apa yang mau ditulis tetapi berapa yang bisa ditulis. Kesadaran biasanya muncul
karena sering diulang-ulang dalam pikiran dan tindakan.
Menulis,
apalagi menulis buku, jelas bukan pekerjaan mudah. Sesungguhnya ini dialami
oleh sebagian besar orang. Jangankan menulis buku yang jumlah halamannya sampai
ratusan, menulis satu halaman saja bagi saya sudah merupakan sebuah perjuangan.
Jika ada orang yang begitu mudahnya menulis dan menerbitkan buku—tanpa bantuan
AI—maka itu merupakan anugerah hidup.
Beratnya
menulis buku ternyata juga dialami oleh banyak ilmuwan besar Indonesia. Prof. Ahmad Najib
Burhani, Ph.D (2016) menjelaskan bahwa, “Menulis buku itu perlu kesunyian dan
kesenderian, yaitu waktu untuk melakukan refleksi dan menata argumen”. Prof. Najib
mengakui bahwa ia perlu belajar kepada Prof. Azyumardi Azra yang tekun dan
konsisten menulis dalam kondisi bagaimana pun. Semasa hidup, Prof. Azra
selalu menulis mulai dari jam 03.00-07.00 WIB, tentu dengan diselingi waktu
shalat. Tanpa perjuangan semacam itu, mustahil sebuah buku bisa selesai ditulis
dan kemudian diterbitkan.
Ilmuwan lain yang bisa disebut adalah F. Budi Hardiman.
Filosof kontemporer Indonesia ini telah menghasilkan cukup banyak buku. Hampir
setiap tahun selalu ada buku-buku karyanya yang terbit. Namun demikian, itu
bukan pekerjaan sekali jadi. Ia menyatakan bahwa dirinya merupakan penulis
lambat. Tidak jarang dalam satu hari diperlukan perenungan mendalam sebatas
untuk menulis satu paragraf (Hardiman: 2021).
Tidak mudah menjelaskan mengapa menulis buku itu bukan
pekerjaan mudah. Wahyudin Halim (2021) menjelaskan bahwa menulis itu
membutuhkan tiga hal, yaitu mendisiplinkan jiwa, melenturkan pikiran, dan
mengelola raga. Ketiganya bukan merupakan satu hal yang berdiri sendiri.
Masing-masing membangun keterkaitan yang erat sehingga sebuah tulisan bisa
selesai.
Ada aspek lain yang juga penting menjadi bahan
pertimbangan, yaitu apa yang disebut oleh M. Quraish Shihab (2001) sebagai ketelitian dan pemeliharaan. Tidak semua hal bisa
ditulis. Jika sudah ditulis, sikap yang penting dikembangkan oleh seorang
penulis adalah mencermati kembali apa yang sudah ditulis. Apakah sudah seperti
itu yang dimaksudkan? Apakah sudah tidak ada kesalahan teknis? Beberapa aspek
lain juga penting dicermati. Selain itu menulis mengandung pemeliharaan dalam
makna apa yang ditulis itu akan abadi. Ide kita dipelihara lewat tulisan. Ia
tetap ada bahkan ketika kita mungkin sudah lupa bahwa kita telah menuliskannya.
Pada
titik inilah maka penting dipahami bahwa sebuah tulisan pada dasarnya merupakan
rangkaian dari proses panjang yang berkelanjutan. Aspek ini yang tidak bisa
digantikan oleh AI. Ada dimensi proses yang sifatnya manusiawi dan tidak
mungkin digantikan oleh teknologi.
Jika
sekarang masih ada orang yang menulis dengan spirit otentisitas maka orang
semacam ini harus diapresiasi, gagasannya perlu didiseminasi, dan proses
kreatifnya perlu disebarluaskan. Sekarang ini banyak sekali lahir tulisan minus
pengetahuan. Tulisan semacam ini lahir tanpa konteks yang jelas. Modalnya prompt
yang ditanyakan ke AI. Memang ada hasil namun sesungguhnya siapa yang menulis?
Pada
titik inilah pendapat Gong (2019) penting menjadi bahan renungan. Ia menyebut
bahwa menulis itu bagian dari proses sejak awal sampai akhir. Tidak sebagaimana
memakan mie instan yang diseduh langsung dimakan. Proses kreatif lahirnya
sebuah karya yang baik memerlukan dukungan membaca dan riset yang matang. Aspek
ini yang tidak bisa diperoleh dari teknologi model apa pun.

Tidak ada komentar: