Menulis, Proses Kreatif, dan Gaya Hidup

Oktober 18, 2026



Banyak orang yang memulai menulis namun tidak selesai sebagaimana diharapkan. Ada yang baru mulai menulis namun sudah macet dan tidak tahu apa lagi yang harus ditulis. Ada yang sudah menulis separuh jalan lalu berhenti dan buntu untuk melanjutkan. Ada yang putus nyambung di mana kadang lancar menulisnya, kadang macet. Tulisan pada akhirnya memang bisa selesai tetapi waktu dan prosesnya sangat panjang.

Semua penulis, siapa pun orangnya, pasti pernah mengalami hambatan dalam menulis. Tidak ada penulis yang sepenuhnya lancar dalam proses menghasilkan karya. Bedanya antara satu orang penulis dengan penulis yang lain adalah bagaimana menyikapi hambatan. Ada yang terus berjuang sehingga hambatan bisa teratasi. Namun ada juga yang menyerah.

Setiap orang, jika ingin lancar menulis, idealnya menulis setiap hari. Ya, setiap hari. Aspek yang penting bukan tentang seberapa banyak yang dihasilkan dalam menulis tetapi tentang bagaimana membangun kebiasaan. Kebiasaan inilah yang menjadi energi sehingga selalu ada upaya untuk melakukannya.

Menulis yang mampu dilakukan setiap hari itu bisa disebut sebagai gaya hidup. Karena menulis telah bertransformasi menjadi gaya hidup maka setiap hari harus dilakukan. Gaya hidup itu menjadi bagian dari penanda diri, identitas diri. Gaya hidup sehat, misalnya, ditandai dengan olah raga setiap hari. Dalam konteks menulis, gaya hidup menulis berarti ya setiap hari menulis.

Kesibukan acapkali menjadi dalih untuk tidak menulis. Jika direnungkan, setiap hari kita ini selalu saja memiliki kesibukan. Setiap harinya kita memiliki seribu alasan lebih yang menghalangi kita untuk menulis (Arafat Nur: 2015). Alasan ini sesungguhnya kita yang menciptakan.

Jika dicermati, selain kesibukan, sesungguhnya setiap hari juga selalu saja ada waktu luang. Aspek yang sesungguhnya penting bukan seberapa banyak waktu yang tersedia melainkan bagaimana memanfaatkan waktu yang ada.

Menulis, karena itu, jangan menunggu waktu luang. Menulis bukanlah soal memiliki waktu luang, melainkan tentang kesediaan menyediakan waktu bagi sesuatu yang diyakini penting (Noorhaidi Hasan: 2026, vi). Tidak ada lagi dalih untuk tidak menulis karena waktu luang sulit didapatkan.

Aspek yang lebih penting adalah meluangkan waktu, bukan menunggu waktu luang. Hal ini disebabkan karena menunggu waktu luang itu sifatnya pasif. Kata menunggu menunjukkan konteks, bukan prioritas. Jika ada hal lain yang lebih prioritas maka tidak akan dilakukan.

Menulis tidak perlu menunggu waktu ideal. Waktu semacam ini biasanya sulit didapatkan. Jika pun mengikuti datangnya waktu ideal berarti proses menulis akan lambat. Tanpa waktu ideal, proses menulis tidak akan dilakukan.

Aspek yang lebih signifikan adalah mengondisikan waktu yang sengaja disediakan untuk bisa menulis. Tidak harus waktunya ideal dan hasilnya ideal. Begitu ada kesempatan, dimanfaatkan untuk menulis. Apa yang ada di kepala dituangkan dalam tulisan. Seiring perjalanan waktu, tulisan dibenahi.

Inilah yang disebut sebagai proses. Begitu tulisan selesai, disunting. Tidak perlu terburu-buru. Jalani, nikmati, dan hayati setiap tahap pelaksanaannya.

Menulis itu tidak harus langsung banyak. Mulai saja dari hal kecil. Misalnya, mulai dari target kecil. Target itu bisa waktu, misalnya 20 menit setiap hari. Bisa juga berupa target paragraf, misalnya 1 paragraf. Bisa juga dalam bentuk target kata. Misalnya, 100 kata.

Ketika sudah menentukan target maka dibangun kesadaran, diperjuangkan, dan dijadikan rutinitas. Jika terpaksa tidak terpenuhi, target itu harus dipenuhi di waktu berikutnya. Misalnya karena satu dan lain hal hari ini tidak bisa menulis, padahal target hariannya 20 menit, maka besok harus menulis selama 40 menit.

Menulis yang baik itu, menurut saya, bukan sekali langsung banyak setelah itu berhenti. Menulis yang baik adalah sedikit, terukur, dan konsisten. Kumpulan dari sedikit demi sedikit itulah yang akhirnya menjadi tulisan yang sangat banyak.

Tantangan terberat menulis adalah menyelesaikan tulisan. Banyak orang yang mulai mencoba untuk menulis secara konsisten tetapi gagal di tengah jalan. Sesungguhnya akarnya adalah budaya atau menjadikan gaya hidup.

Jika belum memiliki budaya yang kokoh maka keinginan untuk konsisten biasanya tidak selalu berhasil. Konsisten itu memerlukan perjuangan yang tidak ringan. Artinya, konsisten itu memerlukan komitmen dari pelakunya.

Kesadaran tentang menulis tidak muncul secara natural. Perlu upaya-upaya yang konsisten untuk memunculkan dalam alam bawah sadar. Kesadaran itu berkaitan dengan bukan apa yang mau ditulis tetapi berapa yang bisa ditulis. Kesadaran biasanya muncul karena sering diulang-ulang dalam pikiran dan tindakan.

Menulis, apalagi menulis buku, jelas bukan pekerjaan mudah. Sesungguhnya ini dialami oleh sebagian besar orang. Jangankan menulis buku yang jumlah halamannya sampai ratusan, menulis satu halaman saja bagi saya sudah merupakan sebuah perjuangan. Jika ada orang yang begitu mudahnya menulis dan menerbitkan buku—tanpa bantuan AI—maka itu merupakan anugerah hidup.

Beratnya menulis buku ternyata juga dialami oleh banyak ilmuwan besar Indonesia. Prof. Ahmad Najib Burhani, Ph.D (2016) menjelaskan bahwa, “Menulis buku itu perlu kesunyian dan kesenderian, yaitu waktu untuk melakukan refleksi dan menata argumen”. Prof. Najib mengakui bahwa ia perlu belajar kepada Prof. Azyumardi Azra yang tekun dan konsisten menulis dalam kondisi bagaimana pun. Semasa hidup, Prof. Azra selalu menulis mulai dari jam 03.00-07.00 WIB, tentu dengan diselingi waktu shalat. Tanpa perjuangan semacam itu, mustahil sebuah buku bisa selesai ditulis dan kemudian diterbitkan.

Ilmuwan lain yang bisa disebut adalah F. Budi Hardiman. Filosof kontemporer Indonesia ini telah menghasilkan cukup banyak buku. Hampir setiap tahun selalu ada buku-buku karyanya yang terbit. Namun demikian, itu bukan pekerjaan sekali jadi. Ia menyatakan bahwa dirinya merupakan penulis lambat. Tidak jarang dalam satu hari diperlukan perenungan mendalam sebatas untuk menulis satu paragraf (Hardiman: 2021).

Tidak mudah menjelaskan mengapa menulis buku itu bukan pekerjaan mudah. Wahyudin Halim (2021) menjelaskan bahwa menulis itu membutuhkan tiga hal, yaitu mendisiplinkan jiwa, melenturkan pikiran, dan mengelola raga. Ketiganya bukan merupakan satu hal yang berdiri sendiri. Masing-masing membangun keterkaitan yang erat sehingga sebuah tulisan bisa selesai.

Ada aspek lain yang juga penting menjadi bahan pertimbangan, yaitu apa yang disebut oleh M. Quraish Shihab (2001) sebagai ketelitian dan pemeliharaan. Tidak semua hal bisa ditulis. Jika sudah ditulis, sikap yang penting dikembangkan oleh seorang penulis adalah mencermati kembali apa yang sudah ditulis. Apakah sudah seperti itu yang dimaksudkan? Apakah sudah tidak ada kesalahan teknis? Beberapa aspek lain juga penting dicermati. Selain itu menulis mengandung pemeliharaan dalam makna apa yang ditulis itu akan abadi. Ide kita dipelihara lewat tulisan. Ia tetap ada bahkan ketika kita mungkin sudah lupa bahwa kita telah menuliskannya.

Pada titik inilah maka penting dipahami bahwa sebuah tulisan pada dasarnya merupakan rangkaian dari proses panjang yang berkelanjutan. Aspek ini yang tidak bisa digantikan oleh AI. Ada dimensi proses yang sifatnya manusiawi dan tidak mungkin digantikan oleh teknologi.

Jika sekarang masih ada orang yang menulis dengan spirit otentisitas maka orang semacam ini harus diapresiasi, gagasannya perlu didiseminasi, dan proses kreatifnya perlu disebarluaskan. Sekarang ini banyak sekali lahir tulisan minus pengetahuan. Tulisan semacam ini lahir tanpa konteks yang jelas. Modalnya prompt yang ditanyakan ke AI. Memang ada hasil namun sesungguhnya siapa yang menulis?

Pada titik inilah pendapat Gong (2019) penting menjadi bahan renungan. Ia menyebut bahwa menulis itu bagian dari proses sejak awal sampai akhir. Tidak sebagaimana memakan mie instan yang diseduh langsung dimakan. Proses kreatif lahirnya sebuah karya yang baik memerlukan dukungan membaca dan riset yang matang. Aspek ini yang tidak bisa diperoleh dari teknologi model apa pun.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.