Guru, Menulis Buku, dan Hadiah Buku
Ngainun Naim
Guru yang menjadi penulis buku itu istimewa. Jumlah mereka tidak banyak. Bisa dibilang
mereka minoritas. Oleh karena itu mereka harus didukung dan diapresiasi. Tidak
mudah untuk melakukan untuk menulis buku di zaman yang penuh tantangan seperti
sekarang ini.
Saya beberapa kali bersua dengan kelompok guru yang giat menulis buku.
Salah satu kelompok tersebut beberapa kali berkunjung ke kantor tempat saya
mengabdi. Kami berbincang dan berdiskusi tentang apa, mengapa, dan bagaimana
hal-ikhwal menulis buku.
Buku yang kami diskusikan berjudul Cahaya Pelangi dari Tulungagung
Selatan, Merekonstruksi Geopak dan Budaya Lokal. Coba Anda cermati
judulnya. Ya, buku ini bukan sekadar buku biasa. Buku ini istimewa karena
merupakan hasil riset bersama.
Sebelumnya, saat naskah awal selesai ditulis, dua orang penulisnya datang
ke ruang saya. Mereka meminta saya untuk memberikan masukan.
Saya baca selama beberapa hari. Beberapa catatan untuk perbaikan saya
berikan. Salah satunya adalah bagaimana mengolah kata dan kalimat secara lebih
baik agar mudah untuk dipahami.
Tim penulis buku ini memang pekerja keras. Berminggu-minggu mereka bekerja
melakukan revisi. Ketika selesai, naskah kembali dikirimkan ke saya. Saya pun
memeriksanya lagi.
Ketika selesai, saya sampaikan agar naskah masuk ke penerbit. Tahapan
selanjutnya adalah lay out. Dummy buku jadi dan kami kembali bersua.
Kali ini berdiskusi tentang perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan, khususnya
secara teknis.
Sungguh menyenangkan melihat mereka penuh semangat berkarya. Kepada mereka
saya hadiahkan dua buku karya saya yang terbit di tahun 2026. Bukan buku
istimewa. Sekadar merangkum catatan demi catatan yang barangkali ada
manfaatnya.
Tulungagung, 16-10-2026

Terima kasih dukungannya menjadi energi positif untuk kami.
BalasHapus