Ilmu-Ilmu Sosial dan Studi Islam Indonesia

Oktober 13, 2026



Ngainun Naim

 

Salah seorang peneliti organisasi kemasyarakatan Islam Indonesia yang cukup saya kagumi adalah Mitsuo Nakamura. Guru Besar Emiritus Chiba University Jepang ini konsisten melakukan penelitian tentang Islam Indonesia. Ia memulai riset di Indonesia tahun 1971 dan terus berlangsung sampai sekarang. Jarang ada ilmuwan dengan konsistensi dan jangka waktu riset yang sedemikian panjang sebagaimana Nakamura.

Buku yang ditulisnya, Mengamati Islam di Indonesia 1971-2023 menjelaskan secara panjang lebar tentang aneka hal terkait dunia yang ditekuninya. Saya kira tidak banyak ilmuwan yang sedemikian serius menceburkan diri dalam subjek dengan penuh totalitas sebagaimana Nakamura. Jika ada, mereka biasanya adalah ilmuwan yang memang ikonik.[1]

Dari buku yang ditulisnya, saya belajar tentang banyak hal. Nakamura, langsung atau tidak langsung, telah memperkaya kajian Islam Indonesia dengan bingkai ilmu sosial. Salah satu pokok pikirannya adalah tentang bagaimana memahami sebuah komunitas. Kata Nakamura, untuk memahami komunitas Muslim, Antropologi Muslim harus menjadi Antropologi Islam.

Perjalanan panjang Nakamura, sebagaimana tergambar dalam isi buku yang ditulisnya, menyajikan secara menarik bagaimana dinamika perkembangan Islam Indonesia dari generasi ke generasi. Potret Muhammadiyah, misalnya, sejak tahun 1971 sampai tahun 2023, diuraikan secara menarik. Meski tidak sepenuhnya runtut, perspektif semacam ini penting, khususnya dalam konteks lintas generasi. Paparan Nakamura menjelaskan tentang apa, mengapa, dan bagaimana Muhammadiyah dari tahun ke tahun.

Dari buku Mitsuo Nakamura kita bisa belajar banyak hal. Islam Indonesia tidak terbentuk secara sederhana dan mudah. Dalam dinamika perjalanan sejarahnya terdapat gagasan, konflik, dan rekonsiliasi. Dialektika antara berbagai hal tersebut telah membentuk wajah Islam Indonesia.

Tulisan Nakamura, jika direfleksikan, bisa menjadi salah satu sumber pembelajaran untuk mendesain masa depan dengan memahami akar-akar yang membentuknya di masa lalu. Tentu diperlukan juga kontekstualisasi di masa kini. Relasi masa lalu dan masa kini cukup erat. Tidak ada masa kini tanpa masa lalu. Masa depan titik pijaknya adalah masa kini.

 

Signifikansi Ilmu Sosial dalam Studi Islam

Masuknya ilmu sosial dalam studi Islam menimbulkan aneka perdebatan sepanjang sejarah. Tidak semuanya setuju. Bahkan sampai detik ini pun belum semuanya sepakat.

Meskipun demikian ini sesungguhnya hal biasa dan wajar. Sepanjang masing-masing pihak berdiri dengan dasar argument yang kokoh, tentu perbedaan pendapat justru semakin memperkaya Khazanah keilmuan.

Persoalannya, ada pihak yang menggunakan pendekatan ideologis dengan tanpa pendapat yang argumentatif dan dukungan bukti yang memadai. Kelompok semacam ini biasanya berargumen pokoknya. Jadinya tidak ada dialog dan adu argumen.

Secara sederhana, ada beberapa hal yang bisa diperoleh dari penggunaan ilmu sosial dalam studi Islam. Pertama, ilmu sosial yang dipergunakan bisa bermanfaat dalam membantu kita memahami praktik keagamaan umat Islam dalam konteks sosial dan budaya tempat mereka hidup.

Kedua, teori sosial memberikan alat untuk menjelaskan dinamika perubahan dalam Masyarakat Muslim. Perubahan besar terjadi karena faktor globalisasi, urbanisasi, dan digitalisasi. Masyarakat Muslim telah mengubah banyak hal dalam cara memaknai dan menjalankan agamanya. Di sinilah ilmu sosial memiliki peranan penting untuk menjelaskan perubahan yang tengah terjadi.

Ketiga, komunitas Muslim bukan komunitas yang stagnan. Di antara sesama komunitas tidak selalu terbangun relasi harmonis. Dalam banyak kasus terjadi ketegangan dan bahkan konflik. Teori sosial memiliki signifikansi karena memiliki piranti untuk memahami identitas dan konflik sosial yang terjadi. Tentu bukan pekerjaan sederhana. Realitas menunjukkan bahwa konflik internal dan diskriminasi di berbagai negara semuanya tidak bisa dilepaskan dari persoalan kekuasaan, simbol, dan konstruksi sosial.

Keempat, penggunaan teori sosial membantu kita menghindari reduksionisme, khususnya yang terlalu menekankan teks dan melupakan konteks. Studi Islam yang sehat tidak hanya bercerita tentang apa yang tertulis, tetapi juga bagaimana ia dipahami dan dijalankan dalam kehidupan nyata.

Kelima, isu-isu kontemporer berkembang sangat cepat. Studi Islam menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam menjalankan tugas substansialnya. Teori sosial membantu studi Islam lebih relevan terhadap isu-isu kontemporer.

Dengan menggunakan teori sosial, Studi Islam menjadi lebih kontekstual, lebih komunikatif, dan lebih siap berdialog dengan dunia luar yang sangat kompleks dan dinamis. Pendekatan teori sosial sesungguhnya bukan satu-satunya jalan yang bisa dipilih. Masih banyak pendekatan lain yang bisa ditempuh. Namun demikian membuka interaksi dengan ilmu sosial banyak manfaatnya. Ini bukanlah bentuk kompromi melainkan memperkaya sehingga Studi Islam semakin berpeluang memberikan manfaat.  Agama dan ilmu-ilmu sosial sama-sama berbicara tentang manusia dan masyarakat. Aspek ini yang membuka peluang bagi adanya kerja sama yang saling memperkaya.[2]

 

Membedah Dunia Kiai

Ada buku menarik yang bisa dikaji dalam konteks topik ini. Buku yang saya maksudkan adalah Memelihara Umat, Kiai Pesantren-Kiai Langgar di Jawa karya Pradjarta Dirdjosanjoto.[3] Buku ini bisa dijadikan bahan analisis tentang bagaimana ilmu sosial diimplementasikan di institusi keagamaan Islam.

Dalam buku ini ada banyak hal menarik yang disajikan, dianalisis, dan temuan terkait kiai. Pradjarta menulis bahwa peranan kiai itu tidak stagnan melainkan dinamis. Di tengah arus perubahan yang dinamis dan kompleks, peranan kiai ditentukan oleh bagaimana kemampuan yang dimiliki untuk menyesuaikan diri secara kreatif terhadap kekuatan-kekuatan perubahan [halaman 13]. Kiai yang memiliki kemampuan aktif-kreatif-inovatif mampu untuk terus eksis dan mengembangkan lembaga yang dipimpinnya. Sementara kiai yang tidak memahami terhadap perubahan, bahkan cenderung abai, biasanya pelan tapi pasti akan berkurang peranannya di masyarakat.

Penelitian tentang kiai dan dunia pesantren bukan penelitian yang berdiri sendiri. Ada banyak hal yang saling berkaitan. Salah satu tokoh penting dalam riset dalam topik ini adalah Zamakhsari Dhofier. Pradjarta menjelaskan bahwa Dhofier telah meletakkan kajian tentang kiai dan pesantren di Indonesia. Salah satu kontribusi penting Dhofier terletak pada temuannya yang mengungkapkan bahwa ada berbagai macam jaringan yang sengaja diciptakan oleh kiai sebagai upaya untuk mempertahankan tradisi pesatren [halaman 26].

Seseorang disebut kiai bukan hanya karena memiliki pesantren. Orang dengan kapasitas tertentu bisa disebut kiai, meskipun tidak memiliki pesantren. Mereka biasanya mengabdikan diri di masjid atau langgar. Pradjarta menemukan sesuatu yang unik, yaitu apa yang disebutnya sebagai kiai langgar. Mereka ini memiliki kewibawaan tertentu sehingga mendapatkan panggilan dari masyarakat sebagai kiai. Riset Pradjarta menemukan adanya empat sumber kewibawaan kiai langar, yaitu kekayaan, hubungan kekerabatan, ketenaran, dan kualitas pribadi [halaman 143].

 

Penutup

Teori sosial berusaha memotret apa pun yang muncul dalam kehidupan manusia, baik secara individu maupun kelompok. Dalam konteks perspektif semacam ini, kehidupan manusia adalah laboratorium sosial.[4]  Sepanjang ada usaha yang intensif, ilmu sosial akan terus tumbuh dan berkembang.

Di sini Studi Islam mendapatkan kesempatan dan tantangan. Kesempatan karena ilmu sosial telah eksis dan berkembang dalam rentang Sejarah yang panjang. Tantangan karena diperlukan kesiapan secara teori, metodologi, dan keberanian untuk menggunakan ilmu-ilmu sosial dalam Studi Islam.

 

Trenggalek, 11-10-2026


[1] Mitsuo Nakamura, Mengamati Islam Indonesia 1971-2023, Kajian Antropologi Budaya Prof. Emeritus Mitsuo Nakamura, 1st ed. (Jakarta: YOI, 2025).

[2] Fathul Wahid, Kampus Manusia, 1st ed. (Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia (Islamic University of Indonesia), 2026).

[3] Pradjarta Dirdjosanjoto, Memelihara Umat, Kiai Pesantren-Kiai Langgar Di Jawa (Yogyakarta: LKiS, 2013).

[4] Masdar Hilmy, Teori Sosial Dan Aplikasinya Dalam Studi Islam (Jakarta: Rajawali Press, 2025).

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.