Guru, Menulis Buku, dan Hadiah Buku

November 01, 2026

Ngainun Naim


Guru yang menjadi penulis buku itu istimewa.  Jumlah mereka tidak banyak. Bisa dibilang mereka minoritas. Oleh karena itu mereka harus didukung dan diapresiasi. Tidak mudah untuk melakukan untuk menulis buku di zaman yang penuh tantangan seperti sekarang ini.

Saya beberapa kali bersua dengan kelompok guru yang giat menulis buku. Salah satu kelompok tersebut beberapa kali berkunjung ke kantor tempat saya mengabdi. Kami berbincang dan berdiskusi tentang apa, mengapa, dan bagaimana hal-ikhwal menulis buku.

Buku yang kami diskusikan berjudul Cahaya Pelangi dari Tulungagung Selatan, Merekonstruksi Geopak dan Budaya Lokal. Coba Anda cermati judulnya. Ya, buku ini bukan sekadar buku biasa. Buku ini istimewa karena merupakan hasil riset bersama.

Sebelumnya, saat naskah awal selesai ditulis, dua orang penulisnya datang ke ruang saya. Mereka meminta saya untuk memberikan masukan.

Saya baca selama beberapa hari. Beberapa catatan untuk perbaikan saya berikan. Salah satunya adalah bagaimana mengolah kata dan kalimat secara lebih baik agar mudah untuk dipahami.

Tim penulis buku ini memang pekerja keras. Berminggu-minggu mereka bekerja melakukan revisi. Ketika selesai, naskah kembali dikirimkan ke saya. Saya pun memeriksanya lagi.

Ketika selesai, saya sampaikan agar naskah masuk ke penerbit. Tahapan selanjutnya adalah lay out. Dummy buku jadi dan kami kembali bersua. Kali ini berdiskusi tentang perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan, khususnya secara teknis.

Sungguh menyenangkan melihat mereka penuh semangat berkarya. Kepada mereka saya hadiahkan dua buku karya saya yang terbit di tahun 2026. Bukan buku istimewa. Sekadar merangkum catatan demi catatan yang barangkali ada manfaatnya.

 

Tulungagung, 16-10-2026

1 komentar:

  1. Terima kasih dukungannya menjadi energi positif untuk kami.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.